Drama Bisu

by nuzuli ziadatun ni'mah


Kamu pikir, setelah kamu melakukannya padaku, aku lantas bisa melupakannya begitu saja?!

Jelas tidak. Dan kamu harus tahu mengapa.

Kala itu aku dan kamu adalah asing. Kita tidak pernah sungguh-sungguh berbincang secara pribadi. Bukan karena aku atau kamu memang tidak banyak bicara. Bukan begitu kondisinya. Kita memang selalu berbincang dengan banyak orang. Bahkan itu pun dengan hati riang. Kita bisa melakukannya bersama. Lagi-lagi aku tegaskan, jika itu dilakukan bersama dengan orang ketiga.

Ah, kamu bertanya tentang kebersamaan kita?

Hah, rasanya aku ingin tertawa di depan mukamu. Sadarkah kamu, kita bahkan belum pernah berbincang berdua, kecuali yang berhubungan dengan bertanya kabar dan kebutuhan formal. Aku bahkan merasa kamu tidak pernah menganggapku sebagai makhluk biasa. Mungkin kamu merasa aku bukan jenis makhluk yang bisa diajak bicara seperti manusia. Mungkin bahasa kita berbeda?

Ya, aku dengan bahasa batin, dan kamu dengan bahasa pikir.

Aku bahkan merasa kamu juga tidak pernah menganggap aku sebagai seorang wanita biasa. Aku bahkan amat sangat yakin jika kamu takut padaku. Jangan tanya takut kenapa. Kamu pun tahu jawabannya. Aku bukannya jumawa, tapi terlihat di sudut matamu bagaimana kamu begitu mudahnya berpaling dari tatapanku yang entah seperti apa. Bukankah kita tidak bisa memandang ke dalam mata kita sendiri?

Tunggu, bukan karena aku cantik makanya aku bisa yakin kamu cemas memandangku. Bukan itu. Sudah kukatakan bahwa aku bicara dalam bahasa batin, dan kamu dengan bahasa pikir. Aku tidak mencerna bahasa pikir yang kamu sampaikan, dan kamu pun tidak akan menangkap bahasa batin yang tanpa sadar kamu ungkapkan di hadapanku. Tapi kamu punya bahasa pikir yang kaya, makanya kamu pun tahu bahasa batinmu telah terungkap padaku. Dan bukankah karena itu kamu takut padaku. Ya, rasa-rasanya begitu.

Sayangnya kamu yang selalu memakai akal pikiran itu tidak pernah tahu tentang wanita. Makanya kamu tak kunjung mendapatkan seseorang. Dulu mungkin aku menganggap kamu terlalu ‘tinggi’ untuk buru-buru menakhlukkan perempuan, atau mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tapi pandangan itu berubah seiring munculnya pemahaman akan rahasiamu yang tersembunyi.

Ingatkah kamu? Ketika itu kabisuan di antara kita telah mencapai puncaknya. Sungguh, bukan karena aku tidak ingin bicara padamu. Perang dingin di antara kita justru tercipta karena kita pernah begitu dekat. Kita pernah sama dalam banyak hal. Dalam banyak rasa. Dalam pengetahuan, dan ketertarikan. Bukan salahku jika setelahnya aku terus berusaha membuatku dekat denganmu. Entahlah. Mungkin kamu merasa itu mengganggu. Atau yang lebih kuyakini, kamu takut padaku.

Lalu perasaan itu datang tanpa bisa disangkal. Aku begitu tertarik padamu. Ingin berbincang denganmu. Aku ingin melihatmu barang beberapa jam dalam sehari. Aku ingin tahu apa yang kamu lakukan. Aku ingin melihatmu datang dan pergi. Aku ingin. Aku hanya ingin.

