Sekilas Pandang

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ah, saya mau rehat sejenak dari kesibukan hari ini….

Saya mulai dulu dengan cerita pagi ini ya…

Sekretariat kami sedang sibuk, sangat sibuk. Anak-anak baru sedang bersiap dan saya yakin sekarang sudah berangkat untuk pengambilan nomor Bumi. Terus beberapa senior kami pulang kembali ke rumah masing-masing. Kelompok yang lain lagi jenguk ponakan baru di Semarang. Yang lain lagi sibuk buat nge-guide ke Merbabu esok hari. Dan saya??

Yah, meski kecewa karena nggak bisa ikut jenguk ponakan baru, tapi saya cukup berbahagia di sini sambil sesekali mencuri waktu untuk menulis curahan hati.

Intermezzo…

Saya jadi kepikiran, mungkin memang benar jika kerja di tempat dengan wi-fi yang oke banget mau nggak mau kita jadi tergoda untuk memanfaatkan lebih. Apalagi mengingat gawean yang sudah selesai. Sekarang jadi nggak heran jika beberapa orang kenalan saya yang malah lebih sering update social media ketimbang dulu waktu masih kuliah.

Ah, teknologi…

Kembali ke topik awal.

Bicara tentang tulis menulis, rasanya sudah begitu lama saya menulis artikel panjang tentang segala sesuatu di pikiran saya. Maka dari itu hari ini saya ingin membahas beberapa hal yang telah saya pikirkan sambil lalu.

Beberapa hari yang lalu orang-orang heboh dengan topik evaluasi 100 hari kepemimpinan Jokowi. Yah, itu kira-kira 3/60 bulan kepemimpinannya. Lucunya, banyak orang yang merasa bahwa evaluasi 100 hari itu selayaknya evaluasi final kepengurusan, dimana program kerja yang ada harus sudah selesai dalam bentuk nyata. Padahal saudara-saudara, janin saja baru diberi nyawa pada umur 3 bulan oleh Tuhan. Jadi kenapa menuntut yang berlebihan?

Justru kalau saya lebih suka tidak melihat yang heboh di depan, tapi hilang di belakang. Kepemimpinan itu ibarat naik gunung berhari-hari. Jika kita terlalu memaksakan diri di awal, kita akan dengan mudah capek di tengah jalan, dan hilang tenaga di belakang. Naik gunung saja tidak hanya sekedar butuh kecepatan, tapi juga ketepatan dan persiapan. Dan saya rasa cara memimpin yang sesuai juga demikian adanya. Ia tidak bisa begitu saja terlaksana. Ingat, baru 100 hari!

Jadi, tanpa membela pihak manapun, saya rasa ide evaluasi 100 hari dengan wujud nyata itu terlalu muluk-muluk. Itu ada hanya sebagai gambaran awal, sudah ngapain aja pemimpin kita.

Lanjut ke hal lain yang mengganggu saya belakangan ini.

Saya seorang yang tidak suka menunjukkan kelemahan di depan orang lain, sekecil apapun. Meski beberapa orang sering mengatakan pada saya untuk selalu menjadi diri sendiri, tanpa perlu malu akan kekurangan. Tapi lihatlah, siapa sih yang ingin kelemahannya terlihat? Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan untuk menyembunyikan kelemahan diri, dan cenderung mencari kelemahan orang lain. Jadi karena itu masing-masing orang memiliki rahasia yang mereka simpan dalam-dalam, entah karena itu kelemahan atau karena mereka tidak ingin terlihat lemah.

Ah, saya jadi ingat pembicaraan saya dengan teman baik saya.

Kenapa cowok suka cewek lemah?

Karena mereka ingin merasa dibutuhkan oleh si cewek, jadi wajar jika mereka mencari cewek yang lemah.

Lalu kepada siapa cewek yang kuat harus bersandar?

Sejak kecil saya bukan jenis orang yang suka dimanja. Bahkan mungkin karena perawakan saya yang tinggi beberapa orang menganggap saya hampir seperti teman lelaki mereka. Well, saya pun nggak pernah merasa terganggu dengan hal itu.

Sayangnya, karena kebiasaan saya dari kecil yang demikian, makanya saya tidak terlalu suka melihat cewek yang jauh dari mandiri, terlalu bergantung, dan terlalu bersenang-senang. Nggak ada yang salah memang dengan mereka, toh itu juga hidup mereka sendiri yang saya pun tidak berhak untuk ambil bagian. Tapi perasaan tidak suka itu membuat saya jarang memiliki teman seperti itu.

Padahal untuk menjadi teman tidak perlu saling membedakan. Walau pada akhirnya secara naluriah saya akan menjauhi dan mendekati beberapa orang dengan tipe yang sesuai.

Tidak terlepas dari preface di atas, saya belakangan memikirkan tentang rasa jenuh dan terasing. Kenapa?

Ah, saya lanjut nanti ya, sudah harus pergi….

nuzulizn