Batu Kapur. Tali. Magnesium. Kopi.

by nuzuli ziadatun ni'mah


Lanjut ke cerita berikutnya di minggu ini.

Jeda dua hari yang menyenangkan membuat saya menghabiskan hari hanya dengan main-main laptop, mendengarkan musik, dan bersih-bersih sekretariat. Lalu datanglah sebuah tawaran menggembirakan dari 2 orang manusia yang keranjingan main, membicarakan tentang Songtawing.

Dan Kak Neno, sebagai satu-satunya tamu yang masih tinggal di sekre kami akhirnya mengajak saya untuk ikut serta. Well then, we are ready to go.

Keributan pagi itu dimulai dengan kesulitan mencari moda transportasi untuk dibawa ke tebing. Maklum SATUB sedang mulai krisis kendaraan bermotor untuk bepergian. Alhasil lagi-lagi rencara pergi jam 6  jadi mundur ke jam 8 pagi. It’s okey then.

Perjalanan ke Jomblang bukan perjalanan pendek sebenarnya, tapi apa daya, dari awal Yanti sudah mewanti-wanti untuk jalan sendiri, akhirnya saya terima dengan lapangdada dan saya naik motor sendiri. Well then, perjalanan cukup menyenangkan dan kami makan pagi di jalan. Sampai di lokasi sekitaran pukul 12 siang, yang lalu kami menghabiskan 2 jam pertama dengan membaca, bercerita, makan siang, dan tiduran. Memang kami bukan mapala yang serius, meski kami tetap mencintai pekerjaan yang kami buat sendiri.

Singkat cerita, kami akhirnya memutuskan untuk manjat sekitar pukul 3. Alat kami instal dan mulailah bibit penyakit flu mulai mendera saya. Alhasil, saya memutuskan menghabiskan menit-menit pertama untuk mengasihani diri dan tiduran. Hingga Mat Massu datang dan saya merasa terpanggil untuk mendekati tebing.

Memanjat tebing, tidak akan pernah sama dengan hanya memanjat tripleks. Memanjat tebing akan lebih dan lebih ketimbang hanya memanjat poin-poin pasti, karena di sana selalu ada kejutan yang menyenangkan. Tidak bisa begitu saja tahu tanpa diraba, tidak bisa begitu saja percaya tanpa dicoba, tidak bisa begitu saja memanjat dengan teori-teori, namun dengan hati. Maka saya tidak akan menyia-nyiakan siang itu hanya untuk duduk dan menonton. Bercerita dan bercanda langsung dengan tebing lebih menenangkan ketimbang sekedar memandanginya dalam diam.

Itu kali ke tiga saya manjat di tebing. Seperti kata senior-senior saya, itulah memanjat yang sesungguhnya. Yang sayang sekali tidak bisa saya selesaikan sampai runner terakhir. Tapi wait, apalah arti mencapai puncak jika kita tidak menikmati proses perjalanannya? Maka akan lebih berarti jika saya menikmati setiap inci kenaikan ketinggian yang saya lakukan daripada obsesi menyentuh titik puncak tanpa bisa memaknai proses. Indah bukan perjuangan itu?

Nah, mari saya jelaskan lokasi tebing ini berada, dan sayang sekali karena tidak ada foto langsungnya. Karst tidak boleh secara bebas dipublikasikan.

Jadi beginilah keadaannya;

Tebing ini sebenarnya pintu masuk ke sebuah Goa, entah apa namanya, saya tidak terlalu tahu. Yang saya tahu, saat saya melihat mulut Goanya, saya hanya bisa berdecak kagum. Goa itu, bagaimanapun begitu menyenangkan untuk menjadi tempat merenungi diri, untuk berpikir lebih jernih, dan berimajinasi lebih tinggi. Kami ada di bawah naungan lengkung mulut Goa kira-kira setinggi 35 meter, dan karena begitu indahnya saya sampai tidak bisa berhenti untuk melihat ke atas dan ke bawah. Ke seluruh bagian mulut Goa. Udaranya yang segar membuat saya ingin segera kembali ke sana, dan memanjat lagi. Atau akan sangat menyenangkan jika bisa menyusuri Goa-nya.

Well, kembali ke cerita pemanjatannya, saya akhirnya berhasil mencoba jalur itu 2 kali. Dan sayangnya hampir mencederai bellayer saya.

Dalam perjalanan pulang malam itu, saya kepikiran tentang beberapa hal penting yang cukup mempengaruhi hidup saya. Tapi saya tidak akan bercerita di sini, sedikitpun. Biarkan rahasia itu saya simpan baik-baik sampai saatnya nanti jika memang butuh diungkapkan. Yang jelas, itu sangat penting untuk saya. Sekedar info, saya akhirnya benar-benar sakit saat sampai di sekret, dan hanya terkapar hingga esok harinya.

Lalu cerita tahun ini hanya bisa saya tutup dengan cerita tentang km 0, tarian papua, dan kue tetek. Yang ini cerita tentang hiburan malam kami ke km 0 2 hari yang lalu setelah pergi makan malam di sebuah warung makan enak di Jogja. Tidak berbeda dengan perjalanan menyenangkan ke km 0, perjalanan yang ini juga menyisakan kenangan tentang malam-malam di Jogja.

Kami datang dengan waktu yang berbeda dan memilih untuk memarkir kendaraan di tempat yang kami lihat pertama kali. Tidak masalah, kami masih tetap bisa bersama menikmati malam itu. Tidak terlalu istimewa memang, tapi saya akui menyenangkan. Nonton pertunjukan musik, ngobrol, iseng baca relief di Tugu Serangan 1 Maret, lalu ikut menari tarian Papua yang dipentaskan mahasiswa-mahasiswa. Tertawa-tawa, bercerita, lalu berdebat tentang cemilan tradisional. Membicarakan tentang gudeg, kue apem, tiwul, tahu, dan akhirnya kue tetek. Sebuah teka-teki kue yang dengan mudahnya saya pecahkan tanpa sengaja esok harinya saat kepo Instagram-nya Dwi Lestari. Ah, indah.

Ah, saya hampir lupa menambahkan tentang cerita bersih-bersih taman belakang kami yang sebelumnya penuh dengan sampah. Hari nganggur itu kami isi dengan bersih-bersih halaman, serius, lama, kerja keras. Kami bahkan membuat jogangan yang kalo dalam bahasa Indonesia artinya lubang sampah, yang dikhususkan untuk bakar sampah dan buang sampah organik. Seharian kerja keras itu memberikan hasil nyata. Halaman belakang yang rapi, badan yang capek, perut kelaparan, senyuman puas, dan keringat serta bau tanah.

Lalu malam ini?

Saya hanya bisa dan hanya ingin duduk di sini. Tidak masalah sendiri, meski di luar sana manusia berjejalanan mencari jalan menuju keramaian. Saya senang hanya dengan laptop, tulisan-tulisan, i tunes, lagu, tugas, dan hujan.

nuzulizn