Ah, aku sangat ingin menyangkal ini sebelumnya. Aku tidak mudah tertarik pada laki-laki. Bukan karena aku kelainan jiwa atau karena aku suka pada sesama wanita. Bukan itu. Aku hanya tidak pernah bisa menemukan orang yang bisa membuatku tunduk. Aku ini bukan wanita biasa. Aku berbisa. Aku berbicara seenaknya. Aku lebih banyak mendebat ketimbang memberi solusi. Aku tidak suka berlaku sebagai wanita kebanyakan. Aku juga ingin dianggap tidak lemah oleh laki-laki. Tapi, bukankah laki-laki suka wanita yang lemah? Ya, temanku pernah berkata demikian. Tapi apa peduliku? Kami pun sama-sama perempuan, bisa melakukan hal yang berbau perempuan, tau aturan dasar perempuan. Secara garis besar semua wanita itu sama. Yang membedakan aku dan wanita lain adalah bahasa hati dan pola pikir yang aku gunakan. Ya, manusia bisa lebih atau kurang dari sana.

Tunggu, bukankah aku harus menyelesaikan ceritaku?

Ya, kebisuan kita telah mencapai puncaknya. Hingga suatu ketika kita terkurung berdua di ruang kerja. Bukan lantaran aku atau pun kamu sengaja mencari momen. Meski ingin, aku tidak pernah mau merendahkan diri dengan meminta terlebih dulu. Wanita, sejatinya menunggu. Wanita menerima. Wanita didatangi. Dan kurasa, sesungguhnya kita berdua ingin dibiarkan begitu. Setidaknya aku sebenarnya menginginkan kita berdua terjebak di kondisi yang seperti itu.

Dan benar bukan perkiraanku? Kamu dalam kebisuan diam-diam mencuri pandang ke arahku. Kamu diam-diam melirik padaku. Jangan tanya dari mana aku tahu. Jangkauan pandang wanita selalu lebih luas daripada kalian lelaki. Aku selalu tahu siapa dan apa yang sedang terjadi di sekelilingku, meski aku pura-pura sedang membaca buku atau mengerjakan sesuatu. Kamu tahu kan, cerita seorang ibu yang bisa memasak, menonton tv, dan menjaga bayinya sekaligus? Ya, begitu lah wanita.

Ketika itu kamu menjadi tidak fokus pada pekerjaanmu. Kamu diam beberapa kali dalam tatapan kosong. Lihat saja, dokumen itu tidak berganti halaman sama sekali. Kamu membiarkannya tidak terbaca.

Lalu aku mendekatimu, beberapa dokumenku harus kamu tanda tangani. Tapi baru dua langkah, lampu itu padam. Aku buta. Kamu buta. Kita berada dalam ketiadaan, dalam sesaat. Dunia seakan hilang. Kakiku tidak terlihat. Bahkan aku tidak tahu apakah mataku sedang tertutup atau terbuka.

Perlahan, ternyata dengan perlahan, ada sesuatu yang hangat menyentuh jariku. Sesuatu yang juga serupa jariku. Lalu semakin menjadi bentuk dalam bayangan imajiku. Itu tanganmu. Menggenggamku dengan perlahan. Satu detik. Dua detik. Tidak ada yang terjadi. Mataku mulai tahu bahwa ia terbuka. Bayang amat samar mulai mewujud. Tiga detik. Aku mulai mencium aroma tubuhmu di hadapanku. Empat detik. Rasanya tubuhmu semakin mendekat. Lima detik. Enam detik. Dan pada detik ketujuh kamu menemukan bibirku.

Jika kamu yang jadi aku, dan sebaliknya, tidak kah kamu berpikir itu gila? Tapi aku tetap bergeming. Seperti orang bodoh.

Atau, bukankah aku juga menginginkannya?

Ya, aku mengaku padamu jika aku menginginkanmu. Aku hanya tidak tahu mengapa dan bagaimana caranya. Tapi ya, aku juga seorang wanita. Dan dengan bodohnya, kebisuan kita seperti kotak pandora. Jika kamu berkata, rahasia kita akan terungkap dengan membabi buta. Dan begitu pula jika aku berkata, kotak terlarangku juga akan terbuka, mungkin lebih lebar darimu.

Rahasiaku, tidak perlu kamu pertanyakan. Tapi aku menuntutmu untuk mengungkap rahasiamu.

***

Sebuah tulisan dalam intermezzo membaca Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta — Puthut EA.

wordsflow