Setelah Membaca Buku

by nuzuli ziadatun ni'mah


Membaca “Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh…” karya Mas Puthut EA membuat saya ingin menulis tentang sesuatu yang selama ini hanya sebatas pikiran semata.

Saya tidak akan banyak berbicara tentang sosialisme, komunisme, liberalisme, nasionalisme, dan semua ‘isme’ itu, karena saya pun tidak cukup paham tentang konsepnya. Takutnya hanya akan berakhir dengan salah kaprah antara saya dan kalian, atau antara penggagas konsep itu dengan saya. Ya begitulah. Anggap saja saya hanya ingin berbicara antar manusia biasa, yang tidak lebih pintar dari Anda sekalian yang nyasar membaca postingan ini.

Ada banyak cerita dalam kumpulan cerpen tersebut. Buat kalian yang ingin membaca topik cukup berat dengan bahasa yang cukup mudah dicerna, sepertinya buku itu cocok untuk dibaca, dan menjadi suntikan ide sebelum menulis sesuatu.

Saya jadi teringat dengan perbincangan yang marak terjadi di lincak selama kira-kira 2 tahunan yang lalu, di mana setiap orang lebih suka berdiskusi ngalor ngidul ketimbang mengurusi timeline facebook, twitter, atau media sosial lainnya. Banyak bahasan yang berhubungan dengan kemanusiaan, kepedulian, lingkungan, pendidikan, dan semua hal yang selama ini menjadi keresahan masing-masing manusia di sini.

Teringat halaman-halaman pertama membaca buku itu, saya kembali teringat orang tua saya.

Entahlah. Bagaimana jika, orangtua ditinggalkan anak-anaknya ketika mereka telah tua? Bagaimana jika anak-anak ini tidak pernah berkunjung? Bagaimana jika mereka tidak akan pernah mendengar kabar anak-anaknya? Bagaimana bahkan, jika suatu ketika justru ada orang lain yang tidak dikenal mengabarkan kematiannya? Bagus jika mayatnya kembali, tapi jika kabar itu bahkan tidak pernah kamu tahu faktanya?

Saya memang belum punya anak, bahkan belum sungguh-sungguh kepikiran untuk punya anak. Tapi beberapa kali dalam seminggu ini saya tidak sengaja membaca banyak artikel tentang hal yang sama. Bahwa masing-masing dari kita tidak selayaknya meninggalkan orang tua kita, apapun kondisinya.

Saya menyadari bahwa terkadang kami tidak sesuara dalam berpendapat, bahkan terkadang sama sekali bertolak belakang. Banyak hal yang saya lakukan tidak disetujui oleh orang tua saya. Dan tidak jarang rasa sayang mereka justru malah ‘mengganggu’ saya. Tapi sungguh, saya harus terus-menerus sadar bahwa saya bukan apapun tanpa mereka. Saya masih terus dihidupi oleh mereka. Ketika saya terluka, mereka selalu bisa ‘menyembuhkan’ saya tanpa melakukan apapun juga. Saya iri pada orang tua saya. Karena mereka bisa mengendalikan saya dengan begitu rupa, sehingga saya harus terus ‘bergantung’ pada mereka.

Ya, saya tidak mandiri sama sekali. Karena saya terlalu lemah sekedar untuk memikirkan momen saya akan kehilangan salah satu atau keduanya, suatu hari nanti.

Meski demikian, godaan menjadi pengelana selalu datang pada saya. Karena saya ingin mencoba menjadi orang yang tidak memiliki apapun, selain kemauan dan usaha. Selain rasa percaya bahwa ada banyak orang di dunia ini yang masih menganggap sesamanya sebagai saudara. Dan itu saya dapatkan dalam perjalanan 10 hari saya dari Jogja-Surabaya-Makassar-Bulukumba-Makassar-Jakarta-Jogja. Semacam perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, sendirian, dan penuh kejutan. Dalam perjalanan itu, saya menemukan keramahan Indonesia yang selama ini tidak pernah dinikmati oleh banyak warganya.

Entah saya yang memang terlalu skeptis atau gimana, tapi jarang sekali saya menemukan orang yang dengan mudah menerima orang lain, yang katanya adalah saudara sebangsa dan setanah air.

