Perempuan (ii)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Kisah tentang perempuan telah ada sejak lama, dalam setiap babad, dalam dongeng, dalam cerita rakyat, bahkan dalam sejarah perang. Perempuan telah memiliki peranan mereka tersendiri dalam membangun cerita tentang dunia.

Laku perempuan sering dipertanyakan, sering kali diragukan, dan dipandang sebelah mata. Padahal perempuan pun adalah manusia yang juga memiliki nilai-nilai yang mereka junjung tinggi, terlepas dari fakta bahwa mereka mampu atau tidak untuk mengendalikan lingkungan di sekelilingnya.

Perempuan sering dianggap sebagai penggoda, padahal menurut saya, itu hanya akal-akalan laki-laki untuk menjerumuskan perempuan agar dicap lebih rendah. Padahal jika kita belajar dari binatang yang juga memiliki hasrat berpasangan, notabene pejantan yang bersolek dan bersaing untuk menarik perhatian betina, bukan sebaliknya.

Bahkan dalam hal wewangian, perempuan dilarang memakainya, sedangkan laki-laki justru disunahkan.

Jadi, mengapa kemudian budaya bersolek itu bergeser ke perempuan?

Saat ini, banyak perempuan yang bersolek untuk menarik laki-laki. Mereka beramai-ramai memakai ini dan itu agar laki-laki yang mereka inginkan mendekati.

Ah, tapi mungkin sebelumnya saya ingin menegaskan bahwa posisi saya tidak berada dalam kelompok ‘mereka’ yang sedang saya bicarakan ini. Bukan lantaran karena saya ingin menyangkal solek-bersolek ini, tapi lebih karena saya merasa pandangan saya tentang laki-laki dan perempuan sedikit berbeda dengan orang-orang di sekeliling saya. Dan sehingga, saya ingin pula memposisikan diri sebagai pengamat.

Kembali ke topik bersolek,

Entah sejak kapan, wanita mulai muncul dengan dandanan yang berlebihan dan memuja perhiasan. Padahal jika saya membaca novel-novel Jane Austen yang memang mengambil setting budaya abad pertengahan, tokoh perempuan yang ia gambarkan selalu merupakan perempuan biasa dan sederhana. Namun ia selalu memiliki keistimewaan bukan karena penampilannya, bukan karena fisik tubuhnya, namun lebih dari itu. Kecerdasan, keluwesan, karakter, dan budi pekertinya yang akhirnya selalu menjadi pokok topik yang diangkat oleh sang pengarang.

Sayangnya hal itu pelan-pelan mulai kita lupakan.

Tidak banyak perempuan yang ingin keluar dan mengabarkan pada dunia bahwa ia adalah perempuan yang memiliki karakter. Jarang ada perempuan yang mau tampil sepenuhnya untuk menyamankan diri sendiri.

Kasarnya, jika kita tengok mall, kita tidak akan dengan mudah menemukan sosok perempuan yang ‘lain’ dibanding perempuan-perempuan lain di sekitarnya. Aura mereka yang istimewa memudar dan menyatu dengan yang lainnya, sehingga kita seakan-akan hanya memandang sekumpulan perempuan, bukan perempuan dengan karakter tertentu. Kita tidak fokus, dan semuanya hanya menjadi tampak biasa saja, tidak ada yang istimewa.

Ini bukan tentang anti-mainstream karena itu sudah merupakan mainstream yang lain.

Tapi yang lebih ingin saya katakan adalah, berhentilah berusaha menyenangkan lingkungan sekitarmu, karena satu-satunya yang penting adalah kesenanganmu, sebelum kesenangan orang lain.

Tidak perlu kita menjadi sama dengan orang-orang di sekeliling kita. Tidak perlu kita merasa salah dalam berpenampilan, karena itu hanya sebuah cap yang tidak seharusnya diletakkan pada individu merdeka. Maka, sepanjang kita bisa mempertanggungjawabkan apa yang kita kenakan pada lingkungan sekitar kita, tidak ada yang salah dalam menjadi diri sendiri, dalam berpenampilan, berprinsip, dan berlaku. Meskipun lagi-lagi saya ingin menekankan, bahwa itu bisa terjadi sepanjang kita dengan sadar bertindak tanpa merugikan dan menyakiti orang lain.

(*)

Perjalanan juga bukan hanya milik laki-laki, karena setiap manusia layak (dan buat saya wajib) untuk melakukan perjalanan sendiri dalam hidup mereka. Bukan agar perempuan menjadi sama dengan laki-laki, namun lebih agar kita menyadari bahwa manusia hidup dan bertanggungjawab atas diri mereka masing-masing.

