Confession

by nuzuli ziadatun ni'mah


Haaah~~~

Saya butuh menghela napas sejenak sebelum memulai tulisan saya siang ini.

Entah berapa lama blog ini kosong dari omong kosong saya tentang opini, tapi akhirnya saya pun merasa ingin menulis dengan tuts-tuts di laptop saya.

Cerita ini akan saya mulai sejak sebulan yang lalu dengan kesibukan saya di organisasi dan dalam dunia ide saya yang sedang mengalami perubahan besar. Bulan-bulan ini merupakan bulan berat bagi saya. Lebih karena saya merasa beban pikiran saya terkuras untuk memikirkan masa depan saya.

Memasuki kuliah tingkat 4 ternyata bukan hal yang menyenangkan. Karena pada akhirnya saya tertuntut untuk memikirkan hidup saya selanjutnya dibanding kesenangan karena kuliah yang semakin sepi. Sibuk, tentu; sibuk memikirkan langkah selanjutnya setelah kuliah.

Mungkin ada banyak hal yang bisa saya lakukan. Tapi apakah saya yakin dengan itu? Apakah saya benar-benar bisa melakukan rencana-rencana saya yang menyenangkan itu? Saya pun tidak sungguh-sungguh meyakini itu. Saya selalu merasa butuh partner untuk melakukan banyak hal. Saya butuh teman. Saya butuh orang yang sepenuhnya paham dengan diri saya. Dan di mana saya mendapatkannya?

Sementara ini saya hanya punya sebuah pelarian. Buku harian.

Terkadang keinginan untuk mencoba menjadi extrovert menggelitik saya. Tapi toh pada kenyataannya saya tidak bisa menipu diri dengan pura-pura menyukai banyak orang. Malahan dengan berpura-pura demikian saya hanya semakin menyakiti diri sendiri dan memberi tekanan yang lebih besar dalam pikiran saya. Semua ini membuat saya tertekan dan sejujurnya, depresi.

Menulis menjadi yang paling manjur selain menangis. Seperti perasaan sedih yang sering datang tiba-tiba, rasa kesepian yang juga sama selalu butuh untuk disembuhkan. Sedih dan kesepian, dua penyakit kronis yang selalu datang berkala pada saya. Ia tidak dapat dihilangkan, hanya dapat diredam sementara dengan cara-cara sederhana. Maka yang terjadi malah justru semakin parah. Saya menyendiri semakin sering. Diam semakin sering. Menulis tentang apapun semakin sering. Dan tentu saja menangis lebih sering.

Fisik yang kuat tidak selalu berarti jiwa yang kuat. Mampu menahan rasa sakit bukan berarti bisa menanggung rasa sedih. Mampu memahami orang lain bukan berarti mudah dipahami orang lain. Mudah melupakan kesalahan bukan berarti cepat dimaafkan. Selalu ada yang bertolak belakang dalam diri saya. Dan saya sering merasa tersiksa dengan pemikiran-pemikiran bahwa tidak ada seorang pun yang secara jujur ingin memahami saya. Semuanya terasa palsu, dan semakin menyakitkan saat dipikirkan.

Meski banyak yang bilang bahwa setiap manusia itu istimewa dan dunia tidak akan pernah sama tanpamu, tapi saya merasa semua akan baik-baik saja tanpa saya. Mungkin memang berbeda, tapi perbedaan itu tidak akan pernah lebih besar dari hilangnya satu pohon di dalam hutan.

Pada akhirnya semua rasa lelah itu hanya mengantarkan saya pada kondisi netral. Saya lebih sering tidak merasakan apapun dari pada benar-benar merasa bahagia atau sungguh-sungguh merasa sedih. Saya semakin merasa segalanya adalah tipu daya. Bagi saya, ekspresi yang paling bisa dipercaya adalah saat seseorang itu berdiri sendiri, saat ia bergumul dengan dirinya sendiri, dan karena itu saya selalu menulis buku harian. Saat tidak ada yang bisa saya percayai, saya merasa lebih baik mempercayai benda mati atau mereka yang justru tidak mengerti sama sekali.

Kejujuran itu mahal. Perenungan saya untuk benar-benar meresapi tiga kata itu pun cukup lama. Orang-orang merasa biasa dan merasa umum untuk berbohong. Tapi mereka yang jujur lah yang malah dijauhi oleh orang lain. Dunia ini sudah gila. Saya tidak menganggap aneh jika pada akhirnya orang hanya bisa diam dan berdialog dengan orang-orang terdekatnya. Mereka yang mengerti memilih menyepi dan apatis. Semua karena kebanyakan orang telah menganggap yang salah adalah benar. Masing-masing orang tidak pernah cukup berani untuk mengungkapkan apa yang ia pikirkan. Semua orang takut untuk dibenci lingkungannya, hingga akhirnya memilih untuk bungkam. Untuk menghilang.

Dalam ketidakteraturan tulisan ini, saya ingin tetap terus menulis hingga akhirnya saya tidak punya bahasan yang bisa saya bagi dengan siapapun yang membaca ini.

Organisasi yang saya cintai dengan segala peluh semakin aneh akhir-akhir ini. Semakin banyak yang tidak saya mengerti tentang orang-orangnya. Semakin banyak hal yang membuat saya kesal. Semakin banyak yang kehilangan rasa cinta padanya.

Keinginan saya untuk mengungkapkan perasaan saya selalu terhalang oleh rasa takut dan rasa enggan. Tapi setelah selama sebulan terakhir ini saya selalu menuliskan tentang ini di buku harian, akhirnya saya tidak sanggup untuk tidak mengungkapkannya di sini.

