Jalan-Jalan Rabu

by nuzuli ziadatun ni'mah


BOROBUDUR!

Ini trip hari Rabu minggu kemarin. Berarti itu tepat seminggu yang lalu saya lakukan bersama Awang.

Dibandingkan berberapa trip saya sebelumnya ke Borobudur, bisa dibilang ini trip yang paling saya nikmati. Mungkin karena saya hanya berdua, atau mungkin karena saya akhirnya telah menyimpan kekaguman baru pada Candi Bodobudur.

Bermodalkan keinginan untuk masuk ke Museum Kapal Samudraraksa yang ada di dalam kompleks candi, akhirnya saya masuk ke kompleks itu. Sebagai informasi, pintu masuk ke kompleks candi sudah lebih baik. Pintu masuk yang sebelumnya sudah tidak dipakai, dipindah ke sebelahnya dengan sistem yang lebih baru. Kemudian bangunannya juga dibuat lebih baru dengan bangunan utamanya berbentuk Joglo. Sistem tiketing yang diterapkan juga sudah lebih baik meskipun masih belum tertib sana sini.

kartu tanda masuk yang baru, sekarang udah memakai e-tiket

kartu tanda masuk yang baru, sekarang udah memakai e-tiket

Dengan sistem e-tiket yang baru diterapkan, sekarang jadi nggak bisa koleksi tiket masuk Borobudur seperti dulu lagi. Hiks…. Tapi bagian menyenangkannya, akhirnya nggak bakal seribet dulu kalau mau masuk ke kompleks candi. Karena sekarang sistem pembelian tiket untuk rombongan punya prosedurnya sendiri, punya line antriannya sendiri. Ah, ada yang menyedihkan dari penyediaan fasilitas di sana. Nggak ada parkir motor! Jadi kami harus parkir di luar candi, di warung depan kompleks. Yah, alangkah lebih baiknya jika parkiran sebegitu besar diberi satu spot parkir untuk motor dan sepeda. Saya rasa itu tidak akan banyak memakan tempat.

Setelah masuk, kami langsung melihat gajah berkeliaran di halaman. Entah sejak kapan ada, tapi saya baru lihat ada gajah saat itu. Sayang sekali karena akhirnya tidak banyak yang melirik si gajah, dan kebanyakan wisatawan langsung menuju ke bangunan candi nun jauh di sana.

Sebelum naik, ada petugas yang aktif memberitahu pengunjung untuk mampir mengambil kain batik bagi yang sudah 17 tahun ke atas. Tentu saja kami antusias untuk turut memakai. Kata bapaknya, bagi yang laki-laki maka wajib memakai di sebelah kanan, sedangkan wanita di sebelah kiri. Itu dimaksudkan untuk menghormati tata cara pemakaian kain batik.

DSCN0217

ini tulisan yang ada di relief Kamadhatu pojokan kaki candi sebelah tenggara

Kami menemukan ukiran ini di batu relief Kamadhatu. Saya lupa cara bacanya. Yang pasti, waktu itu ada kumpulan wisatawan dari Jepang, dan ada pemandu wisata yang menemani mereka. Kami berdua sedang duduk di tangga yang menuju ke lantai 2, bagian relief Rupadhatu. Sang pemandu wisata tetiba menunjuk bagian batu dan mengatakan sesuatu dalam bahasa Jepang. Sepenangkapan kami dia menceritakan tentang tanda itu dan cara bacanya. Begitu bapaknya pergi kami langsung menuju ke tempat yang ditunjuk dan menemukan ukiran itu di batu.

Mungkin nanti kalian juga akan menemukannya di sana. Dan jangan lupa bertanya atau mencari tahu apakah itu dan apa maknanya.

