Random Thought

by nuzuli ziadatun ni'mah


*perenungan dalam perjalanan adalah sesuatu yang selalu menyenangkan untuk dilakukan. Selalu ada sesuatu yang saya temukan selama menempuh perjalanan jauh, terutama yang dilakukan seorang diri.

Beberapa hari yang lalu saya baru berkesempatan membaca sebuah berita dalam majalah mingguan Tempo yang ada di rumah teman saya. Itu berita tentang kerusuhan di Sleman yang mengatasnamakan agama. Saya tidak, sedang berusaha untuk membela salah satu atau apapun, meskipun dalam hati saya punya sikap keberpihakan sendiri. Saya membenci itu, sesuatu yang mengatasnamakan agama tapi tidak berbudaya sesuai dengan ajaran agamanya. Tidak ada seruan kekerasan dalam agama apapun, yang saya tahu hanyalah bahwa setiap agama memerintahkan untuk saling mengasihi antar umat manusia. Memberi sebanyak-banyaknya tanpa mengharapkan balasan apapun dari sesamanya.

Bukankah sebaik-baik manusia adalah manusia yang berguna bagi orang lain?

Itu yang pernah saya tahu, dan orang yang mengaku beragama, tidak pantas untuk membawa-bawa nama agama tertentu dalam kekerasan yang demikian.

*

Selama ini saya menulis bukan sungguh-sungguh untuk memberikan opini atas sesuatu. Terkadang, atau lebih banyak tulisan yang saya tulis di sini adalah sampah belaka. Hanya sebatas upaya untuk membuang buah pikiran yang mengganggu, atau hanya menyalurkan keinginan untuk menuliskan sesuatu yang enak untuk dibaca, bukan lantaran substansinya.

Jadi bisa jadi apa yang saya tulis dulu tidak lagi saya pedulikan saat ini. Bisa jadi apa yang saya tulis kemarin tidak lagi saya percayai di hari ini. Bisa jadi, semua itu kemudian tidak menjadi penting untuk saya lagi.

Hanya saja terkadang semua itu saya rasa perlu untuk saya tuliskan, karena saya orang yang sering lupa dengan apa yang saya percayai. Dan ya, yang lebih penting dari semua itu adalah bahwa saya yakin saya masih akan bisa mempertanggungjawabkan apa yang saya tulis di sini.

*

Saya selama ini tidak terlalu banyak memikirkan dengan serius tentang berkeluarga atau topik sebangsanya. Buat saya membicarakan cinta lebih menyenangkan daripada membicarakan tentang pernikahan. Tapi entah mengapa, semua pemikiran itu lenyap tatkala saya melihat begitu banyak orang bahagia dalam keluarga barunya. Saya merasa ada yang kemudian mengganggu saya dari segi konsep, karena saya tidak memahami semua fenomena itu.

Ya, jelas sekali pernikahan dan cinta punya garis yang berbeda, meski kadang mereka saling bersimpangan, atau tumpang tindih, atau bahkan menyatu. Mungkin seperti jalan raya dan rel kereta.

Tapi terlepas dari apa yang ada di pikiran saya, saya hanya ingin menyatakan bahwa tempat kita berpijak akan selalu membangun persepsi yang berbeda di dalam diri kita. Dan karenanya, bukan saya yang seharusnya membangun persepsi kalian yang membaca di sini, tapi lingkungan kalian lah yang seharusnya kalian ikuti untuk membangun persepi yang positif. Bukan kah bahagia itu tergantung konteksnya juga. Dan maka, tempatkan lah hatimu pada posisi yang benar.

*

Saya kehilangan kepercayaan pada pengertian pendidikan yang sebelumnya saya percayai. Membaca apa yang saya tulis sebelumnya, ditulis oleh teman-teman saya, ditulis di Koran, dan dalam buku, saya semakin yakin bahwa saya sebenarnya tidak tahu apa itu pendidikan.

Sebelumnya selama saya sekolah hingga hari ini, saya yakin saya sekolah untuk menjadi pintar. Sementara sekarang, saya bahkan tidak yakin pintar seperti apakah yang dimaksud oleh orang-orang yang sejak dulu menyuruh saya sekolah.

Yang saya tahu dan pasti bisa dengan yakin saya jawab, adalah bahwa saya suka sekolah. Saya suka belajar, saya suka saat-saat ketika saya berpikir keras, ketika saya memikirkan banyak kemungkinan dan banyak hal, ketika saya berkutat dengan pendapat saya, dan semua hal menyenangkan di sekolah.

