Matamu –sebuah prosa, sebuah prolog

by nuzuli ziadatun ni'mah


Buta?

Kamu jijik mendengarnya? Merasa kasihan? Merasa bingung berinteraksi dengannya? Atau merasa bersyukur karena bukan kamu yang seperti itu?

Ah jangan munafik, aku yakin kamu berpikir begitu.

Tidak, tidak usah kasihan padaku, tidak usah berbicara padaku jika memang tidak mau, tidak usah melihat ke arahku dengan tatapan itu.

Apa? Kamu bilang aku buta, jadi tidak mungkin tahu wajahmu?

Ah, itu kan menurutmu.

Di dalam sini-di dadaku-ada banyak hal yang kamu tidak tahu. Kamu kira buta itu mengurangi kemampuanku untuk berpikir dan merasa?

Sok tau kamu.

Mata itu hanya menipu. Ia hanya membatasi. Kalian saja yang dengan mudahnya mau ditipu mata. Padahal pada setiap komponen tubuhmu, masing-masingnya mempunyai ‘mata’ yang lebih cemerlang. Mereka yang melihat dengan sudut pandang dan kepekaan yang berbeda.

Jadi jangan kira aku buta begitu saja. Kalau kamu mengira demikian, berarti kamu yang buta.

Lincak, July 2013

nuzulizn