Bincang Sore

by nuzuli ziadatun ni'mah


Rabu kemarin adalah hari yang cukup berkesan untuk saya. Berawal dari info seorang teman, akhirnya saya pergi ke Klinik Kopi untuk ketemu sama seorang arsitek hebat dari Bandung; Yu Sing. Memang bukan sedang ada kegiatan atau apa, ia hanya sekedar berkunjung ke tempat itu, dan terjadilah perbincangan sore.

Bukan perbincangan berat memang, namun cukup ‘mengganggu’. Singkatnya, saya menyimpulkan bahwa mungkin, banyak orang yang memiliki pemikiran sama tentang negara kita. Banyak orang-orang yang sudah berpikiran hebat dan bahkan telah bergerak untuk merubah sesuatu. Sayangnya, entah mengapa semua orang ini masih terpecah belah dan belum ada penyatuan suara.

Beberapa hari yang lalu kami juga kedatangan komunitas Blogger Indonesia. Mereka pun saya rasa bukan orang biasa. Mereka orang hebat dengan pandangan yang bisa menggungah manusia-manusia muda Indonesia untuk melakukan sesuatu.

“Sudah bukan saatnya lagi kita menunggu Presiden yang bisa memimpin,” 

_Yu Sing

Yu Sing sempat membahas beberapa hal yang cukup menyemangati saya untuk mau lulus kuliah. Pada dasarnya, kita tidak perlu takut untuk mulai bekerja, karena pada akhirnya yang kita dapatkan di kuliah akan kita mulai lagi dari awal ketika kita bekerja. Beliau juga membahas mengenai peran arsitek yang telah banyak dikesampingkan. Kita (calon arsitek) telah terlalu termakan keinginan untuk menjadi kaya, untuk mengembangkan sesuatu yang baru dari material-material baru. Padahal bahkan kita lupa bahwa hal yang paling sederhana namun paling penting adalah mendesain rumah. Bidang desain arsitektur yang telah banyak ditinggalkan.

Dengan begitu banyak permasalahan perumahan di Indonesia, dan banyaknya pemukiman yang tumbuh, selalu ada kekurangan rumah setiap tahunnya. Dan ya, karena pada dasarnya yang dibangun setiap tahun itu bukan rumah untuk mereka yang membutuhkan. Tetapi rumah untuk mencari kekayaaan. Rumah yang hanya sekedar untuk investasi saja.

Saya rasa, memang hanya sedikit orang yang cukup peduli dengan hal semacam itu. Bukan hanya di bidang arsitektur, tetapi bahkan di kedokteran, pendidikan, dan sektor lainnya.

Ah, ada satu hal lain yang dibahas sore kemarin. Yu Sing bertanya tentang peran UGM di lingkungan sekitarnya. Yah, setelah 64 tahun ada di lingkungan Bulak Sumur, apa kontribusi terbesar UGM untuk warga sekitarnya, secara langsung? Entahlah, saya pun merasa efek baik yang datang pada warga sekitar juga hanya berupa chain effect dari banyaknya pendatang, bukan benar-benar diprogramkan oleh UGM. Dan ya, mari bertanya kepada diri sendiri, apa yang bisa kita lakukan untuk lingkungan kita?

Dalam Teori Kepemimpinan disebutkan tentang 4 macam tipe pemimpin dan 4 tingkat kematangan kelompok. Yang lebih banyak dibahas memang cara memimpin suatu kelompok, tapi saya juga beranggapan bahwa penting, dan mungkin lebih penting bagi kelompok itu untuk bisa bersikap terhadap pemimpinnya. Terutama jika memang pemimpin yang sama-sama pernah dipilih bersama melakukan hal yang merugikan kelompok.

Nah, kontra terhadap kebijakan pemimpin telah banyak dilontarkan oleh warga negara kita, namun mengapa tetap tidak ada perubahan? Kembali lagi pada kekuatan kelompok yang saya sebut sebelumnya. Saya rasa ‘kontra’ yang ada masih belum bisa mengalahkan kekuatan ‘pro’ yang sedang berjaya di Indonesia. Banyak kontra yang sekedar disampaikan oleh komunitas kecil. Mungkin, jika komunitas ini pada akhirnya ada yang menjembatani untuk menjadi sebuah gerakan besar, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negara yang mengalami perubahan besar-besaran.

Pada dekade ini, jumlah usia produktif muda Indonesia (15-35 tahun) sedang berada pada persentase yang tinggi, yaitu sekitar 34% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia. Banyak yang bilang jika bonus demografi ini bisa dimanfaatkan untuk membawa Indonesia bangkit sebagai negara produsen. Tapi saya merasa jika hal itu juga tidak didukung dengan baik oleh pemerintah. Bahkan banyak kreator yang pada akhirnya stagnan karena masalah birokrasi.

Atau mungkin jika memang kita cukup peduli dengan apa yang terjadi dengan negara ini, suka tidak suka kita harus ikut terjun ke dunia politik. Sayangnya, saya juga bukan orang yang ingin berpolitik. Bahkan jika saya diharuskan untuk memilih pemimpin negara ini pada pemilu depan, saya rasa saya tidak sedang memiliki pilihan. Pilihan saya hingga saat ini adalah dengan tidak menjatuhkan pilihan pada siapapun.

Random. Random. Random.

Perbincangan sore yang selalu berulang setiap sore. Entah hanya sebatas pemikiran dalam diri sendiri atau disampaikan dalam kelompok kecil. Namun keresahan dan kebimbangan ini terus berjalan menuju ke kedalaman. Merasa semakin tua dan semakin mendekati masa kerja. Semakin tidak tentu. Semakin resah.

Yah, mungkin Yu Sing bukan orang pertama yang membicarakan masalah ini dengan saya. Tapi pembicaraan mengenai dunia arsitektur dan pandangan beliau cukup membuat saya tergugah untuk menulis.

Jadi terima kasih….🙂