Curhat

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ini semacam sesuatu yang tidak penting untuk dituliskan. Namun saya sedang tidak berminat untuk menulis di buku, lebih karena mengetik terasa lebih menyenangkan. Mendengar suara keyboard yang beradu dengan tangan itu sangat menarik.

Ya, saya sedang punya perasaan aneh tentang sekeliling saya. Entahlah. Itu semacam perasaan terbuang yang sekali lagi saya rasakan setelah lama pudar. Bukan berarti saya sebegitu lemah hingga mampu terintimidasi dengan kondisi sekitar saya. Tapi ini lebih karena semacam perasaan tersudut karena melawan. Seberapapun saya berusaha untuk menepis semua perasaan itu, saya malah semakin tidak bisa melupakannya. Rasanya menyebalkan karena akhirnya tetap kalah dengan diri saya sendiri.

Saya membenci bagian yang membuat saya harus merasa kesal pada diri saya sendiri. Saya membenci bagian yang membuat saya harus mengingat kelanjutan pemikiran buruk tentang banyak hal.

Lebih jauh, jika saya tidak bisa menemukan media untuk meredam semua perasaan itu atau sesuatu yang bisa membuat saya lupa tentangnya, saya akan sekali lagi menempatkan beberapa orang di kotak pikiran saya dengan label: ‘menyebalkan’. Dan sekali lagi, entah kapan kotak itu baru bisa larut bersama cairan pemikiran saya yang terlalu asam.

Saya tidak menginginkannya untuk terjadi. Tapi menjadi orang yang bisa mengingat segala kejadian dengan cukup detil membuat saya dengan sendirinya tertempa untuk bisa mengingat banyak hal. Termasuk kejadian-kejadian yang menyakiti saya.

Sayang sekali, manusia tidak bisa mengontrol perasaan sesuai dengan keinginannya sendiri. Ada variabel lain yang bermain di sana selain pikiran kita yang memang mendominasi semua bagian tubuh. Dan begitu lah. Saya pun sedang berusaha untuk menyampaikan ke sekeliling saya tentang hal ini. Bukankah semua orang takut dibenci? Dan saya pun takut membenci.

wordsflow