Nothingness

by nuzuli ziadatun ni'mah


Pembahasan maupun pembicaraan tentang ketiadaan bukanlah bagian yang disukai banyak orang menurut saya. Pun saya amat tidak menyukai topik ini, bahkan hanya untuk sekedar dibayangkan semata. Itu menakutkan.

Tapi tidakkah memang manusia—seperti yang ditulis Dan Brown dalam Inferno—selalu melakukan penyangkalan dari apa yang tidak ingin mereka percayai?

Mungkin saya juga sedang melakukan penyangkalan yang satu itu.

Saya sering terbangun dengan kesadaran akan ketiadaan. Atau terkadang tidak dapat masuk ke dunia mimpi karena pemikiran tentangnya bergelayut menyebalkan dalam benak. Terkadang dalam proses dialektis dengan diri sendiri dalam perjalanan panjang juga akhirnya memunculkan topik ini secara lebih nyata, lebih menakutkan, dan jujur saja, saya merasa mengancam diri saya sendiri jika terus memikirkannya.

Ketiadaan bukan sesuatu yang bisa dihindari manusia. Terkadang pencapaian akhir adalah berdamai dengan rasa takut dan keresahan akannya. Itu jelas bukan lah proses yang pendek dan mudah. Ia serupa menelusur keberadaan akan diri kita secara utuh. Saya pun masih belum sepenuhnya mengerti tentang semua ini.

Gambaran menuju ketiadaan akan saya mulai dengan sebuah plot sederhana tentang kesendirian dan keterasingan.

Percayalah, manusia akan menjadi diri sendiri saat mereka tidak ditemani siapapun, tidak sedang bergantung dan menggantungkan diri kepada siapapun. Kesendirian juga yang kemudian membuka banyak pintu-pintu pemikiran yang tidak terduga dalam benak kita.

Pada suatu ketika yang lalu, saya hanya orang yang selalu berpikir duniawi dan bahkan tidak sungguh memikirkan apakah saya, siapa saya, dan segala pertanyaan yang menguatkan eksistensi saya sebagai seorang ‘saya’. Tidak secara mudah saya akhirnya bisa meraba dalam gelap tentang semua ini. Dari orang yang begitu penuh emosi dan meledak-ledak, saya berusaha mentransformasikan pemikiran saya pada diri saya yang lain, menipu diri sendiri dengan merepresi emosi-emosi tidak masuk akal itu menjadi sesuatu yang lebih bisa dikendalikan. Butuh lebih dari 20 tahun untuk melakukan semua itu dan sampai kini pun saya masih belum mencapai garis akhirnya. Sebegitu berat kah mencapai kedewasaan yang ideal?

Sebenarnya saya juga orang yang tidak terlau percaya bahwa ada orang yang benar-benar bisa mencapai kedewasaan itu secara penuh. Itu terlalu sempurna untuk seorang manusia. Buat saya, dengan segala keberagaman yang tidak dapat dijabarkan dari seorang manusia, mengapa hanya ada sebuah ‘kedewasaan’ yang ditetapkan oleh banyak orang? Tidak kah itu terlalu sederhana untuk menunjukkan titik tertinggi pencapaian emosi manusia? Entah lah, saya juga bukan orang Psikologi yang bisa menjabarkan ini dengan baik.

Kembali pada topik ketiadaan yang sedang ingin saya bahas.

Dan dengan kesadaran akan kesendirian itu, pintu menuju ketiadaan jadi terbuka lebar.

“Apa yang ada setelah kematian?” itu pertanyaan pertama

“Setelah mati kemana dunia akan berakhir?” itu pertanyaan selanjutnya

“Siapa yang menjadi tokoh utama di dunia ini? Yang akan tetap terus ada bahkan ketika semuanya tidak ada?” pertanyaan ke tiga

“Apa kamu yakin konsep ingatan kita akan tetap sama setelah kita mati?” pertanyaan ke empat

“Akan jadi apa kita setelah semuanya menghilang?” pertanyaan ke lima

“Apa yang akan kita rasakan setelah hidup kita terenggut?” pertanyaan selanjutnya

“Apa…,”

Ah, saya tidak sanggup melanjutkan pun membahasnya.

Sudahlah, meski saya terus membahasnya dengan diri saya sendiri, pada akhirnya hanya akan berakhir pada kata ‘sudahlah’. Mungkin akan terus menerus berlangsung hingga saya sebegitu sibuknya memikirkan hal yang lain hingga ini saya lupakan.

Benar, pada akhirnya manusia selalu melakukan penyangkalan atas apa yang tidak ingin mereka percayai, atau pada sesuatu yang membuat mereka takut. Manusiawi kah?

wordsflow