Yang saya tahu juga, bahwa saya selalu tidak suka melakukan sesuatu dengan terpaksa. Bahwa saya benci dilarang untuk mencari ‘sesuatu’ dari sumber yang tidak lazim (sebut: novel, komik, dll). Saya benci jika ada orang yang memberitahu saya bahwa ilmu ada di sekolah. Belakangan, saya menyadari bahwa saya bisa belajar di manapun juga semau saya. Dengan sumber apapun juga, selama masih masuk akal untuk saya.

*

Saya tidak tahu, mana kah yang lebih dahulu harus dipenuhi; apakah pendidikan atau rasa kenyang?

Banyak orang yang saya temui di desa adalah orang yang tidak ingin melanjutkan sekolah karena mereka merasa tanpa itupun mereka telah kenyang. Tapi ada juga orang yang dalam kelaparan begitu giat untuk mengenyam pendidikan.

Maka kemudian pertanyaan itu muncul.

Jika kita membiarkan seseorang untuk kelaparan agar mau belajar, sungguh tidak manusiawinya kita. Tapi jika kita membiarkan mereka kenyang untuk kemudian mengajak belajar, mereka telah begitu terlena dengan rasa kenyang.

Dan lantas, bagaimana kita harus mulai bersikap? Saya tidak tahu jawabannya.

Menelusur lebih jauh dalam refleksi diri saya sendiri, ada sesuatu yang bisa mengawali seseorang untuk mulai belajar.

Adalah usia anak-anak, saat kita pertama kali mulai bisa bicara, semua anak memiliki ketertarikan yang sama pada dunia. Semua anak bertanya tentang banyak hal. Semua anak penasaran dengan semua yang mereka temukan. Mereka bertanya apa dan kenapa, dan karenanya, menurut saya mereka adalah filsuf yang paling murni.

Ketika pertanyaan itu tidak mampu dijawab oleh lingkungannya, ketika semua itu tidak mampu dipuaskan oleh siapapun yang mereka temukan, pelan-pelan mereka pun lupa dengan semuanya, hingga akhirnya segalanya menjadi tidak lagi berarti. Di sanalah tahap seleksi awal manusia-manusia itu berhenti untuk mempertanyakan tentang segala hal.

Belakangan juga, bukan lagi keinginan untuk menjadi pintar, menang olimpiade, menciptakan inovasi atau segala hal yang begitu bergengsi yang menjadi motivasi saya untuk terus belajar. Saya lebih menemukan bahwa banyak hal yang saya baca dan saya pelajari adalah upaya saya untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya yang tidak pernah mampu dijawab oleh dosen atau guru atau orangtua saya.

Dan cukup mengejutkan pada awalnya, bahwa sekali lagi saya mengulang masa kanak-kanak dengan bertanya apa dan kenapa.

Pada tahapan ini saya merasa paham alasan mendasar saya untuk terus balajar dan bersekolah, dan bukannya masuk ke kursus dan bekerja, atau langsung menikah dan menjadi ibu rumah tangga.

Bahkan di hari ini, saya ingin meminta ijin orang tua saya untuk membiarkan saya terus membaca hingga saya bosan dan bisa menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan untuk diri saya sendiri.

Ya, meski itu hanya keinginan semu yang tak mungkin saya ucapkan.

Pada akhirnya, saya kini menjadi yakin bahwa hanya dengan terus membaca, melihat, mendengarkan, dan memperhatikan segala sesuatu, maka saya tidak akan tergerus oleh pemahaman palsu yang merusak pemikiran saya.

Dan, bukan untuk sebuah pekerjaan bergaji besar, jabatan tinggi, atau segala sesuatu yang serupa yang seharusnya menjadi alasan kita bersekolah. Adalah penemuan kita akan diri kita sebagai manusia lah yang seharusnya menjadi tujuan. Bahwa keresahan kita sebagai makhluk yang paling bisa berpikir yang seharusnya membuat kita terus belajar dan haus akan ilmu pengetahuan.

Maka, jika pendidikan hanya merupakan pembatasan, untuk apa kita menyebutnya demikian? Bagi saya, pelarangan terhadap seseorang untuk menentukan sesuatu yang harus dipelajari adalah suatu pelanggaran yang paling pribadi pada diri seorang manusia.

Boyolali, 1 Agustus 2014

wordsflow