Mencoba Menuliskan Mengapa Saya tak Seperti Perempuan Pada Umumnya

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada yang mengganggu saya dalam perjalanan saya beberapa malam yang lalu. Ketika itu saya sedang naik motor seorang diri dalam perjalanan melebihi 150 km dari rumah saya ke rumah nenek saya di kaki gunung Merbabu. Dalam perjalanan dan keheningan pikiran, muncul pertanyaan saya.

Apa yang membuat saya berbeda dengan kebanyakan perempuan?

Bukan sesuatu yang cukup memberatkan hati saya. Saya hanya tidak tahu, mengapa saya tak kunjung punya pasangan. Dan pada malam yang sama pula, saya mencoba mengurai kembali, tentang apa yang membedakan saya dari perempuan kebanyakan.

Sebelum saya membahas ke hal-hal yang saya pikirkan seorang diri, mungkin saya ingin membeberkan rujukan saya dalam mengurai kepribadian dan perilaku saya sehari-hari.

Menurut Provoke!, ada beberapa hal yang membuat cewek bernilai lebih (entah sebagai teman atau sebagai pasangan). Apa saja itu?

  1. Ngerti topik pembicaraan cowok

Yang dimaksud di sini adalah paham tentang pembicaraan cowok seputar game dan olah raga atau semua jenis kegemaran cowok. Dalam hal ini saya bisa dengan yakin menjawab bahwa saya punya nilai ‘cukup’ di bagian ini. Bahkan saya belajar game hanya untuk sekedar sejajar dengan cowok.

  1. Bisa nyetir

Saya sendiri selalu merasa bisa nyetir sendiri itu seksi. Entah bagaimana, saya selalu berkeinginan juga untuk menjadi seorang pembalap (salah satu novel saya demikian). Dan kerenanya, saya juga bisa yakin mendapat nilai ‘cukup’ untuk poin ini.

  1. Bisa main musik

Just a little bit. Dan di sini saya sungguh-sungguh ‘tidak mampu’ meski berkeinginan super untuk bisa menguasai gitar dan drum. Itu masih sebatas angan dan keinginan.

  1. Mau diajak susah

Mau kah? Saya mungkin orang yang cukup santai dalam menghadapi hidup, meski saya cukup mempertanyakan banyak hal. Dan dalam hal ini, saya bahkan tak pernah terlalu mempermasalahkan apa yang ada di sekitar saya. Yah, bisa dibilang saya cukup mampu menjadi orang yang mau diajak susah.

  1. Bisa angkat galon sendiri

Ini juga sudah menjadi kebiasaan saya sejak tinggal di asrama. Bisa dibilang juga, saya cukup yakin soal urusan otot saya masih mendapat nilai ‘cukup’.

Sampai sini dulu, saya ingin membahas mengapa saya menuliskan poin-poin di atas sebelum yang lain-lain lagi, dengan topik yang lebih feminine.

Dalam diri saya, sejak kecil telah tumbuh kompetisi sengit antara perempuan dan laki-laki, atau lebih tepatnya saya sebut saya dan kakak laki-laki saya, yang hanya terpaut 2 tahun. Sejak kecil, saya juga selalu dijejali kisah ‘perang kasih sayang’ antara saya dan kakak saya, hingga akhirnya saya ‘terdepak’ ke Embah saya setelah adik saya lahir.

Mungkin bukan saat itu juga saya mempertanyakan keadilan, jauh setelahnya saya baru merasa bahwa saya selalu terkucilkan dalam keluarga (itu terjadi ketika saya SMP, hingga ketika jauh dari keluarga pun saya masih biasa saja). Namun bagaimanapun juga, seorang anak yang tak pernah diperlakukan sama dengan saudaranya ketika kecil, akan dengan mudah menganggap itu adalah kompetisi, dan saya pun melakukannya.

Dalam pikiran kanak-kanak saya, menjadi sama dengan kakak saya akan menaikan ‘peringkat’ saya di mata orang tua saya. Maka ketika itu saya belajar naik sepeda sendiri, membuat layang-layang, membuat kerajinan tangan, ikut pentas tari apa pun, memenangkan lomba apa pun, berusaha juara di kelas mana pun, dan meskipun semua itu berhasil saya peroleh, tidak ada yang berubah dalam perang kasih sayang itu. Lagi-lagi masih kakak saya dan adik perempuan saya yang memenangkannya.

