Sebuah Studi Singkat tentang Masyarakat Adat

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya melakukan beberapa studi singkat tentang masyarakat dan wilayah adat yang ada di Indonesia. Dengan sumber-sumber berupa jurnal dan penelitian serta hasil dari diskusi dengan aktifis sosial yang telah banyak terjun ke masyarakat adat yang tersebar di Indonesia.

Studi ini bukan hanya ingin memaparkan apa yang telah saya dapat darinya, tetapi juga memberikan sedikit pandangan saya tentang masyarakat adat, sebagai seorang manusia awam akan hal-hal yang demikian. Semoga kita tidak menjadi manusia yang sombong karena hidup yang kita jalani sekarang ini.

__

Studi ini semata-mata hanya sebuah pelampiasan dari diskusi sore kami di Mapala SATU BUMI dengan topik pembahasan yaitu manusia dan lingkungan adat.

Masyarakat adat ini sangat erat hubungannya dengan bidang studi saya, yaitu Teknik Arsitektur. Jadi saya juga merasa butuh untuk mendalaminya lebih lagi karena sangat berhubungan dengan studi saya. Pun, ia tidak berada cukup jauh dengan kearifan lokal dan kebudayaan yang sedang gencar dibicarakan oleh masyarakat modern saat ini.

Perilaku yang bersifat umum dan berlaku di masyarakat secara meluas, turun temurun, akan berkembang menjadi nilai-nilai yang dipegang teguh, yang selanjutnya disebut sebagai kebudayaan (budaya).

Budaya merupakan sesuatu yang diagungkan di masyarakat saat ini. Budaya merupakan harta yang tidak dapat digantikan. Ia merupakan rekam jejak perubahan di suatu masyarakat pada lingkungan tertentu dengan keunikan dan nilai-nilai yang istimewa. Budaya pada akhirnya menjadi sesuatu yang selalu sulit untuk dimunculkan kembali hingga akhirnya muncul kata-kata ‘melestarikan budaya’.

Dalam kaitannya dengan masyarakat adat, saya rasa ada sedikit salah kaprah di sini.

Menurut saya, budaya memang sesuatu yang istimewa pada suatu masyarakat tertentu pada suatu daerah tertentu. Namun budaya ini tidak pernah lepas dari perubahan, karena budaya adalah perubahan itu sendiri. Tanpa adanya perubahan, maka budaya yang sekarang kita kenal tidak akan pernah ada. Maka bukan melestarikan budaya lah yang seharusnya ada, tetapi merespon kebudayaan itu sendiri sebagai suatu unsur yang juga berdiri sendiri di tengah masyarakat kita.

Percakapan saya dengan senior saya sore tadi berhubungan dengan studi kasus yang saya paparkan tentang masyarakat adat di Tanah Kajang, Bulukumba. Mereka memang masih menggunakan cara-cara tradisional untuk hidup; tidak ada listrik, tidak ada kendaraan, tidak ada alas kaki, dan sebagainya. Lalu saya paparkan bahwa mereka sudah menggunakan detergen untuk mencuci baju. Saya menyayangkan hal itu karena mencemari lingkungan mereka sendiri.

Nah, berhentilah di sini.

Terkadang kita memiliki suatu keyakinan dan kebenaran hakiki yang kita yakini sendiri. Tapi tunggu dulu, setiap manusia merupakan individu bebas yang tidak boleh kita pengaruhi dan kita paksa menuju ke sebuah pemahaman yang kita yakini. Saya rasa setiap manusia bebas memilih jalan yang mereka percayai dan kepercayaan yang ingin mereka imani. Maka jangan berbicara tentang benar dan salah seakan-akan itulah yang paling benar atau paling salah. Sebagaimanapun kita mempercayai sesuatu, orang lain juga selalu punya pandangan yang mereka percayai sendiri sebagai sebuah kebenaran.

Dan karenanya, salah jika berpikir bahwa seharusnya masyarakat adat harus selalu tampak ‘indah’ di mata kita.

Kita ini siapa? Kitakah yang punya adat itu?

Bukan. Seharusnya kita memang hanya melihat dan melakukan apa yang mereka inginkan dari kita. Kita adalah pendatang, kitalah yang sebenarnya mengganggu. Saya rasa mereka akan selalu baik-baik saya tanpa kita. Maka kesombongan kami sebagai orang yang lebih tahu tentang perkembangan modern lah yang akhirnya mengalahkan kepedulian kita pada awalnya.

Selayaknya manusia yang menumpang, kita lah yang seharusnya beradaptasi dengan lokasi yang kita datangi, bukan malah kita memaksa mereka untuk beradaptasi dengan kita. Manusia seharusnya berada pada posisi yang sama, tidak ada yang mengatur dan diatur. Nah, jika adaptasi itu telah berhasil kita jalani, maka interaksi akan semakin kaya.

“Kepedulian tanpa intervensi”

Itulah pesan senior saya sore ini. Tiga kata yang harus sama-sama kita resapi makna dan maksudnya.

Hal yang sangat susah untuk tidak berpendapat pada sesuatu yang melanggar keyakinan kita akan kebenaran. Tapi mari jangan hanya berpikir dari sudut pandang kita, tetapi juga dari sudut pandang kedua dan ketiga. Selalulah memposisikan diri sebagai orang yang kita ajak bicara. Nantinya pada pencapaian akhir, bukan hanya tentang kepedulian yang kita dapatkan, tapi lebih lagi;

“Memanusiakan manusia lain”

Sama seperti studi arsitektural suatu daerah, maka bukan melestarikan arsitektur setempat yang seharusnya dituju. Tapi lebih kepada rekam jejak; sebuah rekaman tentang perubahan dan perkembangan. Justru jika kita bisa merekam itu dengan baik, itu yang akan lebih bermanfaat. Kita biarkan saja manusia-manusia itu menemukan kebebasan yang mereka inginkan dengan menjadi diri mereka sendiri. Dan selama mereka meminta, maka lakukanlah. Sedang jika mereka menolak , maka tinggalkanlah apa yang kamu yakini untuk sementara.

__

Sedikit tambahan tentang pandangan saya.

Saya sebenarnya sedang belajar untuk menghargai manusia lain dengan cara yang lebih simpel. Karena pada dasarnya manusia itu bebas, maka jangan pernah mengintervensi apa yang mereka percayai sendiri, selama itu tidak berpengaruh ke orang lain (dalam artian melukai). Saya rasa dengan itu saja kita sudah cukup modal untuk melangkah menjadi masyarakat yang lebih manusiawi. Lalu kemudian tinggal bagaimana kamu menjadi orang yang rendah hati, dan berlapangdada.

bincang-bincang sore, 29 Oktober 2013

wordsflow