Setelah Cinta

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ah pernikahan….

Entah mengapa selama beberapa hari terakhir, ada banyak perbincangan tentang pernikahan yang dibahas oleh orang-orang di sekitar saya. Dan dengan demikian tidak mungkin bahasan itu tidak menyinggung tentang cinta dan kawanannya. Apa mau dikata.

Yah, meski dalam kondisi sedang mencintai atau tidak, saya rasa orang menganggap bahasan tentang ‘cinta’ itu selalu bisa dipikirkan terus menerus. Karena, bukankah cinta tidak melulu sebatas hubungan antara laki-laki dan perempuan? Bukankah cinta juga kepada mereka yang tidak berakal, pada mereka yang tidak hidup, pada mereka yang tidak kita ketahui keberadaannya, dan yang jelas, pada mereka yang memang makhluk yang sama dengan diri kita; manusia.

Mencintai, saya rasa adalah perasaan yang amat sangat sakral untuk sekedar diterjemahkan dalam kata-kata. Ada banyak hal yang tidak bisa diterjemahkan melalui kalimat dan tidak dapat diungkapkan ke permukaan. Justru saya pun sependapat dengan argumen seorang teman saya yang menyatakan bahwa mencintai dalam diam adalah kesempurnaan jiwa.

Menurut saya pribadi, ada sebuah nilai yang lebih tinggi saat kita terus menyimpan cinta dalam hati kita, dalam rongga yang aman namun dapat dilihat dengan jelas. Menurut saya, tidak mungkin seseorang tidak sadar jika dirinya sedang dicintai oleh orang lain. Mekanisme dalam diri manusia selalu bisa mengungkapkan hal-hal yang tidak tampak dan bahkan tidak terungkap. Beberapa dari mereka ingin merespon dengan kadar yang sama, menyeimbangkan ketimpangan yang ada. Namun, beberapa yang lain yang merasa takut atau mungkin tidak sanggup akhirnya memilih menghindar, menganggap bahwa ia sedang dalam ketidaktahuan.

Bagian baiknya, manusia selalu punya rahasia dalam hidup mereka. Dan saya rasa, sesuatu yang benar-benar bisa disebut sebagai rahasia adalah sesuatu yang bahkan oleh diri kita sendiri tidak ingin kita keruk lebih dalam. Sebuah pemahaman samar yang tidak ingin kita perjelas sebagai sebuah citra yang lebih terdefinisi dengan gamblang. Rahasia, punya bentuk berbeda dari ‘rahasia’ yang selama ini kita sebutkan.

Lalu, dengan diam semuanya menjadi mungkin tetap pada tataran yang sesuai dengan norma dan tata laku yang kita junjung. Pada tataran moralitas yang menurut kita paling sesuai dengan cara hidup kita.

Namun, beberapa pada akhirnya jatuh pada pemahaman bahwa kita menipu diri. Bahwa kita menghindar dari kenyataan akan pengetahuan sebuah rahasia yang sesungguhnya. Bahwa mungkin kita terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang masuk akal, tanpa ingin itu semua terungkap ke permukaan.

Yah, mungkin diam bukanlah hal yang selalu benar. Tapi saya sendiri merasa bahwa diam memberikan kita sesuatu yang lebih dari sekedar penerimaan. Diam itu berarti merasakan, memikirkan, memahami, menelaah, menerima, mengasihi, dan memurnikan diri dalam kejujuran. Dalam diam kita membuat dialog yang rumit dengan diri kita yang lain. Diri kita yang tidak pernah sungguh-sungguh kita tahu keberadaannya. Diri kita yang hanya sebatas ide dan tak terwujud. Meski pun tentunya ia tidak lebih rendah dari diri kita yang sesungguhnya.

Atau yang manakah saya yang sesungguhnya? Saya yang berjalan di dunia atau saya yang ada di dunia ide?

Dalam kesendirian dan aksi bungkam, kita menjelajah alam ketakutan dan pengharapan sekaligus. Merasai kegagalan dan kekalahan yang kita dapatkan dalam keseharian. Mengais rasa dan pengertian yang tidak kunjung datang menghangatkan diri. Diam membawa pada pemahaman yang lebih dalam.

Lalu apa hubungan semua ini dengan pernikahan?

Beberapa teman saya yang memandang pernikahan murni sebagai bentuk ibadah sungguh-sungguh menyatakan bahwa apapun yang terjadi kita harus menikah karena Allah. Bukan lantaran perasaan sesaat dengan lawan jenis. Menikah karena Allah akan lebih banyak memberikan pandangan positif pada diri kita sendiri, pada cara kita menjalani hidup setelah menikah. Dan saya sangat mengagumi orang-orang yang sungguh dapat melakukan yang demikian.

Namun, lagi-lagi saya punya pandangan lain tentang pernikahan, dan juga cinta yang menyertainya.

Saya percaya takdir. Saya amat sangat percaya akan adanya takdir.

Dan maka, dalam pandangan saya, orang yang mampu menjalani kehidupan pernikahan karena Allah, mereka lah orang-orang yang dipilih oleh takdir untuk menjalani pernikahan dengan pertemuan dan ikatan yang demikian. Anggaplah mereka orang-orang yang bahagia dengan cara A. Sedangkan di luar sana, di lingkungan sana, di belahan dunia sana, ada orang-orang yang mencapai taraf kebahagiaan yang sama, meski dengan pandangan hidup yang jauh berbeda, dengan cara B sampai Z.

Buat saya sendiri, tidak perlu kita terlalu khawatir dengan pernikahan. Pernikahan dan cinta bukan sesuatu yang bisa terus diperbincangkan untuk mencapai sebuah kesimpulan. Dia adalah sesuatu yang terus bergerak menuju sesuatu yang lain, yang lebih pasti, yaitu kematian. Semua pernikahan dan rasa cinta itu hanya sebatas proses untuk mempersiapkan kita pada fase kesendirian menghadapi kematian. Maka tak perlu kita terlalu khawatir dengan pernikahan dan cinta. Ia bisa datang kapan saja, dengan atau tanpa permisi. Ia bisa begitu rumit pun bisa begitu sederhana.

Lalu, dalam menjalani semua itu, entah karena saya belum pernah sungguh-sungguh mengalami masalah, tapi saya selalu percaya pada pertanda.

Jika otot polos kita yang bekerja secara tidak sadar bisa memberi respon pada tindakan-tindakan, bukankah itu menandakan kita sedang mengalami sesuatu? Maka untuk apa kita bersusah payah menghindarinya? Anggaplah itu sebagai pertanda cinta.

Dan jika pertanda itu datang terus menerus, mengapa malu untuk mengakui secara sadar? Padahal bagian tidak sadar dari diri kita telah menerima dengan memberi pertanda.

Berlakulah jujur pada diri sendiri. Setidaknya meski tidak dengan ucapan, tapi dalam kesadaran selama proses diam. Dalam tata laku yang menyenangkan. Dalam bening mata dan tatapan bermakna.

Dan jika ada rahasia setelah cinta, akan selalu ada masa untuk memprosesnya….

wordsflow