Tentang Kehilangan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Seperti semua yang pernah terjadi dalam hidup seseorang, selalu ada yang datang dan pergi tanpa kita ingini. Tiba-tiba datang orang lain yang ternyata begitu berarti bagi hidup kita, atau malah justru ada orang yang sangat tidak kita inginkan yang muncul begitu saja. Atau ada orang yang begitu kita sayangi pergi dengan tanpa permisi pada kita. Semuanya memiliki bagian dan perannya masing-masing dalam ‘mengganggu’ hidup orang lain.

Tapi bukan berarti dengan adanya ‘gangguan’ itu, hidup kita menjadi lebih baik atau lebih buruk. Menurut saya bukan orang lain yang menentukan perasaan kita. Ah, mungkin iya sih. Tapi maksud saya adalah, bisa saja suatu hari kita bertemu dengan orang yang menyebalkan dan membuat hari kita terasa buruk, tapi yang menentukan suasana hati kita bukankah kita sendiri? Dalam beberapa kasus sih mungkin.

Saya sering berpikir tentang kemungkinan ini dan itu. Bagaimana jika saya tidak bertemu dengan si A atau si B. Tapi setelah beberapa kali saya pikirkan dan saya renungi, saya rasa tidak perlu dipertanyakan. Pada akhirnya, Tuhan selalu punya cara agar seseorang bisa bertemu dengan manusia yang ini atau yang itu.

Bisa jadi jika bukan saat itu ya di saat lain. Makanya sampai ada kata-kata:

“Mungkin bukan jodoh”

Ya, mungkin Tuhan belum merasa tepat mempertemukan saya dan seseorang lain.

Yang belakangan mencemaskan saya, adalah rasa kehilangan. Saya entah mengapa merasa belum pernah sungguh-sungguh merasa kehilangan seseorang. Tapi sungguh, saya bukannya sedang mendoakan seseorang di dekat saya untuk meninggal atau meninggalkan saya pergi. Bukan itu.

Saya hanya merasa resah dengan kemungkinan bahwa seseorang akan meninggalkan saya. Entah mengapa.

Orang-orang terdekat saya beberapa kali kehilangan orang yang begitu dekat dengan mereka. Teman-teman Mapala saya juga beberapa telah meninggalkan dunia ini. Tapi jujur saja, saya bukannya tidak berperasaan, tapi rasa kehilangan saya rasanya bukan rasa kehilangan yang ‘itu’. Rasa yang sama dengan yang dirasakan oleh orang-orang yang memang dekat dengan mereka. Ya, mungkin bisa jadi karena kami memang nggak sungguh-sungguh dekat. Entahlah.

Ah, saya takut kehilangan. Haha….

Rasanya saya nggak akan merasa apapun saat orang yang dekat dengan saya pergi. Tapi mungkin setelahnya saya baru sungguh merasa kehilangan saat saya tidak bisa menemukan mereka di mana pun. Mungkin rasanya bakal begitu.

Tapi mungkin juga menjadi sebuah kewajaran saat seseorang merasa gelisah dengan hidupnya, dengan kehidupan orang yang mereka sayangi, dengan keselamatan seseorang saat mereka tidak sedang berada di dekat kita. Saya rasa secara naluriah, orang yang menyanyangi orang lain akan merasa ‘memiliki’ sebagian dari mereka. Dan karena itu mereka pun merasa bertanggungjawab dengan kehidupan orang lain. Terlebih jika seseorang itu adalah keluarga kita, entah dekat atau jauh. Akan lebih lagi pada orang-orang lain yang kita anggap keluarga kedua.

Ya, rasanya pasti begitu.

Tapi sudahlah. Ini hanya semacam membuang sampah pikiran. Daripada saya terus menerus memikirkan kemungkinan buruk pada seseorang, saya rasa lebih baik saya menuliskannya di sini. Siapa tahu manusia-manusia yang saya khawatirkan itu lebih sering memberi kabar, dan membuat saya lebih tenang.

wordsflow