Time to Sleep

by nuzuli ziadatun ni'mah


Wow, saya posting 2 sekaligus di pagi buta ini.

Oke, akan saya ceritakan kesibukan kecil saya pagi ini sebelum menulis. Setelah saya post tulisan beberapa menit lalu, akhirnya saya tergoda buat kepo orang-orang yang saya link blognya, dan hasilnya, jeng-jeng-jeng, SERU! Mereka punya banyak cerita untuk diketik dan dibaca. Untuk ditertawakan dan dikagumi, lalu diceritakan kembali ke orang lain.

Well, saya juga akhirnya jadi berhasrat buat menulis lagi, dan yang ini adalah dongeng sebelum tidur karena ini sudah hampir jam 3 pagi. Tapi dimana saya sekarang?

Seperti hari-hari lain, saya tetap setia ngejogrog di depan Sekretariat SATU BUMI.

Ah, mari saya ceritakan hal-hal menarik yang terjadi pada saya beberapa hari terakhir ini. Mau mulai dari mana?

Dimulai dari kesibukan saya minggu lalu, yaitu naik gunung bareng mas Cecep, seorang senior saya di SATU BUMI. Sebenarnya naik gunung yang ini adalah pemenuhan obsesi setelah minggu sebelumnya gagal naik gunung via jalur baru yang sebelumnya belum pernah dilewati sama anak-anak. Alhasil, berhubung lagi ada yang ngajakin, akhirnya anak-anak dengan senang hati mengumpulkan masa, packing, dan bersiap diri. Lebih-lebih karena dapet iming-iming bakal ada air terjun di jalan nanti. Ah, kita lihat saja gimana kelanjutan ceritanya.

Perjalanan kami dimulai pukul 10 setelah malam sebelumnya yakin dengan seyakin-yakinnya jika bakal berangkat jam 6 pagi. Ah, tapi namanya juga anak SATUB, itu sudah wajar terjadi, dan kami tidak pernah mempermasalahkannya. Keberangkatan kami termasuk biasa saja dengan pasangan naik motor yang juga sudah sesuai. Hanya saja ternyata motornya tidak sedang dalam kondisi yang cukup prima. Tapi biarlah, itu belum menjadi masalah.

Pukul 11.30 kami sampai di perbatasan Boyolali dan bermaksud makan siang. Di sinilah kami mulai tersesat dan akhirnya harus tanya sana sini untuk ke tujuan berikutnya. Namun, selepas makan siang, ternyata mas Cecep punya ide yang lebih brilian, yaitu nanya di smartphone-nya gimana rute terdekat ke desa basecamp. Alhasil, manusia-manusia yang belum pernah tahu teknologi gps sebelumnya langsung percaya begitu saja dan ‘suggest the shortest way’. Maka berangkatlah kami menuju basecamp dengan senang hati.

30 menit pertama kami masih melewati jalan utama yang normal dan tidak aneh-aneh. Memasuki 30 menit berikutnya motor paling depan mulai melewati jalan-jalan perumahan, keluar masuk jalan utama dengan tidak teratur. Dan yang lain tidak tahu sedang diarahkan kemana. Kami tetap ngikut aja. 30 menit ketiga mulai masuk jalan desa, dan sampai akhirnya lewat pekarangan depan rumah orang.

Wow, udah mulai nggak normal.

Sampai akhirnya kami dihadapkan pada tanjakan jalan tanah setinggi 7 meter.

O-o, ini udah mulai nggak waras gps-nya.

Sebagai manusia normal kami pun memutuskan mencari jalur lain yang lebih manusiawi. Kami masuk lagi ke jalan besar, lalu masuk jalan desa, keluar jalan besar, naik ke kampung-kampung, dan hal yang luar biasa tidak wajar terjadilah. Kami ber-8 melintas di depan rumah warga menuju ke tanjakan super curam dan tinggi yang ujungnya langsung jalan tanah. Begitu kami melintas semua warga desa keluar rumah, melihat kami menuju tanjakan itu. Hebatnya, jalan itu menuju jalan ladang selebar jalan setapak dan berkelok-kelok. Begitu kacaunya saat itu sampai kami terpisah-pisah akibat kemampuan motor yang timpang, dan bahkan harus berdebat tentang arah jalan ditengah guyuran hujan lebat.

