Sedikit Bicara tentang Pemilu

by nuzuli ziadatun ni'mah


Bicara mengenai Pemilihan Presiden yang akan datang pada tanggal 9 Juli nanti, saya sedikit ingin berkomentar mengenai berita yang belakangan semakin gencar dibicarakan. Jujur saja, meski saya penasaran, saya agaknya cukup gerah dengan banyaknya sindiran dari masing-masing tim pendukung calon presiden. Bukan lantaran saya telah menentukan pilihan pada salah satu calon, tapi lebih karena menurut saya itu sama sekali tidak etis untuk dilakukan. Apalagi ini yang sedang diperebutkan adalah jabatan Presiden. Jabatan tertinggi di negeri ini!

Jika cara memperebutkannya saja dengan cara yang tidak baik begitu, bagaimana nanti jika sudah menjadi presiden? Oke lah jika memang begitu cara berpolitik, bukan hanya di Indonesia, namun di seluruh dunia. Namun saya rasa, sesuatu yang dilakukan dengan sehat akan menghasilkan sesuatu yang baik juga.

Saya rasa bullshit juga jika para calon membicarakan kejujuran, namun masih menggunakan cara-cara yang mengaburkan fakta. Entah itu relawannya atau memang tim sukses calon presiden tersebut, saya rasa tim pemenangan calon seharusnya menegur mereka yang tidak baik dalam berkampanye. Pun demikian dengan Banwaslu kita.

Entahlah, sayang saja jika akhirnya masyarakat yang memang tidak pernah kenal sebelumnya dengan para calon presiden ini, akhirnya termakan oleh berita bohong dan keliru. Mereka kemudian ikut menjatuhkan calon presiden lain.

Saya setuju dengan ucapannya Pak Anies Baswedan, bahwa lawan main itu bukan musuh, namun teman main. Begitu pula dengan semua jenis lawan yang lain.

Buat saya sendiri, lawan adalah teman dalam persaingan.

Saya juga tahu bahwa mengurus orang itu memang tidak mudah, dan ada terlalu banyak kepala. Apalagi jika hubungannya dengan mendukung satu kubu atau kubu lain. Lihat saja setiap pertandingan bola nasional. Bagaimana mereka pada akhirnya berakhir dengan pertikaian antar kelompok. Jika dari pemimpin tertinggi negeri ini aja telah mengajarkan untuk berbuat curang, bagaimana mental anak bangsa menjadi semakin baik? Masih jauh bahkan untuk sekedar berharap.

Masyarakat juga seharusnya mulai belajar untuk menjadi pemilih cerdas. Bukan lantas dengan melihat siapa yang lebih banyak pendukungnya. Atau dengan melihat agama apa yang sedang mendukung presiden ini atau itu. Tapi lihatlah lebih jauh lagi, karena kebesaran seseorang hanya dapat dilihat dari jarak yang jauh. Semakin kita ingin mendekatinya, akan semakin kabur dirinya di hadapan kita. Jadi mungkin dengan tetap menjadi pihak yang netral dalam memandang mereka, kita akan semakin lebih baik lagi dalam menentukan pilihan kita ke depannya.

Lantas, apa selanjutnya?

Mereka yang telah bisa membedakan mana yang sehat dan mana langkah yang sakit seharusnya turut memberikan pendidikan politik untuk orang-orang di sekitar mereka, dan keluarga adalah yang paling dekat. Bukan dengan mengajak mereka untuk mendukung calon presiden yang kita dukung, namun dengan memberi pengertian bahwa memilih seorang calon bukan karena dia didukung oleh tokoh ini atau tokoh itu. Menentukan calon presiden adalah dengan melihat secara sungguh-sungguh, akankah kita nanti mau dan bisa berlapang dada menerima seseorang sebagai pemimpin kita selama 5 tahun mendatang?

Mungkin saya memang apatis pada pemilu sebelumnya, sungguh karena memang saya tidak mengenal siapapun, dan saya rasa siapapun yang terpilih, legislatif lebih bersifat forum, sehingga meski suara wakil kita memang bermanfaat, namun tidak akan sefatal itu. Artinya, saya percaya akan selalu ada orang baik lain dalam forum itu yang akan menjadi pihak yang selalu membela kepentingan rakyat Indonesia.

Beda kasusnya dengan pemilihan presiden. Ya, saya akan memilih bulan Juli nanti. Tapi saya tidak ingin ikut berdebat tentang memilih ini atau itu. Biarkan saya saja yang tahu pilihannya.

Dan untuk mereka yang masih terus berdebat dengan segala keyakinannya, semoga kalian menjadi pendebat yang sehat dan jujur.

wordsflow