Here

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada semacam penalaran tersendiri yang berkaitan dengan apa yang selama ini dipikirkan oleh banyak manusia dalam sebuah organisasi seperti SATU BUMI. Nggak banyak hal yang bisa dengan mudah kita jabarkan secara bebas, apalagi jika hal itu berkaitan dengan manusia yang juga memiliki pemikiran dan penalaran tersediri tentang apa yang mereka percayai dan yang mereka jadikan pegangan hidup.

Setelah 4 tahun saya berkecimpung dengan segala hal yang berhubungan dengan organisasi ini, menjadikan saya seorang yang tumbuh dengan pemikiran lain sebagai manusia yang bebas. Kedewasaan yang kemudian saya ambil dari pengalaman yang selama ini ada dari kehidupan singkat saya di organisasi ini membuat saya semakin ‘menjadi’ apa yang saya inginkan. Tidak banyak orang yang bisa demikian menganggap semua hal yang terjadi di sini sebagai pengalaman hidup yang wajar dan bisa dipertanggungjawabkan. Banyak dari mereka yang kemudian menyerah dan bahkan lari dari masalah yang ada.

Seorang Pram pernah mengatakan dalam bukunya bahwa sebagai seorang yang terpelajar, kita harus tetap bisa adil sejak di dalam pikiran. Dan itu bukan sebuah hal yang mudah untuk dilakukan bahkan dalam tataran konsep. Beberapa hal yang kemudian menjadi perhatian saya di sini bahwa manusia selayaknya benda yang sifatnya sangat dinamis, menjadikan mereka bukan benda yang mudah dikendalikan bahkan untuk sekedar dipegang.

Manusia seperti saya, yang mungkin juga sama seperti manusia lain kebanyakan selalu mempertanyakan banyak hal. Terutama hal-hal yang akhirnya bersinggungan dengan apa yang tidak mereka percayai.

Organisasi ini, entah sejak kapan telah berubah menjadi sebuah tempat yang serius dan tidak hanya sekedar menjadi wadah, tapi juga menyajikan banyak hal yang selama ini tidak bisa kita temukan di luar diri kita sendiri. Entahlah, saya merasa bahwa dengan duduk di sini saya mendapatkan banyak hal yang bisa saya lakukan dan bahkan sekedar saya lamunkan. Meski tidak sedikit yang kemudian berakhir dengan kekecewaan.

Tapi saya sangat belajar untuk terus menerima dan tidak pernah menyesali apapun pilihan jalan yang saya ambil. Ya, menurut saya, apapun yang terjadi pada diri kita pun kepada orang yang kita cintai tidak seharusnya membuat kita menyesal. Bukan begitu seharusnya cara kita memaknai hidup. Jelas bukan, selalu ada yang sesuai dengan apa yang kita inginkan dan kita konsepkan dalam benak. Namun tidak sedikit yang berakhir dengan kejutan, entah itu menyenangkan atau tidak.

Saya tidak kemudian menyatakan bahwa kita cukup berpasrah dan menyerah pada nasib dan takdir. Bukan begitu caranya. Yang saya maksud, kita tidak bisa terus menyalahkan orang lain terkait dengan apapun yang terjadi pada kita, karena itu tidak sewajarnya kita lakukan kepada sesama manusia. Kita dan Tuhan adalah satu-satunya yang bertanggungjawab dengan nasib yang terjadi pada diri kita sendiri.

Sayangnya, banyak yang kemudian terjebak pada nostalgia dan romantisme masa lalu yang terjadi dalam hidup mereka, sehingga yah, pada akhirnya kekecewaan itu muncul terus menerus.

Mungkin sedikit berbeda konsep, meski masih sangat berhubungan dengan masa lalu dan romantisme. Saya tidak pernah bisa lepas dari rasa malu. Sebegitu parahnya kesulitan saya untuk melupakan hal itu menjadikan saya pada akhirnya hanya terus murung dan emosional saat saya memikirkannya kembali. Padahal saya pun menyadari bahwa mungkin tidak ada orang yang sungguh-sungguh pernah memikirkan hal itu juga, tapi mengapa saya masih begitu segar akan ingatan-ingatan itu. Hal-hal yang saya rasa memalukan luar biasa, dan apapun yang terjadi tidak akan mengubah diri saya menjadi saya yang bebas dari perasaan itu.

Saya ingat kejadian saat saya masih duduk di bangku SMA. Seorang teman saya menghilangkan flashdisk yang sangat saya sukai. Beberapa lama setelahnya saya berusaha untuk meminta kembali barang itu darinya, dan tidak ada tanggapan apapun darinya. Yang ada hanya sebatas mengatakan bahwa dia akan mencarikannya untuk saya.

Saya menunggunya di asrama sepanjang sore itu, dan dia tidak muncul barang sedetik pun, bahkan sekedar untuk mengatakan pada saya bahwa barang itu dia hilangkan. Tidak, lelaki terlalu gengsi untuk mau melakukan hal-hal yang demikian pada perempuan. Entah kenapa kejadian itu masuk ke kategori malu yang terlalu parah dalam hidup saya, dan jelas saya tidak ingin terus mengingatnya secara jelas dalam benak saya. Itu amat sangat memalukan.

Mungkin menanggung malu adalah salah satu proses pendewasaan yang rumit, yang lebih rumit dari apa yang kita kira mudah. Maksudnya, orang yang sudah tahu dan paham tentang rasa malu adalah orang yang memang telah mencapai kadar kedewasaan yang sesuai. Tanpa itu, rasa malu itu hanya akan terpendam dalam, dan menunjukkan bahwa dia masih kekanak-kanakan. Bukankah pemimpin-pemimpin kita juga mengalami hal yang sama? Krisis rasa malu. Ah, penguasa.

Rasa malu adalah yang juga saya kritisi karena tidak pernah dibahas dalam pendidikan formal anak. Padahal dengan kepemilikan akan rasa malu yang begitu dalam oleh seseorang, mungkin ia akan dengan lebih bijak mengambil langkah hidup. Jika seseorang memiliki rasa malu yang wajar, tidak mungkin dengan mudahnya akan melakukan hal-hal yang tidak manusiawi dan tidak bermoral. Seharusnya. Tapi kan pada kenyataan di lapangan, orang-orang mulai meniadakan rasa malu sebagai bagian yang tidak selayaknya mereka punya. Mereka menepis perasaan itu dan merepresinya begitu dalam hingga tidak nampak.

Ah perasaan ini menjadi begitu rumit dan menarik untuk terus dibahas dan dipikirkan. Menurut saya manusia punya hal-hal menarik yang terus berubah. Dan di masa saya hidup ini lah yang mungkin segalanya sedang pada ukuran yang paling tinggi. Saya dengan mudah dapat memikirkan banyak hal, mengendalikan emosi menjadi lebih stabil, mengerti banyak hal dengan cara yang tidak rumit, dan akhirnya menjadi manusia yang lebih mengerti dan memahami hidup dengan cara yang lebih baik.

wordsflow