Begitu berbelok ternyata kami masuk lagi ke jalan besar, dan wow, langsung mampir ke orang warga yang tidak dikenal. Sungguh, betapa baik warga desa di semua tempa outdoor. Thank God, there’s still a person like her.

Kami akhirnya dipersilahkan neduh dulu disana selama beberapa menit. Dapat teh manis dan tumpangan shalat dan moment melepas tawa. Saat itu perjalanan sudah 2 jam berlalu sejak makan siang, sudah terlampau lama. Maka begitu hujan reda kami memutuskan untuk pergi dengan sebelumnya berbisik-bisik tentang gps yang tidak bisa dipercaya. Untunglah jalan setelahnya lebih manusiawi dan kami bisa lebih lega dan tersenyum puas.

Belum lama kami bahagia, sampai kami akhirnya bertemu dengan tanjakan cinta berupa jalan makadam hampir 1 km jauhnya dari basecamp. Sejak di meter pertama kami sudah ragu pada motor yang kami tumpang. Akhirnya satu per satu dari kami turun dan berjalan, lama, lama, dan lama. Pada akhirnya semua berjalan kaki, tapi sungguh, saat menengok ke belakang hanya saya yang masih tetap membawa beban. Damn. Pada akhirnya jemputan datang 50 meter sebelum basecamp, tapi itu cukup membuat saya lega.

Pukul 3 sore, kami memutuskan untuk langsung naik, dan saat itu juga saya menyesali diri. Ternyata jalur ini bukan hanya ke basecampnya yang tanjakan cinta, sampai puncak gunungnya pun demikian. Maka hingga esok harinya, meter demi meter, tikungan demi tikungan isinya hanya tanjakan, tanjakan, dan tanjakan. Hingga rasa-rasanya hampir phobia dengan tanjakan.

Singkat cerita, tanjakan cinta itu bertahan sampai puncak, dan kami bahkan tidak merasa bahagia waktu turun, karena sakit dengkul lebih parah dari sakit betis waktu naik. Tapi kabar baiknya, pendakian itu membuat saya menghargai satu dan lain hal yang tidak bisa saya ceritakan.

Nah, ini beberapa oleh-oleh foto hasil jepretan senior saya, karena dia satu-satunya yang bawa kamera.

foto kami yang muncak *oya, ini merbabu

foto kami yang muncak *oya, ini merbabu

turunan tiada henti *mana ujung jalannya??

turunan tiada henti *mana ujung jalannya??

perjalanan naik. orientasi medan. mana air terjunnya?

perjalanan naik. orientasi medan. mana air terjunnya?

tim pendakian, minus foografernya

tim pendakian, minus foografernya

7 begundal. keren.

7 begundal. keren.

Dan kami merasa begitu keren saat akhirnya melakukan perjalanan turun. Begitu berharap ada yang meneriaki jika kami salah jalan, lalu kami akan menjawab sambil tertawa. Ah, perjalanan panjang yang menyenangkan. Meninggalkan kesibukan dunia.

Well then, 2 hari setelahnya orang-orang berencana naik merapi dan dengan berat hati setelah sebelumnya sangat ingin ikut, akhirnya terpaksa membatalkan karena kaki tak sanggup menopang badan.

Sebenarnya masih ada cerita ke Songtawing *atau entah gimana nulisnya* dan acara beres-beres halaman belakang, yang sedang diusahakan untuk jadi taman. Tapi akan saya simpan untuk dongeng esok hari, karena sudah saatnya saya pergi ke peraduan. Selamat pagi, and have a nice day.

nuzulizn