November Rain

by nuzuli ziadatun ni'mah


Katanya kalau hujan turun manusia jadi romantis, atau mungkin sekarang yang lebih sering disebut ‘galau’ oleh banyak orang. Well, apapun lah terserah apa namanya. Yang pasti, itu sedang terjadi pada saya.

Mungkin sebelumnya lebih mudah untuk saya mengucapkan ‘halo’ setelah sekian lama tidak menulis. Yah, beginilah keadaan saya sekarang; entah.

Saya sedang berencana mengakhirin ketidakjelasan hidup saya selama beberapa hari terakhir ini di hari ini. Semoga saja niat ini akan berhasil saya laksanakan segera setelah hari ini berakhir, yah sekitaran 1,5 jam lagi lah ya. Maaf ya teman-teman kampus yang udah saya lupakan selama 10 hari terakhir. Tidak peduli pada apapun juga kecuali apa yang ada di pikiran saya.

Well then, saya rasa stagnasi saya masih terus berlanjut. Hanya saja saya sedang tidak ingin berpikir untuk melanjutkan ini. Saya rasa saya mulai tidak jelas. Ya, saya butuh pegangan. Ternyata saya masih butuh orang yang bisa mendorong dan menyuruh saya melakukan ini itu.

Selepas bulan Oktober, hujan turun membawa banyak hal untuk saya. ‘Kegalauan’ yang saya rasakan juga termasuk salah satunya. Itu bukan jenis ‘galau’ yang biasa. Bahkan saya juga tidak berhasil mendefinisikannya dengan tepat selama beberapa minggu terakhir ini. Saya sering merasa kosong, melihat ke sesuatu tanpa memikirkan apapun. Sering merasa ada yang salah dengan diri saya. Tapi apa?? Saya pun tidak bisa menemukan di bagian mana dari diri saya yang sedang cacat.

Ah lelah. Lagi-lagi saya mengeluh tentang diri sendiri. Bagaimana pun saya berusaha untuk tidak memikirkannya, saya akhirnya tetap memikirkan itu saat sedang sendiri. Saya butuh kesibukan selain kuliah yang bisa mengalihkan perhatian saya.

Cukup sudah keluh kesah ini. Ini tidak pantas untuk kalian baca. Sayangnya saya sedang merasa butuh menuliskannya agar saya tidak selalu kepikiran. Maafkan atas gangguan ini. Berbahagialah kalian yang bisa bahagia dengan duduk di ruang kelas dan belajar.