Pada Penderitaan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Jujur, jika saya ditanya, saya tidak tahu bagaimana rupa derita, karena secara umum saya tidak pernah merasakannya.

Jika dibandingkan dengan mereka yang pernah hidup dalam perang, dalam pengasingan, dalam ketidakadilan, hidup saya bisa dibilang sangat bahagia, tidak kekurangan apapun. Hanya saja, kini saya yakin pada suatu titik, banyak orang yang menderita yang pernah merasa begitu bahagia, melebihi apa yang pernah saya rasakan dalam hidup saya.

Saya baru saja membaca Kumpulan Cerita-nya Leila S. Chudori yang berjudul Malam Terakhir, yang cukup banyak menceritakan derita dan ketidakadilan yang mungkin pernah terjadi di negeri ini. Tidak jauh beda dengan apa yang dituliskan Puthut EA pada bukunya (yang sudah saya tulis di postingan sebelumnya), semuanya berhubungan dengan rasa kemanusiaan.

Saya tidak pernah mengerti dengan mereka yang mendengungkan keadilan, tapi memperlakukan sesama manusianya dengan cara binatang, dan bahkan lebih buruk dari binatang. Mereka yang membantai atas nama keadilan, hanyalah orang-orang yang lebih buruk dari mereka yang membunuh dengan jujur. Begitu menjijikannya mereka yang bisa menyiksa manusia seakan mereka adalah manusia suci. Sungguh memuakkan.

Ada perang di Gaza, ada banyak yang kehilangan nyawa.

Tapi tidak ada yang bisa saya lakukan di sini. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk mereka.

Saya hanya bisa sebatas membaca berita, ikut menyebarkan ke sekeliling saya yang tidak tahu, lalu sibuk mengutuk di dalam hati. Ya, tidak ada yang lain. Selebihnya saya hanya bisa terus mencari tahu dan hanya bisa merasa kesal.

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Saya tetap yakin, mereka yang ada di Gaza dan Palestina secara umum adalah orang-orang yang tidak pernah kekurangan cinta. Mereka akan tetap tegak, karena ada banyak tangan yang tidak pernah berhenti mendukung mereka, karena ada banyak nyawa yang terus menguatkan mereka.

Jika saya pernah mengatakan bahwa dunia ini milik anak-anak, maka paling tidak berdoalah untuk mereka yang masih belum mengenal dosa. Dan ingatlah jika bisa saja itu terjadi pada orang-orang terdekat kita, keluarga kita, atau teman kita di sekolah.

Kita tidak lah berbeda dengan semua manusia di dunia ini. Kita hanya kebetulan datang ke dunia melalui lorong yang dipilihkan Tuhan. Lalu kenapa harus mengusik orang lain?

Sungguh tidak bisa kah manusia hidup dalam damai? Jika bumi mungkin ditelan matahari, mengapai perdamaian menjadi tidak mungkin? Sungguh tidak bisa kah?

Dalam ketidakmampuan saya berbuat sesuatu yang nyata, mungkin hanya lewat tulisan saya bisa memberikan dukungan. Saya tidak tahu kapan ini akan berakhir, tapi semoga secepatnya. Saya percaya pada teoriĀ mestakung. Dan jika itu sungguh nyata, semoga banyak orang yang mau ikut mewujudkannya.

#SaveGaza #VivaPalestine

wordsflow