Lanjutan…

by nuzuli ziadatun ni'mah


Lanjut dari pembahasan sebelumnya tentang perasaan jenuh dan terasing, yang saya jamin teman-teman sudah mengerti definisinya tanpa perlu dijelaskan lebih lanjut ya. Yang kemudian ingin saya bahas di sini adalah bagaimana sebenarnya perasaan jenuh dan terasing itu muncul dan dengan segera mempengaruhi jiwa dan perilaku manusia yang merasa mengalaminya.

Pada dasarnya semua orang akan memiliki suatu titik dimana ia merasa bahwa dirinya jenuh. Jenuh dengan dirinya sendiri, dengan lingkungan sekitarnya, dengan kegiatan yang ia lakukan, dan bahkan pada tahap ekstrem jenuh pada hidupnya sendiri. Padahal mungkin jenuh yang sedang ia alami tidak serta merta menjadi hal yang begitu penting untuk dipikirkan selain kesenangan untuk menikmati hari.

Sebelumnya saya pernah menyinggung tentang konsepsi waktu bukan? Dan menurut saya itu juga terintegrasi dengan rasa jenuh dan terasing yang sedang saya bahas barusan.

Lalu dimana kaitannya?

Suatu hal akan menjadi sebuah rutinitas kala itu dilakukan dengan teratur dalam kurun waktu dan masa yang sama. Padahal dengan adanya rutinitas, sebuah kesenangan akan pelan-pelan berubah menjadi sebuah keharusan dan tanggung jawab. Maka akhirnya manusia hanya merasa hal itu sebagai sebuah keteraturan yang harus diikuti setiap manusia.

Bermula dari rutinitas itu akhirnya setiap manusia memiliki sebuah lubang kosong di dalam jiwanya, yang dengan sendirinya akan semakin membesar dan membesar. Pada tahap ini saya rasa manusia menjadi sering melamun, tidak puas dengan diri sendiri, lalu menuntut diri untuk lebih meskipun akhirnya tidak dapat melakukan hal tersebut.

Di sana lah virus ‘keterasingan’ itu muncul. Di mana tepatnya?

Bukankah setiap manusia dianugerahi rasa iri? Dengan dasar sifat yang sama maka manusia saling mempertanyakan nasib. Merasa dirinya sendiri yang paling menderita sementara orang lain dapat dengan mudah berubah dan bergerak maju. Semakin lama orang lain di sekitarnya memiliki kesenangan baru tanpa melepaskan rutinitasnya, maka semakin dalam orang itu akan merasa terasing, terutama di dalam komunitas yang ia anggap penting.

Lalu siapa yang seharusnya kita salahkan?

Waktu.

Waktu pada masa jayanya merupakan ‘sebuah’ waktu yang menghidupi dan dihidupi. Ia tidak bertuan dan tidak terbagi dalam jarum-jarum fana. Dahulu manusia tidak mengenal hari dan jam, mereka hanya tahu tentang masa dan penanda. Mereka hanya tahu tentang ‘waktu’ dari unsur alam. Lalu kenapa itu tidak dilestarikan?

Lagi-lagi karena manusia menyukai sebuah keteraturan.

Mungkin ada rasa jenuh juga karena dosa manusia itu sendiri. Mereka yang dengan sombongnya membagi waktu ke dalam jarum-jarum yang kemudian mendapatkan efek langsung. Di sana lah ia bermula.

Tapi kemudian beruntunglah orang-orang yang bisa menemukan ‘waktu’ yang sesungguhnya. Maka mereka menjadi orang yang tidak akan pernah merasakan perasaan jenuh dan terasing. Mereka yang bisa membiasakan diri dalam keteraturan dan bisa memanipulasi keteraturan itu yang kemudian menjadi pemenang. Mereka yang dengan mudah bisa menepis rasa tidak bahagia dan tanggung jawab berlebih lah yang kemudian tidak akan pernah merasa terasing dan jenuh.

Sayangnya tidak ada yang sesempurna itu di dunia ini.

Rasa terasing dan jenuh itu juga terkadang saya rasakan. Dan tidak berbeda dengan kebanyakan orang, saya juga termasuk satu di antara beberapa yang mengasihani diri sendiri dan menyerah.

Pada tahap yang tidak bisa saya toleransi lagi, saya menjadi wanita lemah. Menundukkan kepala saya di hadapan saya sendiri. Berdamai dengan waktu dan kesulitan. Ada kalanya saya lari pada keluarga dan kesendirian. Lagi-lagi merasa malu karena kalah oleh waktu. Bahkan tidak jarang saya menyibukkan diri sendiri hingga kelelahan dengan sangat agar perasaan itu hilang tidak berbekas.

Ah, meskipun saya tidak suka wanita lemah, tapi saya pun sering kalah.

Mungkin nanti ada kalanya saya bisa menguasai diri dan menjadikan waktu sebagai ilusi. Karena toh sebenarnya waktu itu tidak ada. Ia hanya eksis karena adanya penanda, yaitu matahari. Lihat saja, tidak ada yang peduli pada konsep waktu kecuali manusia. Tidak ada yang peduli pada penanggalan kecuali manusia. Tidak ada yang peduli pada angka-angka dan kebetulan kecuali manusia.

Kita ternyata terlalu mudah dimanipulasi.

Waktu. Yang menghidupi dan dihidupi. Seperti apa itu?

Ia lah waktu yang tidak terbatas pada sesuatu. Ia lah yang abadi sebagai sebuah masa. Ia lah saat ini.

nuzulizn