Tetap Tegar, Tetap Sederhana

by nuzuli ziadatun ni'mah


Tidak perlu kamu, atau aku, berdandan begitu rupa untuk mereka

Tidak perlu kita bercerita begitu gembira dalam duka

Tidak perlu kita, berpura-pura pada dunia

Saya sedang disibukkan begitu rupa di dalam benak saya sendiri. Menata setiap pengertian saya tentang hidup, filsafat, manusia, kemanusiaan, masyarakat, fenomena, dan dialektika. Semua yang sedang ada di benak saya sedang mencari tatanan yang tepat dan sesuai dengan wadahnya. Maka akan menjadi sesuatu yang tidak mengherankan jika dalam tulisan ini akan ada banyak hal yang tidak sesuai dengan pemikiran umum, beberapa salah kaprah, dan mungkin salah tempat.

Lanjut dari apa yang telah saya tulis di postingan sebelumnya, saya rasa ada banyak hal yang sedang mengganggu saya, dan saya bingung mau menyelesaikan bagian yang mana sebelum beralih ke hal yang lebih penting.

Mari mulai dengan kenali dirimu sendiri.

Mengenal diri sendiri menurut saya berhubungan dengan semua aspek di dunia ini. Diri sendiri mengandung semua rahasia dunia, karena asal ilmu juga dari akal, sehingga diri sendiri lah bagian dunia ini yang menyimpan rahasia paling besar. Pada sebuah potret sel otak manusia yang diterbitkan oleh Harun Yahya, ia membandingkan dengan potret galaksi kita; yang ternyata sangat mirip. Apa yang saya dapat dari itu? Saya kemudian meyakini bahwa di dalam setiap manusia, mereka memiliki komponen yang sama dengan dunia ini, baik dari nilai-nilai maupun pengetahuannya. Karena itulah manusia kemudian ditakdirkan untuk menemukan ilmu pengetahuan, dapat saling memahami, ber-etika dan bermoral, serta dapat bersosialisasi.

Aku adalah kamu, manusia yang sama

#dialogdinihari

Kita hidup dari rahim dan sperma yang sama, dari Tuhan yang sama, di dunia yang sama. Jadi untuk apa kita saling membedakan? Aneh menurut saya, jika ada manusia yang tidak berperikemanusiaan, karena seharusnya mereka merasa seperti seharusnya manusia yang lainnya.

Belakangan, filsafat mengajarkan pada saya bahwa setiap pertanyaan tentang pencarian diri dan makna hidup, setiap manusia memiliki hal itu. Sayangnya, hanya beberapa manusia yang bertahan dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Hanya sedikit manusia yang mau menjadi berbeda dari masyarakat pada umumnya. Hanya sedikit manusia yang akhirnya mau tetap berjibaku dengan benaknya sendiri, menjadi diri sendiri di tengah arus kuat.

Ah, masyarakat…

Ia sesuatu yang akhirnya menjadi mesin penggerak dunia. Sesuai dengan bahasan saya sebelumnya tentang sebuah program, manusia menjadikan objek yang lainnya sebagai sebuah spesimen. Mereka menjadikan manusia lain sebagai mesin, sementara beberapa manusia menjadi pengendali dari sebuah sistem.

Banyak manusia, yang akhirnya kalah melawan arus. Ada beberapa memilih mengikuti arus, ada yang memillih menenggelamkan diri, dan ada yang memilih untuk menepi. Mereka lah orang-orang yang kalah oleh sistem.

Sepenting apa filsafat untukmu? Dan sepenting apa kehidupan duniawi untukmu?

Di samping keinginan kuat saya untuk terus mencari dan bertanya tentang keberadaan saya di dunia, saya kemudian berusaha untuk meneguhkan hati saya pada apa yang telah ada sekarang.

Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berguna untuk sesamanya?

Saya mungkin belum menasbihkan diri sebagai seorang sosialis, tapi lihatlah, apa gunanya kita hidup dalam pengetahuan luas dan keberuntungan untuk hidup jika tidak memberi suatu manfaat kepada masyarakat dunia? Itu menjadi percuma.

Tidak.

Memang menemukan apa yang kita cari itu penting. Tapi tidak kalah penting untuk memahami, bahwa ketika kita diturunkan ke dunia ini, kita datang bersama dengan manusia-manusia lainnya. Bahkan dengan makhluk lainnya. Jadi janganlah kita menjadi manusia yang angkuh akan lingkungan sekitar.

Sederhana sekali hidup ini.

Manusia saling membutuhkan untuk mencapai kebahagiaan. Manusia saling berhubungan untuk mencari kebenaran; saling berdialektika. Lihatlah, tidak ada sebuah pencapaian yang didapat dari berpikir seorang diri. Masing-masing membutuhkan sesuatu yang lain sebagai enteogen.

Ah, kesederhanaan…

Menjadi tegar dan sederhana itu cita-cita yang amat tinggi, amat susah untuk dicapai. Ia juga hanya sebagai sebuah jalan sempit mencapai sebuah laguna bahagia.

Hahaha, susah ya menjadi manusia yang benar.

Ya, mungkin ini saja yang ingin saya katakan, mungkin nanti atau esok hari kita akan bersua lagi. Yang pasti, saya ingin mengucapkan selamat kepada mereka yang telah mencapai bahagia; dalam bentuk apapun, kepada mereka yang juga penuh kejujuran dan kebenaran, kepada yang tetap kuat di dalam kemiskinan, dan kepada mereka yang tetap berjuang untuk terus bertanya dan mencari. Selamat mencoba menjadi ma.nu.si.a.

nuzulizn