Setelah puas ngobrol dan nongkrong, kami memutari lantai 2 sesuai dengan arah jarum jam, mencoba mengikuti aturan Pradaksina umat Buddha. Ternyata Candi Borobudur jadi tampak begitu luas jika kita sungguh-sungguh mencoba membaca relief dan mengelilinginya secara penuh pada setiap lantai. Saya juga baru menyadari seberapa detil para pendiri Borobudur mengukir setiap relief yang mereka pasang di sana. Bagaimana cara mereka bisa membuat setiap bagiannya bercerita dan dapat dimengerti. Saya rasa sungguh sayang jika saya baru menyadarinya kala itu.

Bahkan, banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya perhatikan ternyata justru merupakan sesuatu yang sangat menarik. Sayangnya, dalam trip kali ini saya tidak menargetkan untuk mencapai bagian teratas candi karena lagi-lagi, tujuan saya adalah ke museum. Jadi saya hanya mengelilingi relief Kamadhatu dan Rupadhatu.

DSCN0233

ini foto narsis kami yang pertama dengan kamera baru Awang

Di bagian relief Rupadhatu, saya sengaja mencari relief kapal yang banyak dibicarakan orang. Cukup susah ternyata mencari satu bentukan relief di antara begitu banyak. Barulah di lantai dua kami menemukan relief yang dicari.

Relief yang pertama berada di sisi barat bagian kanan jika dilihat dari cara melakukan Pradaksina. Relief yang ini lebih kecil jika dibandingkan dengan relief kapal yang satunya.

DSCN0234

relief kapal di sebelah barat candi

DSCN0238

relief kapal yang di sebelah utara candi

Kedua relief tersebut lah yang kemudian mengilhami Philip Beale, seorang eks-Marinir Angkatan Laut Inggris yang terpesona pada kapal yang ada di relief Candi Borobudur. Akhirnya ia melakukan penelitian terkait kapal tersebut, dan didapat informasi bahwa sejak satu abad sebelum berdirinya candi, kapal itu telah melakukan perjalanan dari Indonesia ke Madagaskar. Jalur pelayarannya dinamakan jalur kayu manis. Maka dari itu, akhirnya Bapak Philip ini mencoba untuk mereka ulang kapal yang dianggap begitu legendaris ini. Pada tahun 2003-2004, akhirnya ekspedisi dilakukan untuk menapaki kembali jalur kayu manis yang dimaksud.

Nah, bagian mirisnya adalah, tidak banyak orang yang tahu tentang museum ini. Bisa dikatakan, saya bahkan tidak pernah tahu ada museum kapal di Borobudur jika bukan karena tugas akhir saya yang membahas tentang museum kapal. Pun, pengunjung yang datang ke museum ini tampak tidak mampu menikmati museum. Mereka hanya lewat, tengok kanan-kiri, komentar, lalu keluar.

Sayang sekali, padahal kapal ini adalah salah satu kapal yang tidak akan pernah lagi dibuat.

Bagian yang mengagumkan juga dari kapalnya, ternyata sebagian dari kapalnya dibuat dengan bambu. Itu sangat menarik, karena dengan material yang demikian, Kapal Samudraraksa akhirnya tetap bisa mengarungi laut hingga Madagaskar, lalu lanjut hingga ke Ghana.

20140604_134919

foto kapal asli yang sudah dimuseumkan

Beginilah bentuk Kapal Samudraraksa yang telah dimuseumkan. Mungkin nanti kalian harus melihat sendiri dan mencermati sendiri kapal ini. Sayangnya ketika kami masuk ke museum, tidak ada petugas yang bisa kami tanyai terkait isi dan museum secara keseluruhan. Padahal menurut saya akan sangat baik jika ada semacam guide khusus museum.

Terakhir, ayuk giatkan jalan-jalan museum dan tempat-tempat belajar lainnya yang lebih menyenangkan.

Selamat berlibur, selamat jalan-jalan…🙂

foto narsis kami sebelum melepas kain batik :)

foto narsis kami sebelum melepas kain batik🙂

wordsflow