Resah

by nuzuli ziadatun ni'mah


Mari merunut dari awal mulanya…

Setelah kesibukan kuliah selesai di semester ini, hari-hari saya terdedikasikan untuk buku, buku, dan renungan. Inferno yang menjadi buku pertama saya selama intensif membaca beberapa minggu belakangan. Ya, saya tidak sedang ingin membahas tentang isinya dengan segala nama seniman yang saya tidak hafal, tempat-tempat yang hanya bisa saya bayangkan, dan tokoh-tokoh yang hanya saya tahu beberapa. Yang sedang ingin saya bahas adalah topik ‘kesendirian’ yang beberapa kali disinggung di rentetan buku-buku yang saya baca, blog yang saya kunjungi, tulisan orang di sekitar saya, bahkan di buku harian saya sendiri.

Seorang tokoh di Inferno berusaha melakukan hal yang menurutnya benar, mencoba mencari dukungan, tapi akhirnya tidak ada yang benar-benar bisa memahaminya, hingga akhirnya ia mengasingkan diri dari apapun, dan berkutat dengan dirinya sendiri. Baginya yang tidak merasa dipahami oleh banyak orang, akhirnya menyendiri menjadi pilihan satu-satunya.

Terasing…

Entah bagaimana secara tidak sengaja kemudian topik ‘kesendirian’ ini saya baca kembali di banyak tempat. Jadi saya mengartikan ini sebagai pertanda bahwa saya pun mungkin sedikit banyak ingin menulis tentang hal ini.

Mengesampingkan apa yang saya tulis di atas, saya ingin bercerita tentang si loneliness ini.

‘Kesendirian’, saya temukan tidak lama dari sekarang, hanya beberapa saat yang lalu, 2 tahun? 3 tahun? Entahlah, saya tidak cukup baik dalam mengingat tanggal, meski saya baik dalam mengingat kejadian. Pertemuan saya dengan ‘kesendirian’ berlangsung dalam amarah. Jadi bisa saya artikan bahwa pada mulanya saya tidak menerimanya sebagai bagian dari hidup saya. Bahkan setelah lama berselang terkadang saya sebegitu tidak terimanya hingga saya terkadang meledak dalam emosi yang tidak saya mengerti. Di saat seperti itulah saya benar-benar mengasingkan diri, mencoba sekali lagi berdamai dengan ‘kesendirian’ itu.

Tapi, belakangan juga saya menemukan bahwa saat sendiri itulah sebenarnya saya sedang menghadapi dunia yang sesungguhnya. Karena hanya pada saya dan ‘saya’ yang lain saya bisa bertukar pikiran, mencoba mengaduk dan meramu, meracik dan menakar apa-apa yang seharusnya saya pikirkan.

Saya suka dunia tulisan, karena dengan tulisan saya bisa bicara tanpa jeda, saya bisa, yah… bicara tanpa merasa perlu khawatir. Perbincangan selalu membuat saya gelisah, dan khawatir, saya pun tidak tahu terhadap apa. Yang pasti setiap kata selalu harus saya susun sebaik mungkin di benak saya, meski pada akhirnya hanya berakhir dengan diam. Lagi-lagi saya kalah. Maka apa yang saya pikirkan kemudian hanya berakhir di buku harian, kertas-kertas yang tidak jelas kegunaannya, dan note kecil di handphone saya. Begitu saja keberanian saya dalam berpendapat dan mengungkapkan apa yang saya pikirkan.

Meski sebelumnya saya selalu tidak bisa berdamai dengan keterasingan itu, beberapa kali saya mendapati bahwa saya menikmatinya. Saya senang melihat orang yang sedang tenggelam dalam dunianya yang paling dalam, karena di saat seperti itu mereka jujur pada diri mereka sendiri.

Lantas, mengapa judul artikel ini Resah?

Karena saya memang sedang resah.

Ini berhubungan dengan perasaan, tapi mungkin bukan cinta.

Sedikit cerita saja, sebagai wanita berumur 21 tahun, saya belum pernah punya hubungan khusus dengan orang lain, meski saya sudah pernah bilang bahwa saya pernah jatuh cinta. Maka, begitu ada hal yang di luar rutinitas saya dalam berdamai dengan diri saya sendiri, saya tidak siap. Dalam beberapa hari belakangan ada semacam bagian yang salah di diri saya. Saya dan ‘saya’ yang lain tidak tahu, kami mandek di tengah jalan. Mungkin, ini salah saya yang tidak pernah keluar dari ‘kesendirian’. Sesekali mencari identitas baru hanya untuk sekedar cari pengalaman. Menipu diri? Bisa jadi, toh patut dicoba juga.

Lalu sembari tetap berusaha untuk tidak meledak dalam emosi yang aneh, saya akhirnya memahami satu hal penting; saya ternyata lebih tenang jika menyukai orang lain. Dan dengan perasaan kalah saya menyadari jika saya tidak siap untuk hal-hal yang demikian. Saya hanya suka membaca hal-hal yang romatis dan mesra, tapi tidak sanggup menjalani. Mungkin saya kelainan. Bisa jadi….

Juga, saya tidak bisa berdamai dengan rasa malu. Perasaan itu, adalah perasaan yang sama kekalnya seperti dendam buat saya. Jangankan lupa, setiap kejadian, setiap runutannya selalu terbayang-bayang di benak saya jika saya sedang kosong. Seperti rekaman abadi yang telah kena virus, ia tidak bisa hilang.

Yah, ini hanya pernyataan akan keresahan saya yang tidak penting. Mungkin uneg-uneg ini tidak cukup pantas untuk menjadi bacaan sore, apalagi jadi bahan renungan. Ini hanya sebatas klaim atas tempat sampah pribadi ini; wadah bagi buah pikiran yang harus dibuang. Karena jika tidak hanya akan membusuk menjadi bangkai, lalu menjadi penyakit.

Barangkali saya butuh psikolog? Bisa jadi….

wordsflow