Maaf karena Lupa

by nuzuli ziadatun ni'mah


Memaafkan dan melupakan.

Yang mana yang lebih baik?

Beberapa orang berpendapat bahwa memaafkanlah yang lebih baik, bukan melupakan. Tapi tanpa berkaca pada pendapat itu, saya ingin sekedar menyampaikan pendapat saya tentang kedua hal tersebut.

Sembari berjalan mendaki ke ketinggian bumi, saya lagi-lagi berpikir tentang banyak hal. Karena setiap pendakian selalu membuat saya ada di ‘ketiadaan’. Dimana saya tidak merasakan perasaan apapun kecuali ingin berjalan. Dimana emosi dan kebahagiaan itu tidak bisa mendominasi. Menuju sebuah mode netral.

Ah, adiktif sekali.

Well, saya cukup dalam memikirkan masalah memaafkan dan melupakan. Saya pribadi kadang cenderung lebih suka memaafkan seseorang ketimbang sekedar melupakan. Karena dengan memaafkan, kita akan dengan mudah melupakan, atau menganggapnya tidak perna terjadi pada kita.

Tapi tunggu, tahan dulu anggukan kalian sebelum membaca pendapat saya berikutnya.

Lalu beberapa hal mulai saya tinjau kembali. Ada kalanya manusia melupakan sesuatu untuk memaafkan. Maksud saya adalah, tidak bisa dipungkiri jika beberapa orang, termasuk saya, mencoba memaafkan dengan melupakan suatu kesalahan atau kejadian. Dan itu memang sering terjadi. Dengan melupakan, kita kembali menganggap itu tidak pernah terjadi. Memang terkadang terkesan tidak memaafkan, tapi bukan berarti melupakan itu demikian adanya. Bukan kah yang seperti lebih baik daripada tidak sama sekali?

Bagi saya, ada luka yang bahkan tidak bisa disembuhkan oleh waktu. Maka ada juga hal-hal yang tidak bisa dengan mudah dimaafkan dan tidak mustahil beberapa malah berakhir dengan dendam. Tapi tidak ada orang yang ingin mendendam kok. Karena itu beberapa orang mencoba untuk melupakan agar sebuah kesalahan dapat dimaafkan.

Ah, tapi itu pun tidak semudah itu. Beberapa kesalahan masa lalu, yang bahkan sudah berlalu setengah dekade pun ada yang belum saya maafkan. Saya mencoba, hanya belum berhasil dengan sempurna.

Mungkin seperti rasa bersalah yang tidak pernah hilang. Sama dengan luka yang tidak pernah sembuh, ada beberapa rasa bersalah kita yang entah bagaimanapun tidak pernah kita lupakan. Maka seperti itu pula yang saya maksud dengan belum bisa memaafkan.

Maka merenunglah di ketinggian bumi, karena hati kita lebih dekat dengan Tuhan.

Saya tidak pernah melewatkan waktu saya yang berharga di gunung. Karena ia adalah obat, karena ia adalah candu yang membuat saya lupa dan mudah memaafkan. Karena dengan berada di ketinggian bumi saya bisa menjadi diri saya sendiri. Meski saya terkadang lepas kendali, tapi biarlah, karena itu diri saya yang sesungguhnya.

Maka maafkan saya karena hanya mencoba lupa, bukan memaafkan. Meski bagi saya melupakan dan memaafkan itu tidak pernah berarti jauh.

nuzulizn