Mata dan Kata-kata

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya sedang kepikiran tentang beberapa hal yang belakangan sedang saya perhatikan lebih dalam.

Setelah perbincangan dengan senior saya, seperti yang telah saya ceritakan di postingan sebelumnya, banyak hal yang akhirnya cukup menyadarkan kembali pikiran saya tetang arti penting dunia ini. Lagi-lagi, jika menurut saya, memang manusia lah yang paling penting di sini.

Hutan Adat

Terkadang banyak bahasan yang membicarakan tentang masyarakat adat, tentang rumah mereka, pakaian mereka, barang-barang yang mereka buat, upacara-upacara adat yang mereka lakukan, dan lain sebagainya yang dianggap oleh banyak orang sangat menarik untuk dipelajari. Tapi, sesungguhnya yang pada akhirnya dilupakan adalah kehidupan mereka sebagai manusia juga. Bagaimana kearifan lokal yang mereka miliki berkenaan dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang telah mereka jaga sejak lama.

Sayang memang, pada akhirnya yang dicari oleh kebanyakan orang hanyalah keindahan, lalu cepat ataupun lambat, dengan sopan maupun kasar, orang-orang ini—yang menganggap diri lebih mengerti—lalu menyingkirkan hal-hal yang tidak mereka sukai; hal-hal yang menurut mereka tidak indah.

Pada akhirnya masyarakat adat ini kehilangan banyak hal yang sebelumnya baik-baik saja.

Dalam sebuah Koran nasional pernah dibahas mengenai perubahan luas area hutan adat di Dayak. Alibi yang ada adalah guna pemanfaatan sumber daya alam sesuai dengan pembagian area hutan. Namun apa yang terjadi, luas hutan adat yang ‘dimiliki’ oleh Suku Dayak hanya menyisakan—entah saya lupa—berapa persen saja.

Pembahasan mengenai perubahan status hutan ini dialami oleh banyak masyarakat adat di Indonesia, terutama karena hampir semua masyarakat adat masih menggantungkan hidup mereka pada hutan yang ada di Indonesia. Tidak hanya hidup mereka saja yang pada akhirnya terganggu dengan perubahan status ini, namun juga dengan rutinitas mereka sebagai masyarakat adat tadi.

Contohlah masyarakat Kajang yang memang menjadikan hutan sebagai hutan adat di sana. Tana Towa, yang berarti tanah tua merupakan nama desa mereka yang sesungguhnya, yang secara implisit juga menandakan bahwa mereka sangat menghargai tanah yang mereka miliki. Namun isu perubahan status hutan adat menjadi hutan lindung mau tidak mau membuat tatanan yang telah mereka miliki sejak awal harus berubah begitu rupa mengikuti aturan yang ada tersebut.

Mungkin maksud pihak pemerintah baik untuk menjadikan hutan tersebut menjadi hutan lindung. Tapi tunggu dulu, tidak selayaknya kita hanya memandang pada satu perspektif saja mengenai kebijakan ini. Menurut saya masih sangat tidak bisa diterima begitu saja jika kemudian ini direalisasikan.

Pada fakta yang saya lihat, orang-orang yang pada akhirnya memilih untuk tinggal di suatu wilayah hutan, atau bahkan yang ‘memiliki’ hutan disekitarnya, justru mereka lah yang melindungi hutan itu dengan sungguh-sungguh. Pada akhirnya sebenarnya mereka lah yang memang menjaga hutan mereka sendiri, karena pada dasarnya mereka sadar bahwa hutan adalah hidup mereka.

Dalam logika saya, jika yang ditakutkan di sini adalah penyalahgunaan sumber daya hutan oleh warga sekitar secara berlebihan, saya rasa itu bukan julukan yang sesuai untuk diberikan kepada warga-warga ini. Pertama karena dengan cara-cara mereka yang konvensional dan tradisional dalam mengambil beberapa hasil hutan, saya rasa mereka tidak akan memberikan dampak yang terlalu signifikan terhadap hutan itu sendiri. Hutan akan dengan mudah ‘mengobati’ dirinya sendiri dengan sembari warga terus menerus mengambil hasilnya. Itu akan berjalan dengan seimbang.

Justru yang pada akhirnya memberikan dampak sa ngat besar adalah adanya penambangan batu bara dan pembalakan liar oleh perusahaan kayu di area hutan ini.

Saya tidak serta merta menentang itu, karena toh saya juga memakai semua hasil dari penambangan yang merusak itu. Tapi saya mungkin lebih banyak menanggapi masalah alasan-alasan yang berhubungan dengan deforestasi.

Menurut saya, jika memang ingin menangani masalah deforestasi, ya yang disasar adalah perusahaan besar yang melakukan pengambilan sumber daya di wilayah hutan negara. Dibenahi hukum dan birokrasi perijinannya. Bukan dengan mengganti hutan adat menjadi hutan lindung atau membuat taman nasional baru.

Sayang menurut saya. Indonesia punya banyak hal yang bisa dibenahi dan diolah, tapi pada akhirnya ornag hanya ribut memikirkan hal-hal yang sebenarnya penanganannya tidak serumit itu.

Maaf jika, ini hanya sekilas pandangan masyarakat awam. Oleh karena mungkin tidak pernah ada banyak info tentang kerusakan atau bahkan penghijauan oleh pemerintah. Semua informasi yang saya dapat malah justru dari lembaga-lembaga swasta yang melakukan survey sendiri, atau dari beberapa teman Mapala yang memang pernah terjun langsung di lembaga itu atau ke lapangan langsung.

Kebanyakan Taman Nasional di Indonesia saya rasa juga butuh banyak potensi untuk bisa mengeksplorasi sebegitu luas areanya hingga ke bagian yang paling detil. Setengah-setengah lah penanganannya. Padahal hal ini terbilang sangat penting.

REDD+

Isu REDD+ telah gencar dibicarakan di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Isu ini berkenaan dengan upaya pengurangan kerusakan hutan yang ada di Indonesia dengan program REDD+ yang digagas oleh United Nation.

Namun, dengan adanya REDD+ yang akan segera berjalan di Indonesia ini, perlu semacam pembicaraan lebih lanjut dengan mereka yang pada akhirnya nanti bakal terjun langsung untuk mengurusi program ini. Karena program yang berhubungan dengan masyarakat pengelola dan masyarakat lokal yang menggantungkan hidupnya pada hutan jika tidak direncanakan dengan baik pada akhirnya hanya akan menimbulkan konflik sosial di masyarakat. Apalagi yang akhirnya diurusi di sini adalah masalah hak dan uang, dua hal yang selalu menjadi konflik seru di Indonesia.

Maka, mungkin sebagai warga yang hidup di wilayah dengan akses informasi mudah, marilah kita sama-sama giat mencari informasi yang berhubungan dengan masyarakat kita sendiri.

Saya rasa, dengan munculnya kesadaran yang besar dari kita untuk benar-benar saling peduli, kita tidak perlu lagi berlaku ‘hewani’ dalam menyelesaikan masalah yang ada. Menjadi manusia yang menerima dan mau merasa sakit itu memang tidak mudah. Namun jika keteguhan itu dimiliki oleh semua orang, saya rasa kondisinya akan berbeda.

Dan baiklah, demikian sedikit cuap-cuap dari saya.

Selamat malam

wordsflow