Entahlah, mungkin saya akan bersyukur jika justru tidak ada yang membacanya. Saya hanya ingin berbagi.

Sejak enam bulan terakhir semenjak saya menjabat di organisasi saya, saya merasa organisasi ini sakit. Sakit parah. Di mana kekeluargaan yang katanya dasar organisasi? Di mana rasa peduli? Semua orang enggan untuk membuka diri dan mendengarkan keluh kesah. Semua orang melakukan sesuatu lebih karena siapa yang memerintah, bukan karena apa yang diperintahkan. Efeknya?

Pada akhirnya saya merasa jenuh untuk tetap ada di sana. Saya jenuh sejenuh-jenuhnya sekarang. Detik ini.

Saya ingin kabur, tapi saya tidak sanggup. Saya ingin bicara. Tapi setiap membuka suara selalu ada air mata yang mendesak untuk mengikuti. Dan menahan tangis hanya membuat saya semakin sakit. Maka saya memilih diam. Seperti benda-benda mati yang saya agungkan untuk menampung keluh kesah saya, saya ingin menjadi mereka.

Jika pada akhirnya apa-apa yang saya sebutkan itu terus ada, maka organisasi itu tak ubahnya sama dengan organisasi-organisasi yang selama ini kita cerca dan kita kritisi. Mengapa membicarakan orang lain jika diri kita juga tidak sepenuhnya benar? Benar kan saya bilang, orang-orang mulai merasa dirinya lah yang paling benar dalam segala hal. Dan semakin orang melakukan hal itu semakin besar pula rasa benci dalam diri saya, semakin ingin saya menghilang dan memberontak.

Jenuh, ingin pergi. JENUH!

Kenapa menipu? Kenapa berbohong? Kenapa takut mengakui kamu salah dan yang lain benar? Kenapa tidak pernah membicarakan fakta?

Banyak orang yang tidak suka dievaluasi, mungkin saya juga salah satunya. Tapi sedikit orang yang bisa menerima evaluasi itu meski dengan keengganan. Dan tidak banyak orang yang mau disalahkan dan menanggung rasa sakit karena prasangka dan tuduhan.

Dengar ya, kenapa harus mempermasalahkan siapa yang bicara tentangnya? Tapi coba lah untuk melihat sesuatu dari objek yang dibicarakan olehnya. Saya rasa orang yang berbicara lebih ingin didengarkan karena ketertarikan orang lain pada topik yang ia bicarakan.

Suatu ketika ada orang yang mengatakan bahwa sudah tidak populer orang yang bisa melakukan segala hal. Sekarang orang-orang dituntut profesional dengan satu bidang spesifik.

Saya sangat tidak setuju dengan pendapat itu. Justru saya merasa kasihan pada orang-orang yang demikian. Terserah itu tuntutan profesi atau tuntutan jaman, persetan dengannya. Yang saya yakini adalah bahwa manusia butuh tahu segalanya untuk hidup di dunia ini dengan baik. Saya orang yang suka melihat orang yang mandiri, orang yang tahu banyak tentang apapun, meski yang ia tahu tidak banyak. Saya diajarkan oleh ayah saya untuk tahu tentang banyak hal, dan maka saya melakukannya. Lalu tentang profesi? Itu bukan sesuatu yang didapat dari sekolah atau kuliah. Itu adalah sesuatu yang ada di dalam diri kita, dan kita pilih dengan ikhlas dan yakin untuk kita jalani di sebagian besar hidup kita.

Ah, berhubung kuliah saya sudah hampir beres, terakhir saya ingin bercerita tentang saya yang patah hati, yang kedua dalam hidup saya.

Saya tidak jatuh cinta pada banyak orang, tapi saya mungkin banyak tertarik pada orang-orang yang saya anggap istimewa. Saya tidak pernah berhubungan khusus dengan lelaki, tapi secara tidak sadar saya selalu punya standar tinggi terhadap mereka. Hanya dua orang dalam hidup saya yang pernah benar-benar membuat saya jatuh cinta. Yang pertama adalah saat saya masih SMA. Tidak pernah sekalipun saya menyatakan padanya, tapi pada tahun kedua saya di kampus, ia meminta maaf pada saya tentang itu. Ternyata ia tahu. Maka ketika itu saya pun melupakannya.

Yang kedua pada seseorang yang cukup dekat dengan saya. Tidak dalam pandangan pertama fisik saya merespon perasaan itu, tapi setelah lebih dari setahun tahu tentangnya. Apapun tentang orang ini sudah saya ketahui, dari sisinya yang paling baik atau bahkan keburukannya yang paling parah. Saya tidak pernah sungguh-sungguh untuk beusaha menyatakan diri bahwa saya jatuh cinta. Tapi jika tubuh saya merespon demikian, bukankah itu artinya saya memang jatuh cinta?

Ya, seberapapun saya mencoba untuk mengingatkan diri sendiri, saya masih merasakan respon-respon kecil maupun besar dari organ-organ tubuh saya. Dan jika cinta itu berarti memberi, maka mungkin saya memang jatuh cinta padanya.

Ia semacam paradoks antara pikiran dan hati saya. Ia membingungkan.

Tapi meski saya mengatakan bahwa saya patah hati, saya rasa jatuh cinta dan patah hati tidak pernah punya hubungan intim. Mereka tidak benar-benar saling mempengaruhi. Dan dalam ke-patah-hati-an saya, saya masih tetap jatuh cinta.

Nah, 1369 kata di depan adalah postingan yang panjang. Terima kasih untuk menyimpan cerita ini dalam hati kalian sendiri.

Selamat siang,,

wordsflow