Idea, Ideas

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sudah tiga hari ini saya menulis rutin di blog ini. Seraya bahagia akhirnya bisa punya ide menulis setiap harinya.😀

Apa yang ingin saya bahas hari ini? Yah, sejenak menyinggung masalah kuliah lah. Kegalauan semua mahasiswa tingkat akhir di kampus saya. Judul Pra Tugas Akhir.

Sebagai mahasiswa Arsitektur, kami memiliki sistem yang sedikit berbeda dengan jurusan lain di kampus saya. Tugas akhir kami dimulai dari semester 7 dengan penyusunan Pra Tugas Akhir. Pra TA itu semacam penyusunan analisis masalah sebelum mulai mendesain bangunan atau kawasan. Output finalnya sampai menghasilkan konsep baik konsep makro maupun konsep mikronya. Itu berlangsung selama satu semester penuh di semester 7. Dan saya? Ya, saya mundur satu semester dari yang seharusnya.

Nah, si Pra TA ini akan menjadi semacam jalan final dari karir mahasiswa Arsitektur di kampus saya selama 4 tahun kuliah. Pra TA akan berlanjut ke studio Tugas Akhir selama 4 bulan. Ya anggaplah judul itu akan kami geluti selama satu tahun penuh.

Pengaruhnya?

Ya jadinya saya harus dengan yakin memilih salah satu dosen untuk menjadi dosen pembimbing saya dan juga memilih judul yang saya yakin akan saya kerjakan dengan bahagia selama satu tahun ke depan. Bukan saja sembarangan bangunan yang bisa saya pilih untuk dijadikan judul Tugas Akhir saya, tapi latar belakang yang kuat juga menjadi faktor yang sangat penting dalam penentuan judul. Dan saya bingung.

Menurut saya, sangat banyak permasalahan yang terjadi terutama di sektor pembangunan di Indonesia. Banyaknya masalah kekurangan rumah tinggal dan ruang publik di mana pun juga di kota-kota di Indonesia, saya rasa cukup bisa memberikan gambaran yang baik dalam mencari isu-isu segar di masyarakat.

Terkadang saya bertanya-tanya; jika ada sebuah tema yang selalu diulang oleh mahasiswa di setiap Tugas Akhir, bukankah artinya tidak ada perkembangan yang signifikan pada setiap kasus itu? Contoh yang selalu ada di setiap Tugas Akhir; pasar tradisional, sekolah, hotel, community center, ah banyak lah.

Mungkin akan lebih baik menurut saya jika sejak awal dosen-dosen memberikan banyak kasus yang terjadi Indonesia untuk diambil sebagai Tugas Akhir. Pada akhirnya itu akan memunculkan isu yang lebih banyak dan lebih kompleks, karena dosen-dosen yang ada menurut saya memiliki spesialisasi tersendiri pada desain-desain mereka. Dan dengan demikian isu yang sama tidak akan terulang lagi di Pra Tugas Akhir berikutnya.

Entah sih, saya juga belum sampai ke tahap Pra Tugas Akhir, jadi saya pun tidak terlalu tahu mekanismenya. Yang saya lihat, tidak ada proposal yang ditolak oleh dosen. Proposal Pra Tugas Akhir hanya dipakai sebatas untuk memilih dosen pembimbing Tugas Akhir. Ya, Pra Tugas Akhir, mungkin juga sama dengan skripsi di jurusan lain akan menjadi sebuah fase yang selalu bisa menjadi bahan pikiran mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir.

Pada akhirnya, menjadi sebuah pemikiran besar untuk saya dalam memilih tema dan judul Tugas Akhir saya nanti. Dengan sejarah Tugas Studio yang tidak pernah saya kerjakan dengan serius, teori-teori yang sudah mulai memudar dari ingatan, inovasi teknologi konstruksi yang tidak pernah saya update, semuanya terkumpul menjadi awan kelam buat saya. Antara nggak siap dan harus siap, keduanya adalah dua hal yang berbeda. Sementara orang-orang di sekitar saya sudah mulai membicarakan tujuan kerja nanti, saya sama sekali tidak punya ide akan kemana saya nanti. Semacam minat tapi nggak niat. Semacam ingin terus muda, terus main, terus menjadi anak-anak.

Meski demikian, bukan berarti saya juga tidak punya peta masa depan yang ingin saya capai dalam beberapa tahun mendatang, semuanya telah terpetakan dengan baik di benak saya. Hanya saja, jika, seandainya bisa, saya ingin sekali lagi menjadi anak-anak. Bagaimanapun saya masih percaya bahwa dunia ini adalah milik anak-anak.

Semua kegalauan dan kebimbangan saya juga tidak akan pernah sembuh hingga tahun depan. Pun saya yakin akan selalu ada kegalauan baru di setiap akhir kegalauan yang saya miliki.

Begitulah, Tugas Akhir sedang menjadi bahan pikiran yang saya kaji dengan sungguh-sungguh….

wordsflow