Abstraksi

by nuzuli ziadatun ni'mah


Abstraksi….

Saya bukan sedang ingin bertanya atau mempertanyakan, yang saya mau hanya bercerita, tentang apa yang ada di pikiran saya. Nah, mari mulai dengan apa dan siapa-kah ma-nu-si-a.

Manusia, menurut saya bukan sesuatu yang dapat dikategorikan sebagai benda, makhluk hidup, atau sekedar organisme penuh ambisi. Tapi manusia itu sesuatu yang lain. Mungkin, manusia itu semacam program yang dapat menghasilkan program lain. Kenapa?

Pertama, saya rasa hanya manusia yang dapat menjelaskan segala jenis pertanyaan di dunia ini. Padahal mereka bukan Tuhan lho. Kajian mereka juga hanya dari sudut pandang manusia biasa, bukan dari Tuhan. Tapi mengapa sesuatu itu dipercaya secara turun temurun ke bawahnya, meski dengan tidak mudah? Pada dasarnya, anugerah yang justru membuat manusia menjadi serakah itu adalah akal. Dengan itu mereka menjadi sebuah program yang dapat menciptakan program. Dengan itu mereka dapat mengendalikan dirinya sendiri, segala sesuatu di sekitarnya, dan bahkan mungkin sesuatu yang tidak berwujud; ilmu pengetahuan.

Tapi, sering saya mendapati diri saya sedang berada pada sebuah ketiadaan, ketika saya menemukan bahwa saya ternyata tidak dapat menemukan siapa saya sebenarnya, apakah sebuah ‘saya’ ini, dimana kesadaran itu ada, dan dapatkan sesungguhnya saya mempercayai apa yang sedang indera saya rasakan? Padahal beberapa kali terbukti bahwa indera kita serba terbatas, tapi kenapa kita tetap selalu mengagungkan indera yang ada pada tubuh kita?

Manusia penuh dengan pengetahuan dan ketidaktahuan. Tapi ambisi membuat pengetahuan dipaksa mengalahkan ketidaktahuan, demi sebuah ambisi penguasaan.

Saya sering bertanya-tanya, tidakkah mereka pernah menemukan diri mereka pada ketiadaan? Ketika kita sedang berada pada sebuah kesendirian, ketiadaan, hingga akhirnya kita menjadi lupa siapa kita, apakah kita, dan siapa sebenarnya seorang manusia itu.

Ah, saya bingung cara mengatakan semua ini.

Intinya adalah, saya berada dalam keadaan sadar, bahwa saya menyadari ketiadaan saya sebagai manusia, pada suatu masa. Namun mungkin saya termasuk salah satu yang beruntung. Belakangan datang sebuah mimpi pada saya, bahwa saya rasa keberadaan saya untuk hidup bersama manusia lain, apapun kemudian kehidupan yang saya jalani. Pada intinya, bersama manusia lain itu semacam tujuan hidup yang mungkin paling mudah dinalar. Hal-hal di sebaliknya, ah, biarkan saya saja yang tahu dan memikirkan sendiri.

Selayaknya main boneka, ketika hanya ada satu boneka, semua itu tidak akan menyenangkan, ketika kita makan sendirian, itu juga tidak akan se-menyenangkan makan bersama orang lain. Mungkin begitu juga alasan adanya banyak jenis manusia.

Lalu hal selanjutnya yang menjadi pemikiran saya adalah; dimana saya dapat menemukan aktor utama dunia ini?

Entahlah, saya rasa saya hanya butuh duduk diam di sini sampai sebuah mimpi datang kembali. Saya sudah cukup menemukan jawaban awal. Jelas akan ada pertanyaan selanjutnya, dan selanjutnya. Tapi paling tidak sesuatu yang membuat saya susah tidur belakangan telah pudar.

nuzulizn