Semacam Bentuk Kekecewaan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sebenarnya saya ingin menulis tentang perjalanan saya ke Merbabu kemarin. Tapi saya akhirnya memutuskan untuk menunda tulisan itu dulu, karena belum ada fotonya. Hehehe….

Nah, bicara tentang judul tulisan ini, saya ingin cerita tentang beberapa hal yang sedang terjadi di sekitar saya, terutama yang berkaitan dengan organisasi saya. Ya, anggap saja ini semacam protes tertulis, karena saya tidak ahli dalam berbicara, jadi mungkin saya akan lebih nyaman jika dapat menyampaikan pendapat lewat sebuah tulisan.

Baru-baru ini organisasi saya sedang melaksanakan program Pendidikan Lanjut. Itu semacam kegiatan pendidikan untuk mengenalkan anggota baru tentang wilayah mainnya dan teknik-teknik yang berkaitan dengan kegiatan mereka. Selain itu, diajak pula untuk bisa berkegiatan dengan mengikuti etika, norma, dan bertanggungjawab. Secara teori itu memang dapat dilaksanakan secara teratur dan terstruktur dengan baik. Namun, pada implementasi lapanganya, jelas bakal ada banyak hal yang akhirnya menjadi hambatan.

Mungkin bisa dikatakan bahwa tidak sewajarnya saya menuliskan ini di sini. Tapi lagi-lagi, saya menganggap bahwa kepemilikan blog ini adalah mutlak, dan jika saya menulis di sini, anggaplah saya memang ingin beberapa orang ikut membacanya. Begitu lah ya mungkin pernyataan pembelaan dari saya.

Apa yang ingin saya kritisi?

1. Pendidikan kritis yang ingin diterapkan.

Saya rasa, jika memang ingin menerapkan pendidikan kritis, sedari awal memang tim pengajar adalah orang-orang yang terpilih. Artinya memang setiap divisi yang akan melaksanakan pendidikan tidak boleh menunjuk sembarang anggota di divisinya untuk menjadi staff pengajar. Spesifikasi pengajar juga harus benar-benar disosialisasikan dan tertib dilaksanakan oleh masing-masing divisi dengan penunjukan dari bidang pendidikan.

Bisa dibilang saya juga cukup paham dengan sistem yang sudah diterapkan, dan alasan-alasan mengapa akhirnya apa yang saya katakan tidak dilaksanakan. Tapi sepengetahuan saya, memang sistem pendidikan yang demikian tidak pernah sekali pun disinggung sebelum pelaksanaan pendidikan. Jadi saya semacam kecewa karena ini dibahas di belakang, setelah pendidikan lanjut itu telah berlangsung hampir secara keseluruhan.

2. Tidak semua hambatan itu sama.

Yang saya lihat dari divisi saya, adalah ketimpangan passion dari masing-masing anggota divisi, yang akhirnya mempengaruhi kinerja divisi itu sendiri. Selama ini banyak yang mengembar-gemborkan visi sebuah divisi, tapi kalau menurut saya, sebenarnya yang menjadi masalah adalah, setiap anggota divisi tidak pernah menyadari passion mereka dan apa yang ingin mereka capai dari sana. Akhirnya divisi hanya sebuah identitas belaka, sedangkan hati mereka tidak ada di sana.

Setalahnya, mau sampai kapanpun juga, pertanyaan filosofis mengenai ‘ngapain kamu naik gunung?’ atau ‘ngapain kamu ngarung?’ itu tidak akan pernah terjawab karena tidak ada yang berusaha mengenali passion mereka masing-masing. Dan menurut saya juga, bukan masalah siapa yang bertanggungjawab atas miss itu, tapi lebih kepada seberapa besar seseorang itu ingin meraup pengetahuan. Dengan demikian, kita akhirnya kembali ke hal yang paling mendasar, bahwa pengetahuan itu baru bisa diserap dan dipahami dengan baik karena sebuah keingintahuan. Jika pengajar tidak dapat memunculkan ‘keingintahuan’ itu dari diri anak didik, mungkin bisa dikatakan dia gagal.

Dan saya gagal dalam hal ini.

