Semut Semut Kecil

by nuzuli ziadatun ni'mah


Suatu dari dahulu kala, entah kapan itu, saya sering bertanya-tanya tentang kehidupan semut.

Bersama-sama, bekerja sama, bertemu dan menyapa, menghormati, melindungi, peduli pada yang lain.

Suatu ketika, saya pernah memperhatikan bagaimana semut saling bertegur sapa dengan semut yang lain. Lalu kemudian kagum pada film ‘Ants’ yang menggambarkan hidup semut. Mereka itu keren, dalam artian yang sesuai dengan persepsi dalam pikiran saya (tak perlu saya jelaskan ya).

Bahkan pada suatu masa dulu, saya pernah berkeinginan menjadi kecil, menjadi makhluk mini dan berpetualang di dunia ini dalam bentuk kecil. Jadi saya tidak perlu mempertanyakan lagi tentang ukuran. Saya hanya butuh mengganggap segalanya besar. Apapun itu.

Kesetaraan kah?

Bukan. Tapi lebih pada penghargaan. Saya tidak ingin memandang sesuatu itu kecil, dalam artian harfiah. Saya ingin benar-benar tahu apa itu arti besar.

Terkadang saya merasa menghargai sesuatu yang kecil itu sulit. Saya butuh tahu seperti apa rasanya tidak menjadi apa-apa. Bahkan saya jarang merasa kecil meskipun sedang ada di gunung.

Mungkin saya perlu kena badai lagi? Mungkin perlu merasa berada di bawah ancaman besar?

Saya tidak tahu.

Semut pernah mengajarkan saya akan pentingnya kebersamaan. Mengajari saya bagaimana cara menolong sesama. Dan bahkan mengajari saya cara menghormati yang lebih ‘tinggi’ di atas saya.

Ah, menjadi semut-semut kecil mungkin akan sangat menyenangkan. Atau mungkin saya lebih ingin menjadi lebah?

Sedikit melantur tentang keinginan. Saya terkadang tidak ingin menjadi manusia.

Ahaha, saya durhaka pada Tuhan. Maafkan.

Suatu ketika saya ingin menjadi pohon. Jadi saya tidak perlu pergi ke mana pun. Bisa bercanda dan bergurau dengan pohon di sekitar saya. Tidak perlu merasa ditinggalkan. Atau bahkan terkadang saya ingin menjadi batu. Tidak perlu melakukan apapun, hanya perlu diam dan mengikuti bagaimana dunia ini membiarkannya hancur, atau malah membuatnya terlindung abadi.

Tapi apa sebenarnya makna ditinggalkan itu? Pada dasarnya semua hal itu saling meninggalkan dan ditinggalkan. Bagaimana pun caranya. Sedih memang, tapi bagaimana kita menghadapi kesedihan itu yang menjadikan kita tahu bagaimana cara menghidupi diri sendiri dan makhluk apapun di sekitar kita. Ditinggalkan dan tidak adalah bagian dari hidup yang tidak dapat diganti dengan apapun juga.

Ah, tapi bohong jika saya bilang saya tidak takut ditinggalkan atau meninggalkan.

Saya orang yang selalu ingin menghindari keadaan itu, seandainya bisa. Tapi bukankah takdir itu berjalan sejalan dengan waktu? Meskipun waktu itu tidak ada.

Ah bukan, ia seperti ada dan tiada. Aneh.

Waktu seharusnya bukan hal yang bisa dihitung atau dimasukkan ke dalam bulatan kaca dengan sistem yang rumit. Waktu yang menghidupi dan dihidupi. Ribet ya. Jadi ya sudah, saya pikirkan sendiri saja konsep waktu ini. Mungkin nanti baru akan saya bahas jika waktunya tepat dan saya berkeinginan untuk membaginya di sini.

Wah wah, ternyata saya sudah melantur terlalu jauh. Saya sudahi dulu tulisan ini.

Selamat sore, selamat berbahagia. Salam saya dari pojokan kampus dengan lagu dan suara gitar.

nuzulizn