Coming Home

by nuzuli ziadatun ni'mah


You will never know what ‘coming home’ is, if you never leave…

Ada seseorang yang pernah mengatakan hal itu pada saya suatu ketika. Namun ketika itu saya tidak terlalu memikirkan terlalu jauh kata-kata itu, sehingga hanya begitu saja tersimpan tanpa saya mencoba untuk mendalami maknanya.

Baru kemudian, saya merasakan sungguh-sungguh apa yang disebut sebagai pulang atau dalam bahasa jawa disebut mulih (pulih). Sehingga kemudian ada hal lain yang bisa membuat kita tahu apakah sebuah rumah yang selama ini kita tinggali adalah rumah yang memang membuatmu merasa ‘pulang’?

Selama perjalanan 10 hari yang saya lakukan kemarin ke Makassar, saya menemukan banyak hal yang selama ini tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Banyak keluarga yang membantu saya dalam perjalanan dan dalam hari-hari saya menjalani kegiatan saya di sana. Banyak orang yang dengan rela hati membagi cerita mereka pada saya, padahal saya bukan saudara, dan bahkan adalah orang asing sesungguhnya.

Perjalanan yang dilakukan seorang diri selalu menjadi sebuah perjalanan yang menyenangkan, karena semua perasaan yang kita rasakan tidak bisa dibagi dengan orang lain. Karena semua yang kita pikirkan hanya bisa dipendam di dalam hati. Karena ketika kita berhadapan dengan jurang yang dalam, kita sendirilah yang menentukan kapan ingin menyeberang atau berbalik arah kembali. Semua ‘kesendirian’ itu mengajarkan pada kita akan ‘keterasingan’.

Kita mungkin punya sekelompok orang yang kita sebut keluarga. Tapi dosen saya pernah bilang, bahwa dalam bahasa Jawa, mulih atau pulang, merupakan kata yang juga dapat diartikan kedalam kata pulih, yaitu memulihkan semua hal yang ada dalam diri kita sebagai individu. Rumah akan bisa mengembalikan semua hal yang terasa ‘habis’ setelah begitu banyak hal yang diperbuat selama ini.

Maka, rumah yang bisa membuat kita selalu merasa hidup kembali adalah rumah yang sesungguhnya, yang dengan demikian membuat kita selalu merasakan apa yang seharusnya kita rasakan ketika kita sudah tidak lagi merasa penuh. Rumah dengan sendiri mengisi semua kekosongan yang kita rasakan sebagai manusia yang memang semu semata karena tidak ada rasa bahagia yang sesungguhnya abadi. Lantas, ketika akhirnya tidak ada tempat yang bisa membuat kita merasakan semua sensasi itu, kita telah kehilangan ‘rumah’ yang sesungguhnya.

Dan disana lah kamu akan merasa asing akan apapun. Kamu kehilangan tempat untuk pulang.

wordsflow