Kampus, Kampus

by nuzuli ziadatun ni'mah


Well then, mari mulai dengan ‘suatu ketika’, dua kata yang sangat saya suka karena bisa menjadi sebuah awal cerita yang entah.

Jadi begitulah, suatu ketika, jika saya merunut lagi kehidupan perkampusan saya sepertinya saya orang yang cukup labil, atau mungkin bisa dibilang galau. Kenapa?

Karena ya, saya orang yang hanya bisa menyukai tempat-tempat tertentu saja dengan kadar yang sering menjadi berlebihan.

Baginilah sejarah perkuliahan saya:

Semester 1: Kampus Arsitektur

Semester 2-4: Sekretariat SATU BUMI

Semester 5? Seems like I’ll spend so much time at Architecture Department, again…

Saya sering merasa galau untuk memilih antara kampus sendiri atau malah Sekretariat SATU BUMI. Padahal dulu sekali saat saya hanya seorang mahasiswa baru, saya begitu cinta pada kampus tua itu. Tapi mengapa? Mengapa? (Ah, sudah mulai gila) Tiba-tiba di semester kedua saya memutuskan untuk berpaling ke Sekretariat Satub yang lebih berantakan, lebih kumuh, lebih-lebih yang lain lah.

Ah, mari sejenak kembali ke masa lalu. Saya akan menganalisa penyebabnya.

Jadi mungkin dimulai sejak kedatangan saya yang disambut pidato dekan yang panjang lebar ke kampus tua ini, akhirnya saya resmi menjadi mahasiswi Arsitektur UGM. Bangga? Yah, ketika itu cukup bangga. Lalu, bagaimana sejarah itu saya jalani?

Bermula dari melihat kehidupan kakak saya yang serba kampus banget, saya pun menjadi cukup tertarik dengan kehidupan kampus. Mungkin salah saya karena bertaruh, akhirnya saya terpikat untuk menetap di kampus dengan alasan-alasan kuliah pada awalnya. Tapi kok ternyata jadi menyeleweng? Hingga tanpa sadar saya jadi sering nginep di kampus, bahkan MANDI di kampus. Oh wow, itu tampaknya sesuatu banget pada awalnya, terutama karena masalah gender masih menjadi topik yang hangat di mana pun. Tapi itu masih di kampus Arsi.

Nah, kemudian akhirnya sesuatu terjadi setelah saya bergabung dengan Satub. Mapala sih katanya, tapi kepanjangannya Mahasiswa Penggiat Alam, bukan Pecinta. Oke, jadi setelah masuk Satub, saya beberapa kali sempat main kesana, hingga suatu hari terjadilah insiden, yang nggak akan saya ceritakan di sini. Tapi, at the end teman sekontrakan saya bilang kalo mau pindah, ke kosan temennya yang lebih dekat. Dan saya pun menjadi galau hebat.

Mungkin, itu awal saya memulai hidup di kampus lebih intens dari yang saya kira, karena ya, saya kemudian mulai menginap di kampus, lagi dan lagi. Hingga tanpa disadari saya mulai berpindah hati dari kampus Arsi ke Sekretariat Satub. Dan di sini lah saya berada. Tanpa sadar juga, saya mulai tidur, mandi, berkegiatan, mengerjakan tugas, berlatih main gitar, membuat kopi, apapun saya lakukan di tempat itu. Dan tinggallah saya di sana, hampir 3 semester lamanya. Wow sekali bukan? Hidup di antara anggota-anggota lain yang entah. Yang selalu berganti-ganti setiap saat tanpa disadari.

Saya begitu suka berada di sana, melihat bagaimana hidup orang lain berganti dari satu ke yang lainnya. Orang-orang dengan pemikiran hebat. Konseptor, orator, ahli debat, eksekutor, apapun, selalu bisa saya temukan. Tempat itu penuh dengan ‘keajaiban’ duniawi. Begitu banyak perbedaan yang menjadikan tempat itu begitu berwarna. Selalu tidak pernah kehabisan topik untuk dibahas, gosip untuk digulirkan, tempat untuk dijelajahi, ide untuk direalisasikan, teori untuk diperdebatkan, dan lain-lain-lainnya.

Ya, itu sekilas hidup saya di Satub. Namun yang ingin saya bahas di sini bukan hanya tentang Satub-nya, tapi tentang KAMPUS.

Beberapa jam yang lalu kampus saya baru saja menyelesaikan OSPEKnya, yang semakin nggak jelas (menurut kami) dari tahun ke tahun. Mereka kan baru masuk, jadi mungkin memang pemikiran tentang kampus adalah seputaran akademik, IP, tugas, dan organisasi paling digandrungi mahasiswa baru: BEM. Tapi lalu apa yang ingin didapat dari sebuah kehidupan kampus sebenarnya? Itu akan selalu menjadi perubahan yang indah untuk setiap orangnya.

Nah, yang ingin saya bicarakan di sini adalah, bagaimana menjadikan kampus itu tempat yang lebih nyaman dari kosan, dari mall, atau dari tempat-tempat yang lebih menyita waktu. Kenapa? Karena jelas, kampus akan menjadi tempat hidup selama minimal 4 tahun lamanya. Dan jika nggak bisa mencintai kampus, lalu kehidupan itu tidak akan lagi menyenangkan. Mungkin itu fenomena yang sering terjadi di kampus. Karena merasa tidak bahagia di kampus, lalu lebih memilih keluar, ketergantungan, lalu bolos kuliah, IP jelek, terpuruk.

Bagi saya, bisa mencintai kampus itu menjadi hal yang sangat penting. Tidak perlu mencintai bagian yang sama dari sebuah kampus, tapi temukan yang paling menarik untukmu, lalu cintai itu. Mungkin dengan begitu kehidupan kampusmu akan menjadi jauh lebih menyenangkan.

Nah, saya bukannya sedang promosi untuk beramai-ramai masuk Mapala, atau mungkin organisasi lainnya, tapi itu tentunya akan menjadi sarana yang sangat mendukung kehidupan kampusmu. Tahukan kenapa mahasiswa disebut demikian? Karena mereka bukan hanya siswa, tapi yang maha dari itu. Multi tasking mungkin akan menjadi impian semua orang. Berkegiatan di luar jam kuliah dengan IPK memuaskan akan lebih dihargai ketimbang hidup 4 tahun di kursi kampus, belajar di kosan terus, cum laude tapi tanpa kegiatan di luar kuliah.

Jadi ya, cintailah kampusmu dengan berkegiatan di luar pelajaran. Duduklah sesekali, atau sering di taman depan kelas, menggoda cewek-cewek yang lewat, menggosip tentang kakak angkatan yang keren, naik gunung, ke goa, ngarung, atau manjat sesekali. Jangan takut untuk berkegiatan di alam.

Karena asal kalian tau saja, naik gunung nggak mempengaruhi IPK kok. Itu kan tergantung seberapa niatmu untuk memenuhi obsesi diri akan hobi dan nilai.

nuzulizn