Masyarakat dan Fenomena

by nuzuli ziadatun ni'mah


Okey, Tukangsotoy kembali menulis tentang pengalaman-pengalaman yang entah. Dan kali ini saya akan membahas tentang fenomena kemasyarakatan yang sudah jelas terpampang di depan kita (terutama saya menyoroti tentang umat Muslim).

Jadi suatu ketika sebelumnya, saya telah membaca sebuah artikel yang hebat, karena ternyata artikel itu juga sesuai dengan apa yang selama ini saya pikirkan tentang salah satu fenomena kemasyarakatan. Sedikit lebih berat dari cerita sepele saya sebelumnya memang. Tapi tulisan ini sudah begitu lama mengendap di pikiran saya, dan saya rasa patut untuk diungkapkan sekarang.

Jadi, fenomena yang selama ini saya lihat adalah sebuah pencitraan beberapa tokoh orang yang menurut saya kejam. Kenapa? Karena memang begitulah kejadiannya.

Selama puasa, atau di banyak acara bertemakan agama, banyak ulama atau ustadz yang berceramah kepada umat Muslim seluruh negeri ini tentang masalah klasik masyarakat, kemiskinan. Banyak yang membahas bahwa Allah mendengar doa hambanya dan dengan–istilahnya–mengikuti kata-kata ustadz itu, mungkin doa mereka akan dikabulkan. Begitulah sekiranya yang saya tangkap dari figur-figur gemerlap di televisi itu.

Sedangkan yang terjadi sesungguhnya?

Terkadang kekejaman itu hanya bisa dilihat setelah begitu dekat. Kenyataannya, kemiskinan tetap melanda mereka, sementara para ustadz itu hidup bergelimangan harta. Sibuk membicarakan tentang masyarakat dan hidup sederhana. Tapi mereka bahkan tidak pernah lepas dari mobil mereka yang harganya milyaran–mungkin. Tidak pernah terlihat memakai baju yang sama di setiap acara televisi setiap saat mereka tampil. Dan yang paling miris, selalu menerima honor ceramah selangit.

Bayangkan. Menerima honor! Sungguhkah seperti itu yang diajarkan? Menjual ilmu agama, seakan-akan ilmu agama hanyalah barang dagangan yang sewaktu-waktu harganya bisa melonjak naik tanpa sebab.

Oke, mungkin memang itulah ‘kesuksesan’ yang mereka raih dengan perjuangan panjang nan terjal. Namun dengan cara mereka membicarakan tentang hidup sederhana, tidakkah mereka terdengar seperti tukang lawak? Karena mereka bahkan tidak menunjukkan kata-katanya dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Meski mungkin saya salah tentang ini, tapi inilah yang saya pikirkan selama ini tentang acara-acara ceramah di televisi. Saya begitu tidak suka melihatnya. Merasa risih dan sejenisnya.

Saya lebih suka mendengar warga-warga di desa saya menjelaskan tentang Islam dengan cara sederhana yang sesungguhnya. Memberikan pengertian sesuai dengan yang kami rasakan secara nyata, bukan hanya sebuah gambaran yang tidak tentu. Saya akan lebih suka mendengar kata-kata yang diucapkan tanpa perlu memberikan nada penekanan sambil berusaha keras meneteskan air mata di depan publik. Itu justru sering membuat saya merasa terganggu, dan tidak iba sama sekali.

Maka begitulah kehidupan di sekitar kita. Apa yang terlihat di televisi hanya sebuah slogan kasar yang ditulis besar-besar “TELL LIE VISION” yang entah karena rabun atau bagaimana menjadi terbaca television.

Saya sering merasa sangat bersyukur, berada di lingkungan desa yang jujur. Mengajarkan ilmu ke-Tuhan-an itu sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah. Sedang banyak orang di luar sana yang hanya bisa melihat dengan tidak mengerti ke televisi dengan kebohongan-kebohongannya. Ah, betapa semakin tidak terarah saja acara-acara di sana.

Dan tanpa bermaksud melecehkan atau bagaimana, saya hanya menyoroti yang ada. Mungkin ini bisa membuat kita lebih sadar lingkungan. Lebih sadar dengan apa yang sering dikaburkan oleh pandangan kita yang terbatas.

nuzulizn