Hanya Sebuah Surat Biasa

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sudah cukup lama aku mengenal sosokmu, jika kamu tidak lupa. Ketika itu bulan Januari, saat hujan sedang begitu intens mengguyur halaman kosanku. Tidak ada baju kering, tidak ada bunga kering, tidak ada hati yang kering. Semua terasa abu-abu dan tidak menyenangkan. Lalu aku menemukanmu di sebuah toko buku. Kamu sedang mencari buku yang kebetulan tinggal satu. Dan sayangnya kamu telat 5 detik mengambilnya sebelum akhirnya aku meraih buku itu untukku sendiri.

Lalu apa yang terjadi setelahnya? Aku tidak terlalu ingat. Seingatku kamu menanyakan buku itu, lalu bertanya seberapa butuh kamu akannya. Dan kamu kemudian berusaha untuk meminta buku itu secara halus dariku. Tanpa emosi, tanpa apapun. Ekspresimu menunjukkan sepenuhnya bahwa kamu hanya menginginkan buku itu, bukan karena ingin juga mendekatiku.

Setelah itu kita berbincang sebentar. Ternyata kamu sedang ingin menghadiahkan buku itu untuk seseorang yang berarti untukmu. Aku menduga dalam hati bahwa itu adalah kekasihmu, meski kamu pun tidak bahagia. Aku hanya bisa menduganya dalam hati.

Lalu suatu gagasan yang luar biasa keluar dari mulutku. Aku bersedia memberikan buku itu padamu, setelah aku selesai membacanya. Itu buku terakhir. Dan entah karena apa kamu pun mengiyakan. Aku, tanpa sadar tersenyum dalam hati. Kita bertukar nomor handphone, berpisah begitu saja, hingga akhirnya buku itu selesai kubaca, dan aku menghubungimu.

Setelahnya kita bertemu lagi. Kali ini di cafe yang cukup menyenangkan. Entah mengapa, kita seakan punya kesimpulan sama bahwa pembaca buku pasti suka kopi. Dan mungkin memang begitu kejadiannya. Lihat saja, kamu pun tidak banyak protes dengan keputusanku membawamu kesana.

“Ah, kamu menunggu lama?” tanyaku kala itu. Kamu tersenyum simpul! Itu sangat mengherankan, karena pertemuan pertama kita sangat abu-abu. Mungkin kamu sedang gembira,

“Kenapa?” tanyamu heran. “Ada sesuatu di mataku?” Kini kamu mulai bercanda!

“Nggak, cuma aneh aja. Kayaknya waktu itu kamu sedang tidak bahagia,” jawabku malu-malu. Hei, aku juga wanita yang halus perasaannya bukan?

“Ahaha, sini duduk,” sahutmu tanpa menggubris jawabanku.

Bukankah setelah itu kita berbincang banyak? Kamu bilang juga buku itu untuk pacarmu, tapi kamu sudah putus dengannya. Tapi akhirnya buku itu tetap kamu minta, kamu pinjam katamu. Kamu pun ingin tahu tentang isinya. Kamu ingin tahu juga tentang apa yang aku tahu. Katamu, mungkin pertemuan kita sebuah pertanda.

Tapi bagiku, itu terlalu cepat. Aku tidak percaya cinta. Aku takut jatuh cinta. Aku benci luka.

Yah, tapi bagaimanapun aku tetap menerima ucapanmu dengan senang, kamu memang menyenangkan, aku pun tidak merugi apapun karena keberadaanmu. Kita tidak sedang berada dalam suasana hati yang buruk. Jadi mengapa memilih untuk memungkiri semuanya? Toh aku senang saja ada kamu yang menemani soreku kala itu.

Kamu tahu, ada rahasia yang belum pernah aku beritahukan padamu. Kamu adalah cintaku yang pertama. Orang yang bisa benar-benar aku akui sebagai orang yang kucintai. Ya, aku memang tidak percaya cinta sebelumnya, hanya belum mungkin. Tapi denganmu, aku tidak melihat cinta yang menye-menye, yang cengek, yang penuh malam minggu, dan senewen sepanjang waktu. Cintamu tampak riuh rendah, semarak ramai, dan aku amat menyukainya.

Kita punya kualitas hubungan yang menyenangkan. Aku pun tidak dengan mudah menerimamu menjadi kekasihku. Kita tetap bukan kekasih, meski aku makan malam, jalan-jalan, ke toko buku, saling membelai rambut, dan kadang berciuman. Ya, kita tetap bukan kekasih. Meski kamu pun mencintaiku.

Entahlah, itu pun tampak wajar saja di mataku. Asal aku mencintaimu.