Dalam kesendirian dan keterasingan, akan ada banyak hal yang bisa kita renungkan dan kita pikirkan kembali. Dan bukan hanya laki-laki yang bisa melakukannya, perempuan pun memiliki kemampuan yang sama dalam memberikan pernilaian pada hidupnya sendiri.

Buat saya pribadi, perjalanan kita saat sendiri adalah bentuk pengabdian diri untuk mengembalikan kesejatian manusia sebagai makhluk individu yang bisa bersosialisasi dan membutuhkan bantuan orang lain. Butuh tidak hanya sekedar kesiapan fisik, namun juga mental yang kuat agar kita tetap terus berjalan dengan tegap dan mampu menghadapi banyak hal nantinya.

Bukankah kita lahir dan mati seorang diri?

Dan karenanya sepantasnya lah kita tidak selalu menggantungkan hidup pada orang lain, karena bukan orang lain yang menjadikan kita hidup, tapi semua itu adalah tanggungjawab kita.

Ah, tapi mungkin perlu juga saya luruskan, bahwa ini bukan seruan untuk melawan laki-laki, bukan juga untuk saling membenci, atau untuk bersaing mendapatkan posisi paling tinggi. Saya hanya semacam ingin memberikan gambaran, bahwa tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi, semua manusia sama adanya. Jika pun ada yang memposisikan diri lebih tinggi dari kita, itu lebih karena kerelaan lingkungan sekitarnya yang menyatakan demikian, secara status. Sekali lagi, itu hanya sebatas status saja.

Karena jika mau kasar, kemampuan kita saat kita tidak memiliki apapun lah yang menjadi tolok ukur derajat kita di lingkungan kita. Tidak ada gunanya ketika kita mengelu-elukan diri kita ketika akhirnya kita tidak bisa melewati banyak hal sendirian. Semua itu hanya akan berakhir dengan omong kosong.

(*)

Terhadap kekerasan yang terjadi pada perempuan, saya tidak akan dengan butanya mendukung mereka tanpa melihat dulu masalahnya. Saya memang mendukung perempuan dalam bertindak sesuai dengan prinsip yang mereka pegang, tapi tidak semua kekerasan terjadi murni karena kesalahan laki-laki. Pada beberapa kasus, mereka tampak menyakiti karena bagaimanapun juga laki-laki lebih kuat dari seorang perempuan. Dan jika ada seorang perempuan diserang, hampir pasti ia akan terluka.

Meski demikian, banyak kekerasan yang terjadi justru muncul dari perempuan karena kata-kata yang mereka ucapkan. Mereka sadar, bahwa kemampuan perempuan untuk saling menyakiti dengan berkata buruk pada satu dan yang lainya akan lebih menyakitkan.

Lantas, salah kah seorang laki-laki melawan?

Tidak. Sama halnya tidak salah jika seseorang tanpa sengaja membunuh karena membela diri, karena bukankah naluri manusia untuk mempertahankan hidup mereka? Yang menjadi kurang tepat adalah ketika emosi akhirnya mengalahkan kasih yang ada pada kita, sehingga kita lupa diri dan memilih untuk saling menyakiti satu sama lain. Padahal menyakiti itu pun menyakitkan, tapi semua itu tetap kita lakukan dalam kebutaan, dalam keterlanjuran.

Lebih dari itu, banyak laki-laki dan perempuan yang tidak saling memahami apa dan siapa kah mereka? Apa yang membedakan seorang perempuan dan laki-laki dalam hidup ini? Karena ‘saling’ yang harusnya ada di antara mereka kemudian disangkal bersama sehingga kini interaksi hanya sebatas egoisme untuk memiliki, bukan untuk mengerti lebih dalam tentang apa yang ada dalam pikiran masing-masing. Dan disanalah reduksi hubungan itu terjadi, sehingga kita akhirnya kembali lagi pada ketidaktahuan dan kebutaan. Masing-masing merasa dirinya adalah orang yang patut diberikan kasih sayang yang lebih tinggi dan dikasihani. Padahal justru itulah awal mula semua perasaan itu menjadi tidak murni lagi.

Ah cinta, lagi-lagi saya tidak bisa berhenti untuk membicarakannya.

Terlepas dari ketidakmampuan saya untuk menjelaskan lebih lanjut tentang rasa dan cinta, saya harap masing-masing dari Anda secara sadar bisa menjelaskan keduanya dalam diri kalian masing-masing.

Mungkin nanti akan bersambung ke postingan selanjutnya..

wordsflow