Belum pernah saya mengakui ini pada orang lain. Tapi bahkan semasa saya SD, saya masih lebih bahagia bermain seharian di rumah teman sekelas saya, mendapat kasih sayang dari orang tua mereka, dan saya hanya pulang jika ingin tidur dan hari telah sore. Begitu lah saya ketika masih SD.

Lebih dari itu, tak perlu lah saya menceritakannya, karena lebih baik saya sendiri yang menyimpannya baik-baik. Saya hanya ingin mengambil bagian yang melatarbelakangi saya berperilaku dan menyukai hal-hal secara general.

Lanjut,

Karena semua latar belakang itu, bisa jadi kemudian saya terbiasa bermain dengan teman laki-laki di desa saya dan di sekolah saya. Saya yang serba dibesarkan dengan model kompetisi, menjadi orang yang selalu tidak ingin kalah baik dengan laki-laki maupun perempuan.

Meski kemudian saya menjadi tidak begitu di terima baik di lingkungan anak-anak perempuan, tapi saya mendapatkan kemandirian jauh lebih mudah dibanding dengan perempuan seumuran saya ketika saya masih SMP. Itu juga yang menjadi masa-masa saya tidak percaya pada pertemanan antar perempuan. Karena saat itu juga saya kehilangan rasa percaya bahwa pertemanan antar perempuan itu tulus. Ternyata saya tertipu dengan orang-orang yang saya percayai dengan sangat.

Dan maka, sejak itu saya selalu memilah-milah teman, saya tidak begitu saja percaya pada perempuan lain di sekitar saya. Mungkin itu juga yang membuat saya lebih senang berteman dengan laki-laki. Saya telah terlanjur menganggap bahwa perempuan penuh kepalsuan dan tipu daya. Haha.

Tidak, saya tidak sedang ingin pamer bahwa saya perempuan yang tidak penuh tipu daya. Buat saya sendiri, bagian yang saya tulis di atas adalah salah satu yang pernah saya tangisi dalam hidup saya. Bagian yang pernah membuat saya begitu membenci lingkungan dan bahkan keberadaan diri saya sendiri. Dan bahkan, selalu membuat saya berandai-andai jika saya tidak lahir di keluarga itu.

Dengan latar belakang yang demikian itu, kemudian saya mulai membentuk diri saya menjadi orang yang mandiri, melakukan segalanya selama saya masih mampu, dan tidak bergantung pada orang lain, baik untuk memutuskan maupun untuk menjalani. Saya cenderung menjadi orang sombong dan angkuh, serta merasa bisa membereskan semua masalah seorang diri. Seolah-olah saya lah pusat segala-galanya. Terlebih lagi, di masa itu segala hal yang saya inginkan entah mengapa selalu saya dapatkan. Apapun itu.

Beruntung kemudian, saat kuliah akhirnya saya kembali ke masa mempertanyakan banyak hal. Saya mencoba mendekonstruksi prinsip-prinsip yang telah saya pegang, dan mengurai kembali apa yang telah begitu saya yakini. Saya bertemu dengan banyak orang yang membuat saya tidak tertutup dan melepas gembok pemikiran saya yang sebelumnya telah saya kunci rapat. Saya memulai sekali lagi pencarian saya dalam memahami diri saya sendiri, dalam mencari apa yang saya inginkan dan saya pertanyakan.

Kini, saya menjadi orang yang tidak ingin menjadi apapun. Saya tidak mengejar karir menjadi arsitek, dan karenanya saya tidak berusaha keras untuk itu. Saya membangun pengertian dalam diri saya sendiri tentang laki-laki dan perempuan. Saya menelaah diri saya dalam kepribadian dan penampilan luar. Saya mencoba memanjakan diri saya sendiri dengan mulai menghargai dan merelakan. Dan saya mencoba untuk terus berproses dan tidak membiarkan diri saya terkunci dalam persepsi.

Ya, semua itu saya lakukan untuk memahami mengapa saya menjadi diri saya yang sekarang ini. Saya adalah manusia masa kini, yang tidak terlalu memikirkan masa depan.

Saya lebih tertarik untuk menarik benang merah antara saya dan diri saya di masa lalu. Lebih tertarik untuk terus berusaha mempertanggungjawabkan diri saya yang ada di hari ini. Dan karenanya, hari ini akan selalu lebih berharga dari esok hari.

Bukankah pemikiran tentang masa depan hanya akan berakhir dengan khayalan?

Pada dasarnya, saya lebih cenderung ingin membangun asa dengan memikirkan keberadaan saya di hari ini.

Boyolali, 1 Agustus 2014

wordsflow