Ironic

by nuzuli ziadatun ni'mah


Well life has a funny way of sneaking up on you
When you think everything’s okay and everything’s going right
And life has a funny way of helping you out when
You think everything’s gone wrong and everything blows up
In your face

_Alanis Morissette

Saya cerita dulu ya sedikit.

Ada seorang guru Bahasa Inggris di sekolah saya waktu SMA dulu, namanya Mr. Daniel. Dia bukan orang Indonesia, dan karenanya punya metode berbeda dalam mengajarkan Bahasa Inggris pada kami. Setiap kali masuk kelas, dalam 3 pertemuan selama seminggu, guru saya ini selalu memutar Supernatural Series pada dua pertemuannya, dan yang satu pertemuan mendengarkan lagu.

Suatu ketika, beliau memperkenalkan pada kami seorang penyanyi, namanya Alanis Morissette. Entah karena saya tidak mendengarkan atau bagaimana, sepenangkapan saya orang ini penyanyi lama, dan lagunya sudah begitu jadul. Ternyata saya salah. Mungkin karena saya juga tidak pernah mengerti musik dengan baik, dan masih tidak terlalu tertarik untuk mencari tahu segala hal di balik lirik yang ada dan musik yang mengiringi, jadinya saya pun tak pernah tahu penyanyi ini. Baru-baru ini saja saya tahu bahwa dia cantik, dan masih muda.

Oke, lupakan bagian itu dulu.

Mungkin jika ada yang belum pernah mendengar lagunya, silahkan aja mendengarkan. Lagunya cukup mudah ditemukan di mana pun. Tapi saya nggak akan ngasih tahu, nanti dibilang ikut membajak lagu orang lain. Hehehe…

Ya, lagu ini sempat digunakan oleh guru saya untuk tes listening suatu hari. Makanya lirik dan lagunya masih terus saya ingat hingga hari ini.

Saya sangat suka pada lagu ini. Lebih karena liriknya yang sungguh menggambarkan the irony itself lah pokoknya.  Merenungi lirik yang saya kutip di atas, bahwa ya, hidup itu selalu punya caranya sendiri dalam menolong dan ‘mempermainkan’ kita yang ada di dalamnya. Hidup selalu tidak terduga dan penuh dengan kejutan. Dan entah bagaimana semua yang terjadi dalam hidup akhirnya diterima sebagai takdir atau dipertanyakan kepada Tuhan masing-masing. Saya rasa ironi menjadi kata yang sangat bisa menggambarkan kemajemukan perasaan seseorang dalam menanggapi jalan hidupnya.

Yah, ironi ada dimana-mana.

Dan jika yang dibahas itu berkaitan dengan ironi, pasti juga nggak akan lepas sama gugatan. Tidak lepas juga dari pertanyaan-pertanyaan semacam, kenapa saya dilahirkan di sini, mengapa saya ini dan itu, dan banyak yang lain.

Hei, saya sudah pernah bilang kan saya percaya takdir?

Ya, sebenarnya tidak perlu khawatir akan gugatan itu. Yang perlu dikhawatirkan adalah cara membuat diri kita tidak meledak dengan semua pertanyaan itu. Dalam ketenangan semacam apapun, manusia akan tiba pada titik puncaknya, lalu meledak,  mereda, dan mengulang prosesnya lagi dari awal. Bisa jadi itu semacam kutukan di dunia untuk kita. Ibarat naik gunung, kita tidak bisa terus mengharapkan mendapat jalan yang begitu lurus. Akan tiba saatnya untuk naik ke punggungan, mencapai titik frustasi dan lelah yang amat sangat, lalu rehat saat menempuh jalan turun, terus diulang berkali-kali hingga mencapai puncak sejati. Melelahkan memang. Tapi jika itu tidak kita jalani, hidup hanya akan menjadi sebuah garis lurus dengan guratan-guratan singkat. Memang tidak jelek, tapi saya lebih suka hidup saya seperti cabang pohon. Lebih menarik, lebih majemuk, lebih-lebih lah pokoknya.

Ah, saya sebenarnya ingin menulis sesuatu tentang waktu. Tapi saya masih terus mencari buku A Brief History of Time-nya Stephen Hawking. Anggap saja ini hanya testimoni saja.🙂

wordsflow