Self Dialogue

by nuzuli ziadatun ni'mah


Menurut Plato, dialog itu adalah hal yang paling menakjubkan, hingga ia hanya percaya untuk menulis setiap gagasannya melalui dialog, bukan dengan prosa atau narasi semata. Karena ia percaya, seperti gurunya–Socrates–bahwa anugerah terbesar manusia adalah dialog yang mereka cipta.

A: Menurutmu, kenapa aku hidup? Apa itu hidup?

B: Mungkin karena memang seharusnya begitu

A: Maksudku, apa itu yang disebut hidup? Kadang-kadang karena yang ada hanya seorang aku, aku merasa akulah yang memiliki dunia ini, bisa melakukan apa saja dengannya, karena aku melihat dengan mata seorang aku. Tapi nyatanya aku bisa mati, berarti ada yang sedang mengendalikan aku? Siapa orang ini?

B: Aku pun tidak tahu. Tapi apa yang seharusnya kamu rasakan aku pun juga mengerti. Sayangnya aku tidak penah memikirkan hal itu. Aku ada, dan karena itu hanya itu yang menjadi penting untukku.

A: Tidak pernahkah kau mempertanyakan dari mana kamu berasal? Dan kemana nantinya kamu akan bermuara?

B: Tidak. yang penting aku hidup, ada, dan bisa melihat dunia. Karena ada di dunia ini menjadi penting untukku sekarang, maka aku tidak perlu mempertanyakan yang tidak ada. Untuk apa?

A: Lalu menurutmu untuk apa kita hidup?

B: Mungkin kita hanya sebuah spesimen yang sedang diamati. Sedang mencari mana yang ideal dan mana yang gagal. Kita hanya perlu menjalani saja. Menemukan jawaban bukan tugas kita.

A: Tidak, itu masih tetap menjadi tugas kita. Aku tidak mau menyerahkan hidupku hanya untuk menjadi spesimen belaka.

B: Lalu apa? Kita bisa sakit, bisa terluka, bisa hidup. Kita mortal, ingat?

A: Tapi aku lah yang tahu apa yang ada di dalam diriku.

B: Kau salah. Yang kau tahu tidak lebih dari kenyataan bahwa kau hidup. Yang terjadi di dalam tubuhmu pun tidak kamu pahami, jadi berhentilah berpura-pura kamu tahu. Kita tidak tahu apa-apa.

A: Tapi, lalu untuk apa kita punya ilmu?

B: Itu hanya berguna untuk mendukung fungsi kita sebagai spesimen. Jika kita tidak tahu apa-apa, tidak ada gunanya kita hidup. Nyatanya banyak yang dibiarkan mati karena kebodohan. Kita bertahan hidup untuk dilihat bagaimana spesimen-spesimen ini menjalani takdirnya.

A: Aku masih tidak mengerti. Bagaimana kau bisa meyakini semua itu?

B: Siapa bilang aku meyakini? Aku tidak pernah percaya pada siapapun, kecuali yang akhirnya menjadi kenyataan. Maka dari itu aku bertahan dengan hidupku. Karena sampai sekarang aku masih tetap ada. Tapi tidak kah kau mengerti? Aku selalu membiarkan diriku ada, tidak menentang, tidak mendebat.

A: Jadi mungkin benar. Kita hanya spesimen yang bahkan tidak bisa mengendalikan diri. Mungkin seharusnya manusia menghilangkan kata ‘kebebasan’ dari daftar kata yang mereka miliki.

B: Tidak, justru seharusnya manusia bersyukur kata itu ada. Jika tidak, kau tidak akan bertanya selamanya. Dan dialog ini tidak akan pernah ada.

(sejenak terdiam, sepertinya gagasan ini jadi semakin mendalam dan tidak saya mengerti)

Oke, mungkin saya akhiri sejenak, hingga saya paham dengan apa yang sedang otak saya perdebatkan. Mungkin kalian bertanya-tanya di antara dua tokoh itu yang manakah saya? Saya pun tidak tahu. Seakan dalam ketidaksadaran saya menulisnya dan akhirnya tidak mengenali bagian mana dalam diri saya yang sedang menulis. Mungkin diri saya yang gila?

nuzulizn