Bifurkasi

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sampailah saya pada titik balik pencarian niat dan semangat untuk kembali menulis serius.

Tepat pada malam Sabtu kemarin saya menemukan judul yang sangat cocok dengan calon novel saya kelak. BIFURKASI. Kata yang sangat sesuai menggambarkan segalanya yang ingin saya tulis nanti. Tampaknya tidak ada hal lain lagi yang ingin saya cari setelah menemukan kata ini.

Saya padahal sudah pernah mendengarnya sebelumnya. Namun entah mengapa baru beberapa hari ini saya sungguh-sungguh merenungi kata ini.

Saya menghabiskan setengah hari Minggu saya dengan membaca Norwegian Wood-nya Haruki Murakami. 100 halaman pertamanya membuat saya terus memikirkan susunan kata, suasana hati tokoh utamanya, cara berpikirnya, dan alur ceritanya. Entah bisa disebut beruntung atau tidak, karena saya menemukan suasana hati yang sama seperti waktu saya membaca Orang Asing karya Albert Camus. Itu hanya dalam satu minggu terakhir.

Saya berakhir dengan merasa absurd, tidak merasakan apapun, tidak khawatir akan apapun.

Suasana Pantai Siung, ombak yang begitu bergelora siang itu, batu yang terus terhempas ombak berulang kali, buih putih yang timbul dan meluas, semua saya tatap terus menerus. Perulangan itu menjadi nada harmonis dalam penglihatan saya. Sementara pikiran saya menyamakan dengan suasana hati yang timbul dari novel yang sedang saya baca. Ceruk yang saya temukan di balik tebing itu sangat menyenangkan. Seakan-akan memang hanya ditujukan untuk saya seorang. Spot yang hanya bisa dihuni oleh satu orang, dalam bentuk tempat duduk yang nyaman, langsung menghadap ke selatan, dan jauh dari ancaman panas matahari.

Selama membaca buku, perasaan saya berubah menuju ke diri saya yang seorang lagi. Kesendirian itu bahkan menambah kesempurnaan pagi itu untuk menjadikan saya menjadi saya yang lain. Pagi yang menyenangkan.

Dan selama berkontemplasi itu, akhirnya saya menemukan plot yang selama ini saya tunggu-tunggu kedatangannya. Saya menemukan keinginan untuk menulis kembali. Saya menemukan tujuan saya dalam menulis. Saya menemukan sebuah alur, judul, tokoh, dan segala ramuan yang saya butuhkan untuk menulis novel.

Pagi di hari Minggu yang menyenangkan.

Dan seperti yang saya bilang, umur 22 sangat berarti untuk seorang perempuan. Semingguan ini saya menjalani hari-hari pertama saya menuju umur 23 tahun, saya menemukan banyak hal, meski dengan hanya duduk dan menulis.

Ya, umur 22 memang sangat penting untuk seorang perempuan. Dan di umur ini saya akhirnya berani menulis kembali. Bukan lagi tulisan anak SMP yang masih sekedar tahu bahagia. Atau bukan lagi tulisan anak SMA yang hanya tahu bertanya tanpa tahu dimana harus mencari jawabannya. Bukan pula tulisan anak kuliahan dengan topik idealismenya. Mungkin tidak akan terlalu istimewa. Tapi ini akan menjadi tulisan saya di umur dua puluh dua.

wordsflow