Merindu Petualangan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Setiap manusia merindukan perjalanan panjang. Kita selalu merindukan petualangan, entah dalam bentuk yang paling sederhana atau pun perjalanan yang kompleks sekalipun.

Setiap tahunnya selama pekan Lebaran, saya selalu melakukan perjalanan ke rumah nenek buyut saya (almarhumah) di wilayah kaki gunung Merbabu di daerah Salatiga pedesaan. Selalu juga setiap tahunnya saya mendengar dari ibu saya bahwa dulu mereka harus berjalan kaki untuk mencapai rumah nenek kami dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Mereka harus bersusah payah mendaki punggungan dan menyeberang sungai sembari membawa saya dan saudara-saudara saya yang masih kecil dan belum bisa berjalan dengan lancar.

Hingga akhirnya beberapa tahun kemudian saat saya sudah bisa mengingat, telah ada ojek yang menuju ke desa nenek saya. Dan tak lama kemudian pun ada angkutan umum yang melewati sana. Dan sekarang? Ya, semuanya dengan mudah kita temukan di hari ini. Kami bahkan telah berkendara sendiri dari rumah saya di Bantul hingga ke rumah nenek saya.

Sejujurnya, kemudahan akses itu membuat orang menjadi malas melakukan perjalanan panjang. Semua yang serba mudah menjadikan kita lupa akan haus perjalanan panjang yang sejak dahulu dilakukan oleh orang-orang yang lampau. Tidak kah kita begitu malasnya untuk sekedar berjalan saat membutuhkan salah satu bahan masakan ke warung tetangga? Bahkan untuk sesuatu yang hanya berjarak 100 meter, kita harus selalu repot-repot mengeluarkan motor untuk digunakan.

Ya, itulah kita beberapa tahun belakangan ini.

Mungkin jika dipikirkan kembali, ini juga lah yang menjadi alasan saya untuk terus mendaki gunung, dan tidak pernah merasa bosan. Atau tidak hanya sekedar bepergian, namun pergi untuk mencari sesuatu yang baru, yang bukan tentang rutinitas kita sehari-hari, atau sesuatu yang telah dilakukan oleh banyak orang di sekitar saya.

Bahkan mungkin jika semua orang mendaki gunung, bisa dikatakan saya tidak akan keberatan, selama mereka memang masih melakukan perjalanan panjang dalam sebuah pencarian akan sesuatu yang baru dalam hidup mereka. Bukan sekedar naik gunung karena ingin melihat ada apa di titik paling tinggi suatu daratan, atau bukan sekedar untuk pamer kekuatan karena ‘mengalahkan’ alam. Bukankah kita tidak akan pernah menang dari alam barang sejenak saja? Itu semua hanya sebuah ilusi yang semu tentang ambisi kita yang terlalu mentah.

Dalam setiap perjalanan, kita selalu akan merasa haus untuk menemukan sesuatu yang baru yang bisa kita simpan sebagai cerita di sisa hidup kita yang akan datang. Kita selalu ingin setiap hal dalam hidup kita begitu berkesan hingga kita akan selalu bahagia setiap kita berkesempatan untuk menceritakan hal itu kepada anak cucu kita nantinya. Setiap perjalanan panjang kita, kita akan selalu ingat bahwa kita manusia yang memang membutuhkan bukan hanya sekedar kesadaran akan seberapa ‘besar’ kita di dunia ini, namun seberapa banyak hal yang kita tidak tahu tentang dunia ini.

Kita yang dengan sadar tahu bahwa kemampuan kita terbatas. Kita tidak akan pernah sama seperti yang kita inginkan dan kita harapkan akan kita terima. Kita belum tentu akan hidup sesuai dengan angan-angan kita, belum tentu memiliki keluarga kecil yang bahagia, hidup bersama dengan orang yang begitu kita pedulikan selama beberapa tahun hidup kita, atau bahkan meninggal setenang yang kita harapkan. Semua itu tergantung kitab nasib yang telah dituliskan untuk kita. Dan tidak hanya itu, semua itu juga berhubungan dengan seberapa besar penerimaan diri kita akan semua hal yang berhasil kita miliki dan yang tidak dapat kita peroleh.

Ya, hidup kita terbatas pada kemampuan yang kita punyai, dan ketahanan diri yang sanggup untuk menghalau semua cobaan yang akan kita terima dari Tuhan.

Dan mungkin benar, tidak layak bagi kita untuk mengkhianati diri sendiri meskipun kita telah dikhianati dan disakiti oleh orang-orang di sekeliling kita (dikutip dari Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya). Karena pengkhianatan pada diri sendiri rasanya akan lebih menyakitkan meskipun kita akhirnya menemukan kebahagiaan di suatu titik tertentu.

Dan mungkin tanpa pernah kita sadari, suatu ketika kita akan terus menerus merindukan perjalanan panjang yang bisa kita tempuh untuk menciptakan sebuah kisah. Kita akan terus menerus memiliki sesuatu untuk bisa kita ceritakan kepada anak-anak kita nanti. Mungkin juga cerita itu akan tercetak abadi dalam bentuk buku, masuk ke sebuah perpustakaan dan dibaca berulang-ulang dari generasi ke generasi.

Ya, perjalanan panjang itu akan selalu menyenangkan dan membuat kita akan bisa terus menerus mensyukuri hidup kita sebagai manusia. Perjalanan itu akan selalu membuat kita ingat akan batas kemampuan kita, batas ketahanan diri kita dalam menghadapi apapun seorang diri. Dan karenanya, itu wajib dilakukan.

Boyolali, 24 Juli 2014

wordsflow