Keperawanan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sudah sejak semingguan yang lalu saya ingin menulis topik ini, karena yah, tetiba keperawanan menjadi bahasan beberapa orang di sekitar saya. Tentu sebagai seorang wanita saya juga turut tergelitik untuk membahasnya, orang saya (wanita) yang dibahas kok.

Sebelumnya, Selamat Tahun Baru!! Meski saya bukan orang yang percaya pada evaluasi akhir tahun dan resolusi tahun baru, tapi saya turut berbahagia karena semua orang pun senang ada tahun baru. Sebelum membahas ke keperawanan lebih lanjut, ayo bahas tahun baru sejenak.

Bagi saya, tahun baru hanya semacam pengingat bahwa tahun yang lain telah terlewat. Sebenarnya saya pun melakukan evaluasi tahunan semacam itu, tapi bukan saat tahun baru saya melakukannya. Lebih cocok bagi saya untuk selalu merefleksikan segala hal di hari ulang tahun saya. Memikirkan masa depan dan resolusi-resolusi saat selesai ujian akhir semester atau saat sedang melamun. Dan ya, saya jadi nggak merasa penting untuk membuat resolusi di awal tahun. Setiap hari sudah cukup terangkum di dalam pikiran saya.

Nah, lanjut ke keperawanan.

Saya rasa topik ini masih merupakan topik yang tabu untuk diperbincangkan secara terbuka, meskipun saya yakin semua orang pernah membicarakannya dalam forum kecil.

perawan /pe·ra·wan/ 1 n anak perempuan yg sudah patut kawin; anak dara; gadis; 2 a belum pernah bersetubuh dng laki-laki; masih murni (tt anak perempuan): meskipun umurnya 30 tahun, ia masih –;

keperawanan /ke·pe·ra·wan·an/ n perihal perawan; kesucian (kemurnian) seorang gadis; kegadisan

Sebenarnya, jika dibandingkan dengan apa yang didefinisikan oleh KBBI, tampaknya makna keperawanan ini telah menyempit. Selama saya berdialog dengan teman-teman saya perihal keperawanan ini, banyak yang langsung njujug ke arah seksualitas. Padahal jika dikaji dari pengertiannya, saya rasa makna perawan masih jauh lebih tinggi dari sekedar itu. Artinya perawan di sini adalah orang yang memang belum pernah di-perawan-i oleh orang lain. Ngerti lah ya tanpa harus saya jelaskan lebih lanjut.

Tapi di jaman ini, siapa sih yang memang benar-benar masih perawan kecuali mereka yang memang hidup dalam tataran aturan yang sedemikian ketat (misalnya ada di masyarakat adat).

Saya nggak terlalu bisa menjabarkan sejarah dengan baik, menghafal tanggal-tanggal atau semacamnya, tapi hal semacam keperawanan bukan topik yang baru-baru ini saja diperbicangkan. Jika melihat film-film yang paling tua di Indonesia pun, banyak yang telah memasukkan bahasan ini di sana. Bahkan, selama masa penjajahan hal semacam ini juga telah menjadi bahasan.

Lalu, apakah sebenarnya orang-orang tidak peduli pada keperawanan?

Di jaman sekarang yang serba bisa dibeli dengan uang, saya rasa keperawanan juga bukan hal yang cukup ‘pantas’ untuk diperjuangkan. Kemudahan informasi dan ketersediaan media membuat orang dengan mudah menyebarkan apapun (saya juga termasuk). Dalam komik, novel, film, lawakan, orang membahas keperawanan dengan biasa-biasa saja.

Yah oke lah, terkadang saya merasa hal itu juga penting untuk diinformasikan ke khalayak umum, toh saya sebenarnya juga belajar banyak dari media-media semacam itu. Dan lupakan masalah media dan kemudahan informasi ini, karena saya rasa bahasannya tidak akan pernah usai.

Lanjut, saya hanya ingin memaparkan apa yang saya pikirkan tentang keperawanan, karena lagi-lagi setiap orang memiliki pemikiran dan opini tersendiri mengenai keperawanan. Tidak bisa tidak, jika ada orang lain yang membicarakan keperawanan terutama lelaki, saya akan selalu merasa nggak terima. Dalam pikiran saya, bukan mereka yang berhak membahas keperawanan ini. Hal itu dimiliki oleh kaum saya, jadi jika saya boleh egois, harus kaum saya juga yang membahas masalah keperawanan ini.

Terkadang saya ingin secara langsung bertanya kepada banyak orang, apakah keperawanan penting? Apakah menjadi perawan tidak merefleksikan diri seseorang dengan baik? Ataukah menjadi perawan bukan hal penting lagi bagi semua orang?

Terlepas dari apapun pendapat orang lain, saya merasa menjadi perawan adalah hal yang sangat penting. Menjadi perawan bukan saja menjadikan seorang wanita terbukti menghargai dirinya sendiri dan calon keluarganya nanti, tapi menjadi perawan hingga waktunya nanti menjadikan kita orang yang jauh lebih sabar. Keperawanan juga menurut saya menjadikan derajat seorang wanita menjadi lebih tinggi.

Dalam Supernova, seorang Diva pernah berkata bahwa yang penting itu pikiran kita tidak pernah dieksploitasi, meski raga kita sudah. Yah oke lah, saya pun menghargai orang-orang yang semacam itu, berprinsip dan tahu apa yang sedang ia lakukan. Entahlah, mungkin saya hanya nggak terima jika ada perempuan yang dengan mudahnya melepas keperawanannya. Saya hanya nggak terima ada orang yang membahas keperawanan tanpa menghargai pendapat mereka yang benar-benar masih menganggap keperawanan itu penting. Dan ya, bagaimanapun, saya juga nggak terima ada lelaki yang dengan mudahnya membahas keperawanan dan berusaha untuk menghapuskannya.

Memang segala hal sekarang mudah diakses. Segala jenis film dewasa juga dengan mudah didownload secara gratis. Tapi meskipun kalian menikmati menontonnya, saya harap hal itu nggak dipraktikkan sampai kalian cukup untuk menikah dan secara sah boleh melakukannya.

Bukan berarti saya terus anti pada orang-orang yang demikian. Saya hanya menegaskan bahwa saya orang yang masih menghargai hal semacam itu. Jika pun setiap orang pernah berpikir untuk menghilangkan keperawanannya atau ada laki-laki yang ingin menghilangkan keperawanan orang lain, pikirkan lah orang-orang di sekitar kalian. Bagaimana jika, kamu adalah anak dari hasil kecerobohan semacam itu, bagaimana jika itu terjadi pada saudara perempuanmu?

Ayo lah, dunia timur tidak pernah mengajarkan hal itu pada kita. Dewa-dewa kita tidak lahir dari hal semacam itu. Bahkan dewi Kunti pun masih perawan saat melahirkan Karna dari telinganya. See, kita tidak hidup di tanah dimana Zeus yang menjadi dewa. Kita hidup di tanah timur yang selalu menjujung tinggi seorang wanita. Dan ya, saya menghargai hal semacam itu.

wordsflow