Massa dan Kekuatannya

by nuzuli ziadatun ni'mah


Kembali saya ingin membahas tentang masyarakat, atau mungkin dalam lingkup kecilnya adalah golongan atau kelompok.

Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, kekuatan massa merupakan kekuatan dunia yang paling besar, dalam hal apapun. Karena seperti yang pernah dikatakan; suara rakyat adalah suara Tuhan.

Benar memang, dan banyak hal yang telah terbukti demikian.

Namun pada dasarnya, di suatu pendapat tertentu, tidak mungkin semua orang menerima hal yang sama. Pun tidak menutup kemungkinan pula mereka akan memiliki rakyatnya sendiri. Karena itu, di saat ada sebuh golongan yang berkuasa di dalam sebuah peradaban, akan selalu ada golongan lain yang menentang. Itu mutlak dan pasti adanya menurut saya.

Beberapa akan saya ambil referensinya dari film GIE lagi, dimana di sana digambarkan bagaimana mahasiswa saling merebut kekuasaan dengan kekerasan. Jika itu dilakukan di bangku kuliah, jelas kemungkinannya juga tinggi bahwa itu juga akan dilakukan saat mereka ada di pemerintahan. Begitulah manusia. Apa yang mereka bawa sejak dini akan membentuk mereka di hari nanti.

Pemberontakan, perlawanan, terlah banyak digaungkan oleh orang-orang kuat yang ingin memperbaiki keadaan. Beberapa di antaranya gugur di medan perang. Namun beberapa yang lain berhasil hidup dengan baik dan mengubah banyak hal dan banyak pandangan manusia lain. Sungguh hebat mereka yang akhirnya berhasil bertahan dan melawan. Mereka yang tetap ingin berjuang tetapi tidak berjiwa militer berada di garis belakang dengan bergabung dengan Palang Merah atau menulis. Perjuangan itu beragam macamnya.

Ah, mari kembali ke pembicaraan tentang kelompok atau massa yang tadi sedang saya bahas.

Kelompok, lagi-lagi akhirnya dapat menguasai segalanya. Mereka hanya butuh beberapa sokongan suara dan pemantik dari mereka yang kuat dan ada di atas.

Dalam pandangan saya, ada yang salah sekarang tentang pergerakan massa di masa ini. Belakangan, massa kalah dengan mereka yang berkuasa. Dimana kelemahannya? Saya juga tidak tahu, terlebih karena saya bukan pengamat politik maupun sosial. Namun saya rasa, saya ingin memberikan beberapa pandangan tentang massa di jaman sekarang.

Banyak orang, terutama rakyat yang berdaulat, tidak memanfaatkan apa yang sebenarnya menjadi hak mereka. Negara ini Negara hukum, berasaskan Pancasila bahkan berideologi Demokrasi Pancasila. Namun mengapa rakyat yang seharusnya berhak melakukan segalanya malah tidak melihat kembali ke poin-poin itu? Ah, tapi tunggu dulu, masih ingat slogan ini;

Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Ya, slogan yang seharusnya dihanyati setiap warga Negara. Tapi dimanakah penghayatan itu saat ini? Kita lupa, bahwa kita sudah tidak lagi memberi untuk Negara, melupakan kewajiban, tapi menuntut terlalu banyak hak.

Lihatlah, poin pertama dari kalimat itu adalah dari rakyat. Yang menurut saya berarti seharusnya rakyatlah yang harus memberikan jiwa raga mereka sebagai bentuk kewajiban mereka kepada Negara sebelum melakukan hal-hal yang lainnya. Karena dari rakyat berarti sepenuhnya rakyat lah yang akan mengkomando pergerakan Negara ke tahap selanjutnya. Maka dari sini, jika saya boleh berpendapat, jika memang rakyat memberikan dan melaksanakan kewajiban mereka dengan baik, maka Negara ini akan ada di koridor yang benar menuju Negara yang lebih baik. Kejujuran, keikhlasan dalam berjuang, kemandirian, keteguhan, dsb.

Poin kedua adalah oleh rakyat, yang berarti bahwa rakyat lah yang juga harus melakukan dan mengembangkan pemikiran untuk mewujudkan cita-cita bangsa.

Lalu siapa rakyat ini?

Kita lah rakyat itu. Setiap manusia yang ada di Indonesia dan berkewarganegaraan Indonesia lah yang seharusnya patut disebut sebagai rakyat. Di setiap lapisan masyarakat, mereka yang telah melakukan hal yang benar lah yang menurut saya berhak untuk menuntut lebih banyak. Mereka yang mau berjuang untuk mendukung kebijakan Negara lah yang kemudian berhak menuntut hak.

Ah, nanti akan saya gambarkan studi kasusnya.

Ketiga, untuk rakyat. Yaitu bahwa semua yang kita lakukan di sini akan berpengaruh untuk hidup kita nantinya, segalanya. Maka jika kita tidak melakukan hal yang benar sebelumnya, maka kita juga tidak berhak untuk mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan.

Mari studi kasus sedikit. Sekedar ingin memberikan pendapat juga.

Katakanlah pada suatu daerah yang telah dikenal dengan pedagang kaki lima yang digemari banyak orang suatu hari harus ditertibkan. Lalu muncul dua kubu besar, kubu pembela PKL dan kubu pemerintah—seperti yang telah saya bilang sebelumnya tentang dua kekuatan berlawanan. Pada akhirnya pemerintah yang merasa telah melaksanakan undang-undang tetap keukeuh, sedangkan PKL yang menuntut hak warga Negara juga sama bebalnya.

Lalu bagaimana kita menyikapinya?

Lihat lah di sini. Perkara semacam ini ada dimana-mana. Ada di semua sektor, semua lapisan. Awal mula ini pun bermula dari sebuah kepentingan rakyat kecil untuk mencari nafkah, lalu timbul pemakluman. Dari sini sudah mulai ada yang tidak benar. Pembiaran, pemakluman, dsb. Kemudian semakin lama semakin banyak pelanggan, maka yang pertama-tama berdagang memperluas area dagangannya. Di sini juga pedagang telah bersalah dengan memperbesar dagangannya, hingga menimbulkan bermunculannya pedagang lain. Barulah belakangan ketika telah banyak masalah, pemerintah turun tangan.

Yang paling menyedihkan di sini adalah mereka tidak punya keberanian untuk mengakui kesalahan. Mereka yang berdagang telah tahu jika mereka salah sejak awal. Mereka yang mengaku aparat pun telah tahu sejak awal karena pembiaran-pembiaran yang berlarut-larut. Jadi, mengapa tidak saling mengakui saja kesalahan itu? Berlakulah jujur. Dengan demikian maka hak yang sebelumnya terlupa dapat dituntut dengan jalan yang benar. Relokasi, mediasi, pengertian, pemahaman, rasa hormat kepada hukum, rasa kemanusiaan kepada warga Negara. Bukankah itu akan membentuk kita sebagai manusia yang memanusiakan orang lain?

Sadarilah, mulailah memperbaiki diri dan mungkin lingkungan. Mulai mediasi dengan mereka yang kita kira buruk atau salah. Lalu lakukan pergerakan bersama rakyat ke jalan yang benar. Karena jika tidak, siapa yang dapat menyelamatkan Negara ini? Sejak awal rakyat lah yang mendapat kedudukan tertinggi, maka mintalah kewajiban dan hak yang sesuai dengan kedudukan itu.

nuzulizn