Kecelakaan Kerja

by nuzuli ziadatun ni'mah


Tetiba saya ingin menulis tentang kecelakaan kerja yang terjadi di sekitar saya atau yang memang pernah saya baca di koran atau di artikel apapun.

Kecelakaan kerja, pada dasarnya tidak terlepas dari gaya kerja para pekerja khususnya di Indonesia. Di sini saya hanya ingin berpendapat sesuai dengan apa yang selama ini saya lihat di jalan-jalan, di gedung yang sedang di bangun, atau yang sering dibicarakan oleh orang-orang profesional tentang para pekerja.

Indonesia, merupakan sebuah negara dengan begitu banyak potensi tenaga kerja, yang berbangga bahkan hanya menjadi pekerja saja. Dibekali dengan kenekatan yang telah dikenal oleh khalayak umum tentang manusia-manusia Indonesia, banyak yang akhirnya mau bekerja bahkan tanpa jaminan keselamatan dan standar keamanan yang sesuai. Mari mengambil contoh di dunia yang saya geluti, yaitu dunia konstruksi.

Pesatnya pembangunan di Indonesia baru-baru ini memang cukup membawa angin segar kepada Indonesia sebagai negara berkembang. Namun sayang sekali karena kemajuan itu tidak dibarengi dengan sistem keamanan yang memadai. Bahkan terkadang saya merasa bahwa bekerja dalam bahaya yang demikian justru menyenangkan hati manusia-manusia Indonesia. Banyak orang yang akhirnya justru menjadikan sebuah kebanggaan jika mampu menakhlukkan tantangan. Banyak yang dengan bangga memanjat gedung tanpa pengaman, seakan-akan itu adalah hal yang dibenarkan.

Tanpa peduli apakah itu membahayakan dirinya ataupun instansi di atasnya atau apapun yang berhubungan dengan dirinya, pada akhirnya yang dikejar hanyalah kepuasan mengalahkan rasa takut dan kebanggaan karena telah berhasil mengalahkan tantangan berat. Seperti halnya anak kecil yang selalu diperingatkan untuk tidak memanjat pohon terlalu tinggi, para pekerja Indonesia tetap terus memanjat bahkan setelah diperingatkan berkali-kali oleh banyak orang.

Ada sebauh cerita dari seorang senior saya di bagian safety sebuah perusahaan. Dia bercerita bahwa banyak dari para pekerja yang mau memakai helm, sepatu safety, dan sebagainya hanya ketika ada pemeriksaan rutin dari bagian safety perusahaan. Dan ya, mereka pada akhirnya memakai perlengkapan safety hanya sebagai formalitas dalam memenuhi kewajiban yang diberikan oleh perusahaan, bukan karena kesadaran bahwa sebagai pekerja kita butuh peralatan untuk tetap aman.

Di tempat KP saya bahkan hanya beberapa orang yang mau menggunakan sepatu, bahkan sekedar sarung tangan selama melakukan pekerjaan mereka. Banyak juga yang bahkan sering bercanda di ketinggian tempat mereka bekerja tanpa alat pengaman sama sekali.

Pertanyaannya; apakah si pekerja yang terlalu bebal atau memang perusahaannya yang nggak peduli?

Jawaban saya dari pengamatan yang saya lakukan; keduanya tidak sungguh peduli dengan hal itu.

Pekerja yang selama ini saya temui tidak pernah melakukan protes atas keamanan yang kurang terhadap mereka. Instruksi dari perusahaan untuk berpakaian safety pun hanya sebatas tempelan di dinding saja. Sedangkan perusahaan yang mempekerjakan mereka sama juga tidak berusaha untuk membuat pekerja yang ada mematuhi peraturan yang ada. Yang penting bagi keduanya adalah SOP yang mereka miliki telah lulus pemeriksaan. Mereka telah melakukan instruksi yang sesuai dengan standar tersebut.

Masalah pelaksanaan di lapangan? Yah, siapa yang peduli.

Nah, jika sudah demikian, mau diapakan lagi semua kecelakaan kerja yang ada itu? Seakan-akan adalah hal yang wajar jika setiap kecelakaan kerja disembunyikan dari publik. Seakan wajar jika suatu ketika ada yang meninggal karena jatuh dari gedung atau kejatuhan material bangunan. Yah, seakan semuanya tampak baik-baik saja.

Jika, memang masih demikian buruk sistem keamanan pekerja di Indonesia, jelas bagi saya mengapa Indonesia masih saja tidak dapat membangun bangunan yang lebih wah dibanding yang ada sekarang. Bukan saja keamanan yang sangat kurang, tapi siapa sih yang mau berinvestasi di proyek yang tidak dijaga dengan baik seperti itu?

Dan ya, mari sama-sama peduli dengan keselamatan kerja orang lain. Kita tidak bekerja untuk mati kan?

wordsflow