Sepertinya orang sekarang lebih mudah curiga…

__ Mas Marga dalam Drama Itu Berkisah Terlalu Jauh…

Ya, mungkin masyarakat terlalu curiga dengan sesamanya. Kebaikan selalu harus dibayar dengan mahal. Tidak ada lagi tolong-menolong dan pinjam-meminjam. Segalanya harus berorientasi pada uang (baca: sewa dan beli). Dan karenanya, saya merasa sangat beruntung karena orang-orang di sekitar saya masih cukup paham bagaimana cara menolong dan membantu orang lain.

Bicara tentang tolong-menolong, saya terkadang tidak tahu harus bagaimana menghadapi para pengemis. Di satu sisi saya merasa malu jika tidak membantu mereka, tapi di satu sisi saya tidak suka dengan caranya. Saya jauh lebih ikhlas jika saya harus membeli sesuatu (yang mungkin tidak cukup berguna) dari seseorang yang menjual dagangan di pinggir jalan. Karena usaha itu ada pada mereka, karena mereka begitu gigih memperjuangkan apa yang ingin mereka dapatkan. Meski mungkin pada akhirnya saya juga membenci mereka yang memperdagangkan tipuan.

Terkadang muncul pemikiran bahwa saya sangat memalukan. Saya mengendarai motor, makan makanan enak, tidur di tempat nyaman, berpakaian bagus, punya banyak barang bagus, bisa membaca segala buku, kuliah, dan semua fasilitas yang saya miliki. Padahal ada orang-orang yang bahkan untuk makan saja susah, untuk berteduh saja tidak bisa. Tapi saya pun tidak tahu harus bagaimana.

Saya tidak mau muluk-muluk bicara ini itu untuk membantu seseorang, karena selama ini semua itu tidak sungguh-sungguh bisa membantu. Saya ingin seperti Romo Mangun yang tinggal langsung dan berbagi dengan mereka. Berbagi dalam hal apapun, ilmu, rezeki, ide, dan semua hal yang dapat dibagi dengan orang lain, bahkan kebahagiaan.

Ini bukan tuntutan atau apapun. Tapi mungkin sebagai sesama manusia, alangkah lebih baik jika kita mulai peduli dengan manusia yang hidup di sekitar kita. Tidak perlu kita pergi jauh-jauh ke Palestina atau ke Suriah. Tidak perlu kita mengumbar kesedihan dan rasa iba tentang mereka. Cukup mulai dari hal yang sederhana untuk membantu sesama. Makan di warung makan lokal, membaca buku dan tulisan tokoh-tokoh Indonesia tentang keresahannya, membeli koran dari orang-orang di pinggir jalan, menonton pertunjukkan seni, datang ke pameran, mendengarkan debat dan bedah buku, turut berdiskusi masalah-masalah umum Indonesia, dan selalu tersenyum pada siapapun yang kamu temui.

Semua usaha sederhana itu akan membawa dampak yang lebih nyata dari pada anti sama sekali terhadap produk luar negeri, karena kamu nggak mungkin bisa. Atau mengumbar rasa iba pada penderitaan warga dunia di belahan lain, padahal kamu tidak pernah membaca koran lokal, tidak pernah tahu masalah sosial yang dihadapi teman sebangkumu, atau semacamnya.

Saya tidak berusaha untuk mengkritik siapapun secara khusus. Anggap saja ini kritik untuk saya pribadi yang selama ini juga tidak cukup peduli.

Ya, ada terlalu banyak hal yang meresahkan di dunia ini, entah itu jauh atau pun dekat dari kita. Ada banyak konsep yang selalu dengan mudah dicap baik atau buruk tanpa menelisik dan menelaahnya lebih dalam. Orang mudah percaya, apalagi pada sesuatu yang dipercaya oleh banyak orang juga. Orang selalu bergerombol dalam memfitnah dan menjelek-jelekkan, tapi takut berdiri sendirian di atas kebenaran yang sesungguhnya. Banyak orang yang lebih percaya pemikirannya sendiri dibandingkan melihat kembali dan mencoba berdialektika dengan lingkungannya.

Pada akhirnya mereka berbondong-bondong menentukan ‘kebenaran’ yang mereka percaya, dan menafikan sebaliknya.

Saya tidak percaya pada hitam dan putih. Saya hanya percaya pada abu-abu, karena kita adalah manusia. Karena hitam dan putih hanya milik Tuhan semata.

wordsflow