Mungkin Tentang Pendidikan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Tentunya manusia ingin terus belajar dan tidak berhenti begitu saja pada garis batas. Lalu kemudian pendidikan formal menjadi salah satu langkah yang diambil untuk mengaktualisasi diri dan mengambil ilmu secara rakus, sebanyak yang bisa diambil oleh mereka yang sanggup.

Nah, sejenak mari pergi dari topik ini, karena yang ingin saya bahas adalah tentang job fair.

Ada bahasan harian di sekretariat saya, dengan pertanyaan:

Kemana perginya mahasiswa? Mereka tidak ada di jalanan, tidak di perpustakaan, tidak di organisasi, dan bahkan tidak bermain.

Selidik demi selidik, ternyata para mahasiswa ini ditemukan berkerumun di job fair!!

Ya, di sanalah manusia-manusia ini bergerombol untuk mencari pekerjaan.

Terkadang saya juga tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran mereka yang pada awal mulanya ingin bersekolah. Karena menurut saya, anak-anak suka sekolah karena tempat itu menyenangkan. Karena banyak teman, karena mereka penasaran pada angka dan huruf, dan mereka punya banyak pertanyaan yang butuh jawaban.

Tapi semakin bertambahnya umur manusia, dan semakin mudahnya pemahaman tentang pelajaran itu masuk ke benak mereka, persepsi akan sekolah yang menyenangkan dan banyak teman, kemudian berubah menjadi kompetisi untuk mendapatkan nilai. Lama terus itu berlangsung hingga akhirnya jenis kompetisinya berubah menjadi kompetisi untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar.

Sungguh, saya bukannya sedang menjelekkan mereka yang giat mencari pekerjaan, karena saya pun suatu hari akan mengalami tahapan yang sama pula.

Hanya saja, tidak bisakah kita tidak terlalu khawatir dengan semua itu? Tidak bisakah kita tetap bisa terus berkegiatan atau turut aktif dalam kegiatan-kegiatan di kampus? Pada faktanya, banyak yang kemudian lebih memilih mendekam untuk terus mempelajari mata kuliah A atau B. Banyak yang tidak ingin melakukan hal lain karena takut tidak lulus mata kuliah ini atau itu.

Sayang sekali mungkin jika ternyata mahasiswa begitu sulit untuk menjadi lebih bebas dari kegiatan rutin yang berhubungan dengan laptop, buku kuliah, dan catatan. Banyak yang juga hanya sebatas tahu mata kuliah tertentu, dan bahkan tidak pernah tahu perkembangan jurusan lain dalam fakultasnya sendiri.

Tidak jelek sesungguhnya, karena mereka pun adalah jenis mahasiswa yang membuat saya kagum. Yang juga membuat saya iri dengan kemampuan dan pengetahuan mereka. Tapi saya juga berkeinginan untuk bisa mengajak mereka menjelajah yang lebih dari sekedar lingkup kecil saat KKN. Dunia ini terlalu luas untuk sekedar dijelajah saat KKN saja.

Bagi saya sendiri, berada di umur yang sekarang sangatlah ‘woww’ dan jika bisa saya ingin terus ada di umur ini. Menjadi mahasiswa itu sangat menyenangkan. Dan karenanya jika umur ini hanya dihabiskan untuk belajar, lalu lulus langsung bekerja, rasa-rasanya kita tidak punya waktu untuk bermain. Memang bukan berarti setelah kuliah kita juga tidak bisa bermain, memang tidak secara langsung demikian. Tapi umur mahasiswa itu adalah umur keemasannya manusia, saat dimana kita dalam garis batas yang tidak kentara, saat banyak simpangan jalan yang harus kita ambil cabangnya, saat menentukan toko mana yang harus kita datangi atau tempat mana yang harus kita hindari. Pilihan-pilihan itu menjadi berbeda saat kita berada di tahap mahasiswa.

Maka, jangan sia-siakan waktu kita saat sedang menjadi mahasiswa. Ambil semua yang mampu kita ambil, apapun itu. Ikuti banyak kegiatan yang membuka pikiran, menyehatkan jiwa dan raga, cari kenalan dan teman sebanyak mungkin, cari ilmu sebanyak mungkin.

“Rutinitas itu membunuh.”

Mungkin itu benar jika kita manusia yang hidup secara fisik. Namun, orang yang menghidupi dirinya dalam dua dunia setidaknya tidak sungguh mati. Mereka tetap mengaktualisasi dengan dirinya yang lain, hanya dengan metode yang tidak kita pahami, karena masing-masing manusia punya metodenya sendiri untuk mencari kita yang lain.

Setelah kuliah, beberapa dari kita akan dihadapkan pada penyakit bernama rutinitas, yang pelan-pelan akan membunuh kita. Meski banyak juga yang kemudian bisa lolos dari derita ini dengan mencari banyak kesibukan, mencuri kesempatan, maupun karena memang pekerjaan mereka bukan tipe pekerjaan yang demikian. Tapi yah, itu kan masalah nanti.

Setelah dua kali mengikuti job fair yang diselengarakan oleh lembaga yang dibawahi oleh kampus saya, saya mendapat sedikit pencerahan sewaktu melihat para pencari kerja. Ada rasa yang mengganggu saat memandang mereka. Itu bukan rasa kasian atau rasa malu, tapi sesuatu yang lain. Karena kemudian pikiran saya melayang pada bayangan saya di masa depan dan banyangan orang-orang itu saat mereka masih kuliah. Itu perdebatan yang panjang dengan diri saya yang lain.

Tidak ada yang salah dengan itu semua memang. Dan maka, tidak ada yang salah juga menjadi mahasiswa yang bisa bermain. Bukan berarti jika IPK kita sempurna dan segala jenis mata kuliah bisa kita kuasai, kesempatan kita untuk masuk ke sebuah perusahaan ternama pun semakin besar. Saya rasa semuanya tetap sama. Yang penting adalah kita lulus seleksi administrasi dari perusahaan yang memberikan syarat lowongan pekerja. Selanjutnya yang menentukan adalah wawancara dan tes psikologi yang kita lakukan di seleksi perusahaan tersebut.

Karenanya menurut saya, mahasiswa tidak selayaknya khawatir tentang kegiatan di kampus yang ingin mereka ikuti. Kita tahu porsi masing-masing, kita tidak perlu takut pada sesuatu yang tidak tahu. Tidak perlu takut mencoba sesuatu yang baru. Toh dengan mudah kita bisa kembali saat semua menjadi tidak terkendali.

Lagi-lagi, jika kedoknya pendidikan, saya rasa bukan hanya masalah mata kuliah A atau B, tapi juga tentang soft skill dan keterampilan tertentu. Manusia kan tidak hidup dari teori-teori dan matematika semata. Kita juga butuh ilmu sosial, sejarah, manajemen, dan beberapa bagian kecil dari semua jurusan yang ada. Yah, belajar itu tidak sekedar tahu satu bidang kuliah. Jadi segala tidak berhenti saat kita lulus mata kuliah tertentu.

Ah, tapi ini hanya opini. Ini mungkin hanya semacam ketidakpuasan pada apa yang saya temukan di kampus saya. Tidak kurang, mungkin juga tidak lebih.

wordsflow