Jika

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya sering berangan-angan dan memulainya dengan kata ‘jika’. Menurut saya, kata itu dapat dengan bebasnya membuat kita berimajinasi sebebas mungkin, entah dengan keinginan, harapan, ataupun khayalan.

Jika, sebuah kata yang ajaib.

Sambil lalu, saya tidak akan terlalu membahas tentangnya. Yang lebih ingin saya bahas adalah kejadian sore ini tentang keadaan kota saya, sebuah kota kecil yang sedang tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik; Jogja.

Buat saya, kota ini selalu tampak indah, entah se-semrawut apa dalam kesehariannya.

Sore ini, saya sedang dalam perjalanan menuju ke kampus setelah seharian mengurung diri di dalam rumah. Pada setiap perjalanan saya, pikiran saya selalu tertuju pada jalanan. Entah itu pada kondisi jalanan, orang-orang di jalan, kegiatan di jalan, kendaraan, atau segala hal, termasuk bayangan-bayangan mengerikan tentang kecelakaan. Pokoknya pikiran saya jauh dari daratan saat saya sedang di jalan, terutama di saat saya sedang sendirian, mendung, dan hari menjelang gelap.

Perjalanan dari rumah menuju ke kampus sebenarnya terasa biasa saja. Penggal jalan yang paling saya suka saat melakukan perjalanan 1 jam itu adalah bagian jalan yang paling dekat dengan rumah saya; selalu sepi, selalu menyenangkan, selalu bagus, selalu mulus rasanya dan seakan semuanya tidak terasa buru-buru.

Segalanya berubah saat motor saya masuk ke area Jalan Bantul, segalanya menjadi terlalu terang, terlalu penuh dengan motor. Dan lagi-lagi, ada banyak ‘jika’ di pikiran saya selama perjalanan itu.

Saya terkadang merasa tidak seharusnya ibu-ibu diijinkan mengendarai motor sendirian. Selama saya berkendara, hampir setengah dari ibu-ibu (di atas 40 tahun) mengendarai motor dengan kecepatan rendah tepat di tengah jalan. Buat saya sendiri, ini justru membahayakan, karena motor yang demikian yang tidak bisa kita prediksi arah pergerakannya, karena kebanyakan juga jarang memanfaatkan lampu sen motor mereka.

Hal yang juga membuat saya sering mengambil ancang-ancang adalah saat orang dari seberang masuk ke jalur kiri. Lagi-lagi menurut saya, pengendara motor yang paham adalah mereka yang langsung masuk ke jalur kiri, memacu kendaraan dengan kecepatan wajar di tengah dulu, baru perlahan menepi ke tepian jalur kiri. Saya jauh merasa lebih tenang menghadapi motor yang demikian dibandingkan motor yang langsung memotong ke jalur kiri sampai pinggir, lalu berjalan perlahan.

Lanjut, ada juga tipe pengendara yang mendahului pengendara lain tapi tidak dengan kecepatan tinggi. Misalnya ada orang yang berjalan di pinggir dengan kecepatan 35 km/jam, lalu ada yang berusaha mendahului dengan kecepatan 37 km/jam. Lama, amat sangat lama, dan justru malah mengganggu laju kendaraan lain.

Dari banyak tipe pengendara motor, mungkin cukup tiga di atas yang ingin saya paparkan. Sedangkan dalam prinsip berkendara saya, kita akan selalu aman asalkan selalu waspada dengan kendaraan di depan dan di samping kita. Karena sekali lagi, ‘jika’ semua orang berpikir demikian juga, maka semua akan tetap baik-baik saja.

Lanjut ya….

Ada beberapa hal lain yang juga selalu menjadi pertanyaan dalam pikiran saya. Pertanyaan seputar jalanan di kota saya.

Ya, Jogja sudah menjadi kota wisata, dan saya sangat bersyukur bahwa Jogja memilih menjadi kota yang demikian alih-alih menjadi kota industri atau kota bisnis. Tapi, dengan begitu maka sudah bukan saatnya bagi kota ini untuk tidak bersiap dengan semua kemacetan yang ada.

Sebutlah sore ini, dimana kemacetan semakin menjadi di area Jokteng Kulon.

Menurut saya (maaf lagi-lagi saya menggunakan kata ‘menurut saya’), seharusnya sebagai kota wisata, mungkin sebaiknya Jogja sudah sejak awal menyediakan jalur untuk jenis kendaraan yang memang ditujukan untuk wisata; andong, becak, sepeda. Dengan demikian semua hal itu tidak akan se-semrawut sekarang, bertarung di jalanan bersama dengan kendaraan bermotor yang lainnya.

Sistem parkir yang tidak rapi juga menyebabkan keluar-masuk bus dari kantung parkir juga ikutan semrawut, padahal sistem parkir yang demikian saya rasa sudah sesuai. Dan, dengan lebar jalan yang seperti sekarang, saya rasa sudah cukup menampung banyaknya kendaraan yang ada, hanya saja jika itu tidak dijadikan tempat parkir liar.

Banyak yang juga menjadi keliru. Karena di beberapa penggal jalan, banyak trotoar yang direnggut untuk dijadikan tempat parkir. Tapi sore ini saya melihat yang sebaliknya, dimana trotoar kosong sama sekali dan semua orang berjalan di badan jalan. Terkadang saya jadi merasa, aneh. Orang-orang ini menjadi aneh.

Mungkin semua yang ada di atas sudah amat sangat sering dibahas oleh banyak orang. Tapi ada juga beberapa hal yang mungkin juga butuh sorotan.

Ada beberapa hal yang sebenarnya ingin saya tanyakan kepada mereka yang mengerti tentang sistem pembangunan jalan.

Dalam bayangan saya, seharusnya saluran air itu adanya di bawah trotoar, sehingga justru tidak memberikan gangguan di jalan raya dengan adanya penutup saluran air. Perbaikan juga tidak akan terlalu mengganggu jalan raya. Toh sebenarnya itu juga membahayakan (asal tahu saja, sore ini saya hampir jatuh karena terpeleset kerikil yang bertebaran setelah hujan). Saluran juga bisa diposisikan di naikan trotoar, sehingga jalanan bersih dari gangguan-gangguan semacam itu.

Entahlah, saya hanya mencoba mencerna bentukan-bentukan jalan yang ada di kota-kota besar di luar negeri. Mungkin itu lebih cocok untuk diterapkan di Indonesia.

Yah, tapi itu lagi-lagi pendapat saya. Mungkin beberapa orang yang memang sudah jauh lebih mengerti masalah jalan raya dibanding saya punya saran dan kritik yang lebih baik.

Semoga tidak sedikit orang yang juga peduli pada hal-hal sederhana seperti ini.

wordsflow