GIE

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada sesuatu hal yang membuat saya tiba-tiba ingin menonton film GIE dan perasaan itu juga datang setiap kali saya mendengarkan lagu GIE. Seakan ia serupa panggilan bawah sadar di dalam diri saya untuk kembali menonton dan mendengarkan lebih dalam, untuk kemudian mengerti lebih banyak dan mensyukuri banyak juga.

Sampaikanlah pada ibuku

Aku pulang terlambat waktu

Kuakan menaklukan malam

Dengan jalan pikiranku

Lirik lagu itu seakan membawa pikiran saya ke puncak-puncak tertinggi di dunia, untuk kemudian merenungkan arti keberadaan diri dan orang-orang yang saya cintai. Semacam pengingat akan apa yang berhubungan dengan saya dan apa yang sebenarnya tidak saya miliki. Pemikiran, angan-angan, cinta, keluarga, teman, bangsa, masyarakat, kemanusiaan, keterasingan…. Ah, itu masih terlalu sedikit untuk bisa mencakup banyak yang saya pikirkan.

Pada suatu masa yang lampau, saya melihat film itu hanya sebagai sebuah film untuk menghibur para penontonnya. Tidak ada dialog dan muatan berarti yang saya tangkap dari sana. Itu 5 tahun yang lalu.

Hingga akhirnya malam ini saya kembali tergugah untuk menontonnya kembali setelah tanpa sengaja menemukan film itu di dalam laptop adik saya. Seperti sebuah panggilan, saya tidak segan untuk mengulang menonton kembali film itu.

Hal pertama yang saya tangkap dari film itu adalah kesenangan.

Tidak banyak orang di dunia ini yang kini merasakan kesenangan murni, apalagi sebagai anak-anak dan remaja yang memang seharusnya hanya bersenang-senang. Seberapa banyak anak di jaman sekarang yang mengenal permainan tradisional, yang tahu budaya nenek moyang, yang tahu cerita rakyat? Tidak banyak tentunya. Banyak anak-anak terlalu disibukkan dengan pendidikan formalnya, atau beberapa yang bebas menghabiskan waktu dengan berakting dan nonton tv, yang lain sibuk mengidolakan beberapa penyanyi cilik yang sedang naik daun.

Hello, kalian berpikir terlalu banyak tentang dunia ini.

Dalam pandangan saya, tidak seharusnya seorang anak kecil memiliki pemikiran yang terlalu kompleks tentang dunia. Mereka cukup menikmati segala hal tanpa perlu memilih-milih. Karena pilihan hanya milik mereka yang telah merasa dewasa. Seorang anak seharusnya bebas, untuk melakukan apapun. Pikiran mereka adalah yang paling murni dalam mengembangkan gagasan-gagasan kekanak-kanakan yang akhirnya akan menjadi dasar pemikiran dewasa mereka nantinya.

Ada beberapa hal dalam film itu yang kemudian saya garis bawahi.

Setiap manusia, sepertinya selalu tertarik pada keindahan mendasar, seperti pantai, hujan, gunung, pemandangan, kabut…. Masing-masing manusia seperti menyimpan sebuah pandangan yang sama tentang keindahan dunia. Gie, kemudian mewujudkan sebuah wadah untuk mencari keindahan itu dengan membentuk Mapala.

Saya seakan merasa tergugah ketika menonton bagian itu. Sebagai orang yang juga ikut berkecimpung di lingkungan yang sama, tidak banyak hal yang saya ketahui tentang Mapala pada masanya. Tentang perlawanan pada jaman itu yang muncul di hampir seluruh dunia. Betapa saya ingin mengasihani diri sendiri karena ketidaktahuan ini.

Tapi, saya pun berusaha untuk tidak buta sama sekali. Sepanjang yang pernah saya pelajari di pelajaran sejarah sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya pun mulai paham, bahwa sejarah tidak pernah lepas dari pertumpahan darah. Lebih besar, dengan kehancuran dan perang. Sejarah diciptakan dengan egoisme dan ketamakan akan harta dan tahta. Sejarah diciptakan dengan kepentingan-kepentingan individu atau kelompok manusia.

Pada akhirnya, kejadian yang sesungguhnya itu tidak pernah terekam dengan sempurna sebagaimana adanya. Mereka yang dapat merekam dengan tepat lenyap dari dunia ini. Mereka yang diam-diam merekam terbenam dalam hiruk-pikuk politik busuk. Sejarah bangsa kita tidak pernah benar-benar fulgar dibuka dan dibeberkan kepada rakyatnya sendiri. Rakyat yang seharusnya berhak tahu, berhak menuntut, dan berhak didengarkan.

Pernahkah kamu dengar bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari keberpihakan?

Begitulah. Saya pun bukan orang yang mudah sependapat pada awalnya. Tapi ternyata apa yang terjadi pada saya dengan sendirinya membuktikan kalimat tersebut bahwa saya pun punya keberpihakan sendiri terhadap apa yang saya yakini.

Kemudian sesuatu itu yang kemudian disebut sebagai ideologi, Tan Malaka menyebut bahwa hanya mereka yang masih muda lah yang memilikinya. Dan percaya atau tidak, hanya mereka yang tetap kekanak-kanakan dalam masa tuanya yang bisa bertahan dengan ideologinya.

Bukankah dewasa adalah saat kamu tahu kapan harus kekanak-kanakan dan kapan harus bertanggung jawab?

Politik, lagi-lagi menjadi barang yang semakin tidak dilihat oleh mereka yang sebenarnya paham. Mereka yang paham itu akhirnya memilih untuk menyingkir dan menepi setelah muak melihat bobroknya sistem yang ada. Mereka yang tetap bertahan mencoba mencari pegangan akan ideologi yang mereka yakini.

Dari sini, saya hanya dapat ikut berdoa dan sekedar mewarnai keramaian opini lewat tulisan ini. Saya pun termasuk orang-orang yang kalah sebelum berperang. Satu dari beberapa yang lebih memilih menyepi di ketinggian bumi. Saling bertukar pikiran tentang politik di dalam kantong tidur yang takut kedinginan jika terungkapkan ke permukaan. Betapa lemah saya di atas bumi ini. Hanya serupa makhluk kecil yang rapuh hati dan raganya.

Lebih banyak hal yang seharusnya mulai kita perhatikan bersama sekarang. Sering-seringlah membaca Koran, sekedar untuk tahu kabar mereka yang tidak pernah terlihat di permukaan. Lebih banyak lagi untuk memulai perjalanan, sekedar merasakan hidup manusia lain di Nusantara kita. Lihat, kita tidak pernah tahu kabar manusia-manusia Pulau Rote, Aru, Halmahera, Banda, Buru…. Mereka juga punya banyak hal yang tidak kita tahu.

Telah terlalu banyak publikasi tentang mereka yang hidup di Ibu kota atau kota besar lainnya, tidak kah kita yang ada di permukaan ingin menyelam lebih dalam? Mencari rahasia-rahasia tak ternilai lainnya?

Jika iya, maka bersyukurlah karena kamu telah menjadi orang yang tidak pongah akan nasibmu.

Kepada mereka yang masih terus mencari keberadaan, bersabarlah, karena kamu berada di jalur yang benar.

nuzulizn