Perempuan (i)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Pernah dalam suatu masa saya menggugat dalam pikiran, tentang keberadaan perempuan. Tentang diri kami di mata laki-laki. Mengapa kami selalu tidak pernah bisa setara, bahkan mendekati? Dan dengan demikian, apa yang menjadikan seorang wanita itu istimewa sebagai manusia?

Ah, mungkin ini tidak perlu saya jawab di sini. Cukup di pikirkan di dalam diri kita masing-masing seberapa tinggi wanita itu di mata kita.

Perempuan berasal dari bahasa sanskerta, empu yang berarti yang dimuliakan.

Tapi dalam banyak buku yang saya baca, terutama pada mereka yang condong ke arah feminisme, banyak pengungkapan bentuk perlakuan pada perempuan yang tidak sesuai dengan apa yang mereka katakan tentangnya.

Nawal el Saadawi dalam bukunya ‘Perempuan di Titik Nol’ menceritakan tentang seorang pelacur yang menunggu hukuman mati. Ia menceritakan tentang kisah hidupnya di Kairo dengan semua bentuk perlakuan yang pernah ia terima dari laki-laki yang hidup di sekitarnya.

“Saya tahu bahwa profesi saya telah diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka denga harga tertentu, dan bahwa tubuh paling murah dibayar adalah tubuh sang isteri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang isteri yang diperbudak.”

Saya sedang tidak ingin mereview isi buku itu. Tapi saya sarankan untuk membacanya sendiri, sebelum kita dilarang untuk membaca buku tertentu, atau sebelum buku-buku itu dihancurkan atau ditarik dari edaran. Yah, siapa tahu itu nanti terjadi.

Tidak pula saya ingin mendukung atau menyangkal isi buku. Saya hanya ingin menanggapi sesuai dengan apa yang saya pikirkan.

Sesungguhnya ada banyak orang yang memiliki pemikiran dalam dirinya masing-masing. Bahkan bisa jadi pemikiran mereka bukan sekedar pemikiran dangkal yang tidak pantas untuk diketahui orang lain. Karena saya meyakini, sebenarnya masing-masing orang adalah filsuf, paling tidak untuk diri mereka sendiri.

Dan tentunya saya menyayangkan banyaknya perempuan yang tidak menulis, baik tentang topik perempuan secara umum maupun tentang diri mereka sendiri.

Terkadang saya kesal ketika membaca blog yang hanya menceritakan tentang keluh kesah perempuan tentang hidupnya, terutama yang berhubungan dengan laki-laki. Tapi belakangan saya pun menyadari, bahwa begitu munafiknya saya jika saya membenci itu, karena saya pun banyak menuliskan hal yang sama. Dalam buku diary, dalam blog ini, dalam timeline sosial media saya, dan banyak tempat lainnya. Ya, saya seakan-akan menipu diri.

Lantas, apa yang sebenarnya ingin saya dapatkan dalam semua tulisan itu?

Ada di antaranya yang sungguh-sungguh ingin saya sampaikan kepada seseorang, agar ia tahu, agar ia mengerti bahwa ada orang lain yang begitu menyayanginya dalam bentuk yang saya ungkapkan. Terkadang beberapa tulisan hanya luapan perasaan dalam kesendirian dan keterasingan. Di saat yang lain, saya menulis untuk menggugat manusia-manusia di sekeliling saya. Dan yang lain lagi adalah ekspresi saya dalam (mencoba) menulis karya sastra.

Ini perlu, karena bagi saya, wanita adalah manusia yang tepat untuk mengungkapkan segalanya dalam bentuk tulisan. Karena ekspresi kita lebih mendalam dalam keadaan sunyi dan hening. Karena semua ini menyenangkan, tidak berbatas, dan tidak tergugat.

Ah, kembali ke novel Perempuan di Titik Nol.

Seperti dalam bagian yang saya kutip di atas, perempuan menggugat peran lelaki dalam menciptakan pelacur di dunia ini. Namun selalu, mengapa kami yang selalu dipersalahkan dalam hal ini? Mengapa tidak pernah ada yang mempertanyaan kesucian laki-laki, dan hanya kami yang selalu dituduh dan digugat?

Saya tidak sedang berusaha untuk membenarkan tindakan perempuan yang ingin ‘membalas dendam’ pada lelaki. Justru yang lebih ingin saya katakan adalah,

Hei, jangan hanya memandang dan mempersalahkan perempuan di hadapanmu, berkacalah dan tatap kedalaman matamu sendiri!

Dalam banyak hubungan, bukan hanya perempuan yang mengisi dan mendominasi, bukan pula sang lelaki. Tapi hubungan adalah interaksi mendalam dua individu yang seharusnya setara dan sebanding, karena jika tidak maka akan ada pihak yang terluka dan tersakiti. Sayangnya, kesadaran akan itu selalu saja ditutupi dengan keangkuhan dan kesombongan untuk tidak mau merendahkan diri satu sama lain. Jika hubungan dimaknakan seperti itu, maka semuanya hanya akan menjadi luka semata, hanya menjadi sesuatu yang tertanam dalam pikiran. Hanya berakhir dengan tuntutan.

