Contra

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya tidak paham. Lagi-lagi saya gagal memahami banyak hal.

Saya gagal memahami orang-orang di sekeliling saya. Gagal memahami ide-ide yang bertebaran di sekeliling saya. Gagal menata setiap tatanan yang seharusnya pada tempatnya. Gagal dalam memahami pemikiran-pemikiran para pemikir besar. Saya bahkan gagal dalam memimpin diri saya sendiri.

Selama ini saya tidak pernah sungguh-sungguh berpegang pada sesuatu. Tidak pada sebuah pemikiran, sebuah ideologi, seorang tokoh, atau pada sesosok wujud nyata di hadapan saya. Bahkan itu tidak saya lakukan pada keluarga saya. Saya tidak pernah mengungkapkan pemikiran saya pada ibu saya, bahkan pada ayah saya yang seharusnya bisa begitu cocok dengan saya.

Ya, pada tahap ini saya gagal memahami diri saya yang tidak pernah bisa menaruh rasa percaya pada apapun juga.

Bisa saja saya katakan bahwa saya tidak pernah terlalu begitu disakiti seperti beberapa orang di sekeliling saya, tapi saya selalu merasa terasing, di mana pun juga, kapan pun juga. Hingga rasanya begitu menyesakkan dan menyebalkan. Karena ketika itu saya akan mulai menyalahkan diri saya sendiri. Mungkin juga menyalahkan Tuhan, atau menyalahkan keberadaan saya kala itu. Dan meski saya tidak bisa menepis perasaan itu, sejujurnya saya sangat membencinya.

Saya tidak sedang mengasihani diri, karena saya tahu saya kuat. Saya orang yang tidak mudah tumbang, meski dengan tertatih dan begitu perlahan saya bangkit melangkah. Tidak, saya membenci kelemahan, saya selalu ingin menjadi orang yang cukup kuat untuk menahan apapun yang menghantam saya.

Sayangnya, saya selalu gagal dalam memahami banyak hal. Sehingga apa yang saya lakukan tidak pernah bisa sejalan dengan yang sungguh-sungguh saya pikirkan. Konsep yang saya ciptakan selalu hanya membusuk di pikiran karena saya selalu gagal menyampaian. Dalam masa itu, akhirnya saya mulai menyalahkan lingkungan saya yang saya anggap gagal memahami pemikiran saya.

Disanalah kegagalan saya yang sesungguhnya berada. Kegagalan saya akan pengendalian dan penerimaan.

Belakangan, saya mulai menyadari bagaimana semua itu bermula.

Sebagai keluarga yang hidup di desa dengan segala bentuk norma dan nilai-nilai yang tetap terjaga dengan baik, sejak kecil saya telah diperkenalkan dengan banyak hal yang ‘baik’ dan ‘buruk’. Saat kecil, saya selalu didikte tentang mana yang harus dan tidak boleh saya lalukan. Apalagi keluarga saya dari nenek saya adalah pengajar, entah pendidik atau bukan, karena saya pun belum pernah sungguh-sungguh melihat cara orang tua saya mengajar di sekolah. Saat saya kecil, memanjat pohon itu salah untuk perempuan, saya dengan ketat dilarang, meski ayah saya justru mengajarkannya. Berenang di kali itu buruk, meski sewaktu pulang ayah saya diam saja.

Bentuk diam itu, kemudian saya artikan sebagai bentuk emosi ayah saya selain ekspresi lucu. Hingga tanpa sadar saya telah membentuk persepsi ketakutan dalam diri saya. Bahwa ayah saya secara tidak langsung mendidik saya dengan rasa takut. Rasa takut yang akhirnya membuat saya memandang segalanya lebih dengan rasa tidak percaya dan skeptis.

Lantas apa setelah semua ini saya sadari?

Tidak ada yang serta merta berubah dengan drastis. Saya masih dihantui banyak jenis kekhawatiran dan keresahan. Saya masih terus merasa gagal tanpa pernah berhasil berusaha untuk memperbaiki. Hanya satu yang bisa saya yakini, bahwa saya masih tetap kuat dengan kesendirian saya tanpa pegangan.

Perasaan kuat itu, entah bagaimana telah menstimulasi saya hingga saya tetap bisa bertahan, bahkan di lingkungan yang terkadang saya benci, di lingkungan yang membuat saya merasa tersakiti. Semua itu saya anggap impas karena saya butuh menempa diri menjadi orang yang kuat.

Bukan lantaran agar saya bisa mengalahkan mereka yang ‘lemah’. Tidak, itu lebih karena dengan menyadari bahwa saya orang yang kuat, saya merasa aman dengan apapun yang terjadi di sekeliling saya. Meski resah, namun saya akan tetap bisa menerima keresahan itu.

Saya tahu, apa yang akhirnya membuat saya bahkan merasa asing dalam keluarga saya.

Pada usia SMP, saya telah terlalu sering tidak berada di rumah dan mengenal orang baru di luar rumah. Bertemu dengan lebih banyak orang dan mulai menyadari betapa luas kah pemikiran itu bisa berkembang. Saya mulai mempertanyakan beberapa hal yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan. Lalu SMA akhirnya saya sungguh-sungguh pergi dari rumah dan memilih untuk tinggal di asrama yang sesungguhnya asing bagi saya. Umur yang begitu sempurna untuk mulai menempa diri, saya pakai untuk bertemu dengan lebih banyak orang, lebih banyak konflik, lebih banyak pemikiran.

Dan sayang sekali, tidak ada pendampingan dari orang yang saya harapkan; ayah saya.

Hingga kemudian saya pernah tumbuh menjadi orang yang sangat ‘baik’. Tidak menyontek, tidak membolos, tidak berbuat nakal, mengantongi nilai sempurna, dan menghabiskan 15 jam hidup saya dalam sehari untuk belajar.

Belakangan saya menyadari, seharusnya ketika itu ada lebih banyak hal yang seharusnya mulai saya perhatikan. Yang entah mengapa baru saya dapatkan ketika kuliah.

Ketika bangku kuliah akhirnya saya duduki, saya bertemu lebih banyak orang, lebih banyak lagi hal yang saya pikirkan dan pertanyakan, saya sudah merasa begitu jauh dari ayah saya. Saya merasa sudah terlalu asing di mata saya, meski saya yakin tidak demikian dengannya. Saya bahkan merasa terlalu dewasa untuk sekedar bercerita tentang kehidupan pribadi saya. Saya tidak banyak berbincang tentang konflik apapun yang sedang saya alami. Tidak satu pun keluarga saya tahu tentang itu.

Terkadang saya bahkan terhimpit dari dua sisi. Dari keluarga saya yang tidak bisa menerima penjelasan saya, dan dari lingkungan berkegiatan saya yang menekan. Dan ya, itu pernah membuat saya patah, namun tetap kembali berdiri, dan bahkan berjalan.

what doesn’t kill you make you stronger, right?

Kini saya hanya menjadi orang yang mengais pedoman dan pegangan dari mereka yang menumpahkannya di jalan. Saya mengumpulkan itu, agar nantinya saya bisa yakin, bahwa ada orang-orang yang memang layak untuk saya percayai.

wordsflow