Sambil Mengenang Siang Ini

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ramadhan belakangan sudah tidak menjadi bulan yang paling saya tunggu-tunggu lagi. Entah mengapa. Mungkin dulu ketika saya masih duduk di bangku SMA saya begitu menanti Ramadhan dengan segala kesenangan, kerinduan akan kedamaian, hiruk pikuk manusia di desa, dan juga keramaian di dalam keluarga kecil saya sendiri.

Nah, lanjut dari keresahan saya akan bulan ini, saya ingin sedikit mengumbar kesedihan saya.

Siang ini, karena sesuatu hal saya harus bertemu dengan ibu saya di sebuah pusat perbelanjaan di Jogja, sebut saja Progo (memang nama yang sebenarnya). Banyak orang lalu lalang di sana, berbelanja tentunya. Tapi perasaan ‘tidak suka’ itu belum muncul ketika saya ada di sana. Karena jujur saja, saya suka jalan-jalan di tempat yang banyak barang seperti itu, berkeliling mencari barang yang mungkin saya butuhkan, atau yang hanya sekedar membuat saya tertarik. Nah, maka saya masih tetap menikmati jalan-jalan di sana.

Keresahan dan kesedihan yang saya rasakan mulai muncul ketika saya dalam perjalanan pulang lewat Terban. Lalu kembalilah pemikiran saya yang selalu muncul ketika menjelang Idul Fitri seperti ini.

Saya benci budaya berbelanja pakaian baru saat Idul Fitri.

Kenapa ya, setiap menjelang Hari Raya begini orang berbondong-bondong ke pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian baru? Memenuhi gerai dengan keributan kecil yang dalam beberapa saat dapat membesar. Membuat macet jalan dengan semua kendaraan yang mereka punya. Saya selalu merasa ‘bodoh’ dan semacam ‘sesuatu’ ketika melihat kerumunan orang-orang yang ‘hanya’ mencari pakaian baru. Apa ya, saya bingung menjelaskan dengan kata-kata. Perasaan itu ada ketika kita dalam keadaan sendiri dan melihat keributan itu.

Sudah sejak 2 tahun yang lalu sejak pertama kali saya mulai menyadari. Semacam ada perasaan terasing ketika saya berdiri sendiri memandangi semua orang yang sedang berkegiatan itu. Saya merasa kehilangan keberadaan, seakan-akan mereka adalah mobil yang berlalu lalang di jalan dan saya adalah tiang lampu merahnya. Perasaan seperti itu menumbuhkan frustasi dalam diri saya. Karena itu saya sangat tidak suka berada di jalan raya saat bulan-bulan begini. Kebanyakan orang terlalu duniawi dalam menghadapi bulan-bulan seperti ini.

Tapi, saya pun mencoba untuk berdamai dengan diri saya sendiri untuk memaklumi hal itu. Tapi setiap tahunnya perasaan yang sama selalu datang pada saya, membuat saya terus bergelut dengan diri saya sendiri.

‘Obat’ dari perasaan itu pun bahkan sulit untuk ditemukan. Saya hanya bisa merasakan pulang saat kembali ke Sekret kami tercinta atau pulang ke rumah. Mungkin salah jika saya berharap lingkungan saya dapat menyesuaikan dengan diri saya. Tapi tidak berhak kah bagi saya untuk tetap merasa ‘ada’ di tengah hiruk pikuk itu? Saya merasa kami makhluk yang berbeda, padahal kami manusia yang sama.

Tidak, saya tidak sedang mencerca atau menghina. Saya hanya berusaha bersuara dalam teriakan manusia-manusia yang mungkin lupa, atau malah melupakan. Mungkin memang mengasingkan diri lah yang saya perlukan. Atau mungkin saya harus mencari orang yang dapat membuat saya merasa ‘pulang’ di mana pun kami berada.

nuzulizn