Ah, di luar hujan lagi, tapi surat ini baru separuh jalan kutulis untukmu. Mau kah kamu menunggu sejenak, aku harus menggantung teru-teru bozu di jendela, biar hujan ini segera reda. Aku tidak ingin menulis surat cinta yang menyenangkan ini dalam suasana abu-abu. Kamu pun tahu aku orang yang penuh dengan warna jingga kemilau senja.

Nah, benda itu kini sudah menggantung di jendela. Kini aku bisa melanjutkan surat cintaku untukmu.

Ya, semua itu mekar cukup lama. Lama dan indah. Dan tidak sadar kah kamu ini sudah bulan januari lagi? Sudah setahun berlalu sejak kita bertemu. Kamu masih tetap sosok yang sama. Hidung yang mancung indah, sepasang mata yang tak pernah redup, alis yang melengkung sempurna, dan rambut yang acak-acakan. Kamu masih tetap sama. Bahkan kini lebih tampan.

Ah, minggu lalu kita ke kebun binatang berdua. Aku ingin menengok tapir. Dan kamu bilang kamu ingin naik gajah. Tapi kita akhirnya hanya duduk di pinggir kolam besar, berpiknik berdua, bercerita panjang lebar, lalu kamu membelai rambutku yang hanya sebahu. Katamu rambutku bagus. Tenang saja, aku hanya pakai sampo kok, kayak yang di iklan itu.

Lalu kamu pelan membelai wajahku yang berpipi penuh. Kamu mengusap pipiku pertahan, lalu kelopak mataku, lalu daguku. Kukira kamu ingin menciumku, karena jika kamu lakukan aku akan memukulmu pelan. Tapi tidak kamu lakukan. Kita hanya bertatap lama. Sangat lama.

Hingga aku tersadar, ternyata matamu begitu dalam. Amat sangat dalam.

Dalam binar itu, aku menemukan sesuatu yang tidak pernah kupikirkan. Ya, kita memang bukan kekasih, tapi itu menyakitiku lebih dalam. Ya, bukan berarti itu juga salahmu. Tidak. Aku tidak mengatakan itu kesalahanmu. Hanya saja, caramu memberitahuku menyakitiku. Kamu membuatku menyadarinya sendiri, bukan karena kamu yang mengatakannya.

Kamu tidak lupa kan apa yang terjadi setelahnya? Kita pulang bersama, kita mampir ke cafe yang sama dengan yang kita datangi pertama dulu. Kita berbincang dengan serius. Kita bahkan tidak menyinggung tapir dan gajah yang minggu sebelumnya mendominasi percakapan kita. Kita bicara tentang hubungan kita. Untuk bertama kalinya sejak kita mulai berhubungan.

Ah, besok tanggal itu! Tanggal kita bertemu di dalam toko buku.

Ya, aku harus buru-buru menyelesaikan surat ini.

Maafkan aku, karena tidak menghubungimu selama seminggu ini. Aku sedang berpikir tentang cintaku padamu. Ya, aku ternyata tidak tahu cinta itu seperti apa. Ternyata itu bukan sekedar ngobrol berdua, membaca buku yang sama, bergandengan tangan, ke cafe, melihat tapir dan gajah, atau bahkan berciuman. Ternyata itu tidak sederhana.

Satu kesimpulanku, ternyata dugaanku dulu benar, cinta itu menyakitkan.

Kamu tahu mengapa?

Karena telah kutemukan ruang kosong dalam tatap matamu yang dalam. Rongga besar yang telah ada sejak kita bertemu pertama. Tidak. Aku tidak akan pernah bisa memenuhinya dengan diriku sendiri.

Tapi sekali lagi kutegaskan. Aku tidak ingin surat ini berakhir dengan suasana abu-abu. Aku sedang bahagia. Tidak kah kau lihat tulisanku yang rapi dan tanpa bercak air mata?

Ya, aku telah menerimamu dengan segenap hatiku. Aku tidak menyangkal lubang hitam dalam tatapmu. Aku tidak menyangkal masa lalumu. Aku tidak menyangkal apapun tentangmu.

Terserah padamu kapan kamu akan berpaling atau tetap. Kini aku tidak peduli.

Aku sudah cukup memahami cinta. Dan aku mencintaimu.

Tidakkah surat ini ingin kamu balas setelah seminggu kita tidak berhubungan? Tidak perlu bersusah payah, aku mengirimkan serta satu rim kertas untuk kau kirimkan kembali padaku. Itu pun lengkap dengan tinta segala warna.

Aku mencintaimu.

wordsflow