Tanda Tanya

by nuzuli ziadatun ni'mah


Hidup rukun antar umat beragama. Menurut kalian bagaimana itu seharusnya disikapi? Bagaimana sebuah arti kata rukun itu ditelaah, dimengerti, direnungkan, dan dilaksanakan dalan kehidupan sehari-hari?

Well, pada kenyataannya tidak banyak orang yang bisa mengaplikasikan arti kata rukun ke dalam hidup mereka masing-masing. Apalagi yang berhubungan dengan agama.

Jujur saja, saya sudah cukup bosan membaca dan membahas topik ini terlebih karena tidak sedikit orang yang pernah mengangkat topik ini secara serius di media mana pun. Karena itu entah bagaimana nanti tulisan ini akan saya rangkai, yang pasti ini tidak akan memiliki terlalu banyak perbedaan dengan tulisan-tulisan yang pernah ada.

Agama, setahu saya waktu saya masih SD berarti a=tidak dan gama=kacau. Entah itu benar atau tidak, saya tidak pernah berusaha untuk meyakinkan diri saya tentang kebenaran statement itu. Karena apapun, itu yang cukup saya yakini, dan tidak pernah merugikan saya dalam menjalani kehidupan.

Sedangkan menurut KBBI offline yang saya punya, agama berarti sebuah sistem yang mengatur tata kehidupan antara Tuhan dan manusia, sesama manusia, dan manusia dengan alam.

Dan itu sesuai dengan konsep Islam, hablu minnaallah, hablu minnannas, dan hablu min ‘alamin. Sebuah rangkaian sederhana yang tidak perlu dipertanyakan lebih dalam, karena sebenarnya hanya itu yang kita perlukan dalam menjalani hidup kita masing-masing.

Hidup bersama dengan Tuhan.

Dalam hal ini, mungkin akan ada banyak perbedaan dalam menjelaskan konsepsi Tuhan. Karena saya juga tidak bisa menjelaskan dengan yakin apa yang ingin saya bahas tentang Wujud ini. Namun tanpa bermaksud untuk ramai-ramai mempertanyakan Tuhan kita masing-masing, saya hanya ingin kita tetap saling yakin dengan apa yang sebelumnya sudah kita yakini bersama.

Tuhan, pada dasarnya adalah Sesuatu yang mengatur kehidupan kita. Tapi seberapa besar perannya dalam kehidupan ini? Apakah Ia hanya sekedar menciptakan lalu membiarkannya hancur, atau justru merawat dan mengeceknya setiap kala waktu tertentu, atau seperti hidup kami di SATU BUMI, ketika bersih menikmati dan saat kotor baru akan dibersihkan kembali? Entahlah, saya sedang tidak ingin berusaha untuk meyakinkan diri saya sendiri yang mana yang ingin saya percayai.

Namun, konsepsi Tuhan ini bagaimanapun cukup membebani saya, dan untunglah saya tidak perlu menceritakan atau berbagi tentang hal ini kepada siapapun di dunia ini kecuali pikiran dan hati saya sendiri. Pemikiran dan pengalaman saya dengan orang-orang di sekitar saya dan obrolan tentang ini telah berlangsung lama. Dan selalu hanya berakhir dengan sharing saja dan bukannnya sebuah kesimpulan. Karena teman, tidak akan pernah ada kesimpulan tentang Tuhan kecuali di hati kita masing-masing.

Well well, tentang statement kedua yang berhubungan dengan hubungan antar sesama manusia.

Menurut saya, entah bagaimana setiap pencapaian hidup adalah pada tahap ini, tahap yang menurut saya paling susah dibanding dengan tahap apapun. Karena mungkin, meskipun manusia tidak bisa mempercayai Tuhan, tidak bisa membiarkan alam berkembang dengan baik, ia masih akan tetap hidup dengan damai bersama dirinya sendiri. Sedangkan manusia yang tidak bisa hidup berdampingan dengan manusia lain adalah kasus yang akut, yang penanganannya akan membutuhkan beragam penyembuh.

Ah, jika membicarakan tentang hubungan sesama manusia, entah bagaimana seperti membicarakan hidup itu sendiri.

Saya suka konsep sebuah agama yang tidak akan saya sebutkan, tentang apa itu hidup, apa itu menghidupi diri sendiri, dan bagaimana cara kita menjalani hidup. Menurut saya, yang juga dipengaruhi oleh statement teman saya, ‘agama’ yang ini bukanlah agama. Ia seperti sebuah ‘cara’ untuk menjalani hidup (dan maafkan saya karena cukup lancang membicarakan ini). Karena yang dikejar bukanlah sebuah puncak gunung, melainkan keindahan yang didapat dengan naik gunung.

Mungkin sedikit mengerikan, terutama untuk saya sendiri, jika saya katakan bahwa dalam kehidupan non konseptual, saya lebih memilih menikmati perjalanan untuk mencari keindahan ketimbang mencapai sebuah puncak gunung. But yeah, jangan anggap yang barusan ini sebagai sebuah pengakuan tentang saya dan Tuhan.

Pada kenyataannya, manusia yang hidup dengan prinsip agama itu, menjadi lebih ‘damai’ ketimbang mereka yang memperdebatkan agama, atau mungkin lebih tepat jika disebut membawa-bawa agama dalam konflik yang mereka buat sendiri. Entah benar atau meleset, yang saya tahu dalam agama itu, yang dicapai adalah diri sendiri, ilmu kedamaian, ilmu keseimbangan, ilmu hidup dengan tenang, ilmu pencerahan. Segala sesuatu yang akan membawa kita pada kenikmatan hidup bersama dengan kedamaian.

Mungkin seharusnya setiap manusia mencari hal yang serupa di dalam hidup mereka. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan agama kini menjadi batasan kita masing-masing dalam menjalani hidup. Tapi mari tidak terjebak dengan ini dan itu. Tidak perlu berdebat tentang agama mana yang benar. Pada dasarnya agama hanya sesuatu yang ada di KTP. Hati kita lah yang akan menunjukkan dengan jujur apa yang kita pilih untuk membimbing kita dalam menjalani hidup.

Yang perlu kita yakini hanya satu, hidup sebagai manusia dan memanusiakan manusia lain. Bukan dengan diskriminasi atau mengelompokkan diri.

Dulu saya tidak pernah tahu bagaimana hidup antar umat beragama yang sesungguhnya, namun belakangan kehidupan yang sedang saya jalani mengajarkan saya banyak hal. Bagaimana hidup antar umat beragama itu seharusnya dimaknai dengan garis tebal sebagai ‘hidup damai dengan manusia lain’. Dengan begitu, bukankah tidak perlu tahu agamanya? Kita hannya butuh menghormati kegiatannya, dirinya, pribadinya, pandangannya, tujuan hidupnya, dan yang pasti dirinya sendiri sebagai manusia.

Sudah banyak kampanye tentang hidup rukun di Indonesia ini. Hanya terkadang tidak banyak telinga yang mendengar tentang hal-hal seindah itu. Ah, sayang sekali….

Tapi biarlah. Semakin tidak mudah akan semakin berarti suatu perjuangan itu.

nuzulizn