3. Sistem pendidikan

Saya pernah memiliki sebuah konsep tentang pendidikan lanjut. Dalam bayangan saya tentang badan khusus pendidikan, seharusnya mereka adalah forum yang bekerja secara bersama-sama. Artinya bahwa di sana bukan gabungan antar manusia yang ahli dalam bidang divisinya, namun lebih dari itu, adalah orang-orang yang memahami bagaimana sistem kerja divisi lain. Dengan demikian, akhirnya bukan hanya satu orang saja yang memegang kendali satu divisi, namun secara keseluruhan masing-masing orang di sana akan bertanggungjawab atas setiap hal yang terjadi dalam divisi tersebut.

Lalu setelahnya, pendidikan lanjut secara keseluruhan akan dapat diterapkan. Pendidikan lanjut yang sifatnya terbuka bagi semua anggota. Pendidikan yang memang bukan saja dikhususnya untuk mereka yang memang belum pernah mengenyamnya sama sekali, tapi pendidikan yang memang diperuntukkan kepada mereka yang ingin memperolehnya dengan sadar.

Mungkin ini tampak sangat tidak mungkin terjadi. Namun saya masih punya semacam impian bahwa suatu hari akan ada seseorang yang berhasil menerapkan ide ini. Entah siapa pun itu.

Secara singkat, itu bentuk kekecewaan saya terhadap organisasi saya, meski akhirnya itu pun tidak secara langsung mempengaruhi kinerja saya. Namun, semacam ada ‘dosa’ yang selalu saya pendam, hingga akhirnya saya menghadapi banyak opini dengan sinisme dan tidak acuh. Saya rasa, saya masih cukup sehat dengan mengungkapkan ini lewat tulisan.

Itu satu.

Yang kedua, saya juga punya kekecewaan terhadap birokrasi yang disyaratkan oleh pihak universitas di tempat saya belajar. Ini juga masih berhubungan dengan organisasi.

Jadi, ada semacam forum pengajuan program kerja setiap tahunnya dari organisasi se-fakultas. Dari sana, maka akan ditetapkan jumlah dana yang bisa didapatkan oleh masing-masing organisasi. Yah, secara umum, saya masih menganggap jika banyak organisasi masih tidak cukup bijak dalam mengajukan program kerja yang ingin didanai oleh universitas. Itu yang saya sayangkan. Pada akhirnya, terlalu banyak program kerja yang sebenarnya bisa diurus tanpa dana itu. Mungkin jika bisa mengalokasikan dana itu untuk sesuatu yang lebih besar dan lebih tampak, akan lebih baik.

Lalu, di pertengahan kepengurusan ini tetiba ada perubahan birokrasi dari pihak universitas, sesuai dengan himbauan badan yang lebih tinggi lagi. Akhirnya kami yang ada di bawah harus juga mengikuti itu. Disepakati kemudian, bahwa setiap program kerja harus selesai dalam waktu 1 bulan.

Lalu, bagaimana dengan program kerja yang pelaksanaannya lebih dari itu? 

Ya sudah, mau nggak mau dalam satu bulan itu harus sudah memasukkan laporan pertanggungjawaban.

Saya rasa itu semacam pembodohan ke mahasiswa, karena dalam birokrasi, kita sama-sama mengenal tentang proposal. Proposal juga kan tercantum di dalamnya semua hal yang berhubungan dengan kegiatan, baik dana maupun waktu pelaksanaannya. Itu sangat tidak realistis jika alasannya bahwa pelaporan dana harus sesuai dengan dana yang dikeluarkan bulan sebelumnya. Lagi-lagi, saya mengerti tentang hal itu. Tapi itu justru membuktikan bahwa negara ini tidak paham dengan sistem proposal. Jika proposal itu ada, seharusnya tidak begitu caranya. Itu sama saja dengan mengajarkan mahasiswanya untuk terus menipu dan berbohong.

Lantas, jika institusi pendidikan saja melakukannya, bagaimana nanti jika para peserta didik ini menjadi orang-orang di pemerintahan? Itu tak ubahnya mencerdaskan anak bangsa melalui tipu daya.

wordsflow