Belakangan, setelah membaca novel itu, membaca banyak cerpen, mendengar cerita orang lain, dan juga menganalisa secara pribadi lingkungan di sekitar saya, saya merasa lebih bisa menghargai mereka yang melacurkan diri. Bahkan dalam Supernova karya Dewi Lestari pun, ada orang yang demikian, tentunya dengan pemikiran yang ia bawa.

Tapi tidak, saya sedang tidak mendukung tindakan pelacuran, atau semua hal yang sejenisnya. Saya punya pemikiran tersendiri tentang semua itu, terutama menyangkut diri saya sendiri.

Hanya saja, lagi-lagi saya ingin menyampaikan pada Anda sekalian, untuk tetap menjadi manusia yang bisa melihat lebih peka dan lebih kritis terhadap segala sesuatu. Saya juga bukan orang yang bebas dari kesalahan dari penghakiman terhadap mereka yang dicap buruk oleh masyarakat. Dan terlepas dari nilai-nilai agama yang selama ini dijunjung tinggi di negara ini, saya merasa pelacur tidak lebih buruk dari mereka yang mencaci tanpa mengevaluasi diri sendiri.

Ya, baik secara langsung maupun tidak, kita juga turut menjerumuskan mereka pada dunia itu. Ketika kita tahu seorang perempuan sudah tidak ‘suci’ lagi, kita ramai-ramai bergunjing dan menyerangnya, sehingga ia akan lebih memilih untuk melanjutkan apa yang sudah ia mulai. Kita beramai-ramai meragukan orang yang ingin kembali ke masyarakat. Kita melarang perempuan yang pernah menjadi pelacur untuk tinggal di lingkungan kita, melarang anak-anak untuk menyapa mereka, dan menganggap mereka adalah penyakit.

Bukankah mereka juga manusia yang juga lahir dari manusia? Bukankah kita sama-sama terdiri dari darah dan dosa?

Kita mengkotak-kotakan segala sesuatu, menyingkirkan yang tidak kita senangi, dan hanya berhubungan dengan mereka yang kita anggap ‘pantas’. Padahal yang mereka sebut pantas itulah yang menghancurkan kemanusiaan sekelilingnya.

Jika memang kita tidak ingin membantu seseorang, maka setidaknya jangan menyakiti mereka.

Semua orang memiliki hak yang sama, hak untuk hidup dengan tenang di dunia ini, karena mereka pun dilahirkan seperti halnya kita. Jika pun ada orang yang merasa lebih tinggi, maka mereka hanya orang-orang yang tidak pernah memandang dunia dengan mata terbuka. Setelahnya, janganlah kita menyakiti orang lain, jika kita tidak juga ingin disakiti oleh orang lain.

Semua tindakan kita adalah yang akan dicatat oleh sekitar kita, dicerna, dan dikembalikan dalam bentuk yang kurang lebih setara. Dan begitu lah semua siklus itu selamanya akan menjadi lingkaran yang tidak akan pernah berakhir.

(*)

Saya menolak segala bentuk pengekangan terhadap keinginan perempuan untuk terus belajar. Saya menolak opini mereka yang mengatakan bahwa tidak selayaknya perempuan mengenyam pendidikan yang terlalu tinggi.

Bagi saya, bahkan seharusnya perempuan yang lebih banyak belajar, lebih banyak membaca, lebih banyak melihat, lebih banyak menganalisa. Karena meskipun tujuan mulia perempuan adalah menjadi seorang istri dan ibu, tapi itu bukanlah hal yang mudah.

Istri, seharusnya menjadi orang pertama yang harus tahu kesulitan suaminya, orang yang bisa mendengar dan memberi pendapat. Dan karenanya, perempuan tidak seharusnya menjadi individu yang biasa saja. Bukan untuk menjadi lebih pintar dan lebih tahu dari laki-laki. Tapi justru untuk memahami pemikiran laki-laki, kita harus bisa melampaui pemikiran itu sendiri.

Menjadi ibu pun bukan perihal gampang. Karena kita adalah pendidik pertama yang akan mengantarkan seorang anak dalam menghadapi lingkungan masyarakatnya. Keluarga adalah lingkup yang paling mikro dalam pendidikan seseorang, dan ibu menjadi tameng yang paling depan dalam menghalau pertanyaan ‘mengapa’ dari seorang anak yang penasaran.

Bukankah pertanyaan kenapa membuat kita menjadi seorang filsuf sejati?

Dan itulah yang dilakukan anak-anak saat mereka kecil. Mereka tidak berhenti untuk bertanya mengapa, mengapa, dan mengapa. Hanya orang yang dengan sombongnya mengatakan bahwa ia telah dewasa yang akan berhenti bertanya ‘mengapa’ dan disanalah ia berhenti belajar. Mungkin juga tidak terkecuali saya sendiri.

Ya, buat saya, tidak lah salah bagi perempuan untuk berusaha mendekati atau bahkan melampaui pengetahuan laki-laki. Yang menjadi kurang tepat adalah ketika kita melupakan tujuan itu dan meninggikan ego kita untuk ‘membalas dendam’ pada laki-laki. Bukan kah pendendam adalah sifat alami perempuan yang tidak bisa dihilangkan?

Ah, tapi mungkin itu akan saya bahas lain kali, karena jika saya teruskan ini akan menjadi postingan yang panjang. Hehehe…

Jadi, selamat malam, selamat kembali ke dunia pikiran…😀

wordsflow