Questions (i)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Selalu ada senja yang sama setiap harinya, setiap bulan, setiap tahun, setiap masa. Senja yang sebetulnya sama saja: matahari yang menuju tepi, menuju ke peraduannya.

Tapi manusia selalu aneh, karena selalu terpesona pada senja, selalu terpesona pada malam, pada pagi buta, dan semua hal yang sebetulnya biasa saja.

Apakah ‘rasa’ itu? Apa ‘perasaan’ itu? Apa ‘pemikiran’ itu?

Semua pertanyaan itu tidak pernah bisa saya temukan jawabannya, bahkan dari para filsuf yang sudah sangat diagung-agungkan orang di sekitar saya. Orang-orang yang selalu dijadikan pedoman dalam pemikiran tentang eksistensi seorang manusia. Sedangkan bagi saya, semuanya masih serba berkabut, saya masih terus tidak mengerti tentang diri saya sendiri. Saya tidak bisa memahami konsep keberadaan dengan cara yang statis, karena semua pertanyaan itu selalu kembali lagi dalam perulangan.

Saya sering membayangkan diri berada di luar diri saya sendiri. Saya sering membayangkan diri saya adalah makhluk lain. Tapi semua itu tidak membawa pencerahan sama sekali. Lagi-lagi saya sampai pada kesimpulan bahwa saya harus mencari seseorang yang bisa membuat saya mengerti tentang keseluruhan diri saya sendiri.

Saya begitu penasaran, mengapa manusia bisa lupa, mengapa manusia bisa memilih sesuatu untuk dikenang, mengapa menusia punya rasa cinta, punya rasa rindu, yang tidak pernah bisa saya nalar. Semua itu hanya semacam sesuatu yang mengambang, dapat dilihat, namun tidak bisa dipelajari dengan detil.

Banyak orang yang tahu bahwa ia merasa cemburu, merasa rindu, merasa marah, merasa senang. Tapi apakah semua ‘merasa’ itu lebih nyata ketimbanng rasa yang sesungguhnya mereka rasakan? Apakah semua itu hanya pemikiran atau memang sesuatu yang lain?

Saya sering berkutat pada pemikiran akan ketiadaan. Jika memang manusia merasa dari apa yang mereka rasakan pada semua inderanya, apa yang akan terjadi jika semua indera itu tidak ada?

Apa yang akan terjadi jika manusia tidak bisa menyentuh, tidak melihat, tidak mendengar, tidak merasakan, dan tidak membaui?

Apakah setelahnya kita masih bisa yakin bahwa kita ada di dunia ini? Bahwa kita sesuatu yang sungguh-sungguh berwujud?

(*)

Saya tidak bisa membayangkan diri saya adalah satu dari anak-anak Palestina yang hidup dalam ketakutan dan maut.

Bagaimana mungkin orang bisa begitu gila untuk mau membunuh manusia lain?

Menyakiti orang lain saja kita tidak berhak. Tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah dari orang lain. Tidak seharusnya kita saling merenggut. Dia yang dihilangkan nyawanya tidaklah lebih buruk dari mereka yang menghilangkan, atau pun sebaliknya. Semuanya adalah manusia, yang mungkin sebenarnya sama-sama tidak paham tentang konsep keseluruhan dunia ini.

Kita hanya beruntung karena hidup di tempat lain, lahir dari rahim ibu yang lain, berada di lingkungan yang lain.

Damailah mereka yang hidupnya terenggut oleh ketidakadilan perang. Dan untuk mereka yang mengelu-elukan keadilan tapi tidak memanusiakan manusia lain, tidak akan lebih baik nasibmu setelah menghilangkan nyawa begitu banyak manusia.

Siapa pun ‘pemenang’ perang, keduanya hanya menyisakan penderitaan

wordsflow