Recent Thought

by nuzuli ziadatun ni'mah


Menulis di sela-sela penulisan skripsi itu buat saya sesuatu yang cukup menghibur diri.

Lama saya tak menulis di blog ini, dan setiap kali saya mulai menulis lagi, selalu kalimat itu yang muncul untuk saya tuliskan pertama. Ya, memang begitulah manusia, sering mengulang-ulang hal-hal yang menurut mereka diperlukan, meskipun secara sadar ia tahu bahwa orang lain tidak akan mempedulikan.

Apa yang ingin saya tulis?

Masih, saya masih akan terus menulis tentang cinta dan perasaan, karena mungkin untuk sementara bahasan itu lah yang paling membuat saya merasa bahagia.

Begini, belakangan ini saya punya pendapat lain lagi perihal cinta dan perasaan. Entah apapun yang sebelumnya pernah saya keluhkan, anggaplah semua itu bagian dari proses diri saya sendiri, sehingga bukan maksud saya menarik kembali ucapan saya sebelumnya atau apapun, ini hanya sebatas proses. Itu dulu mungkin sebelum kita melanjutkan kembali pembahasannya.

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa, pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu, memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak kemejaku?

Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu, ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra
Lebih dekat

Apakah kau masih akan berkata: “kudengar detak jantungmu”
Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta…

Saya begitu menyukai puisi di atas, amat sangat. Entah karena suasana yang ditimbulkannya, atau karena ia adalah salah satu bagian dari Soe Hok Gie, atau karena mungkin saya pun dapat memaknainya sesuai dengan keadaan saya. Entahlah, yang manapun, buat saya sesungguhnya tidak lah menjadi terlalu penting, karena yang penting adalah saya dapat merasakan perasaan tertentu ketika saya mendengar ini dibacakan.

Saya tersentuh dengan setiap cerita cinta yang diceritakan oleh orang-orang di sekitar saya. Cukup mengherankan mungkin, ketika bahkan saya belum pernah berhubungan dengan lawan jenis seumur hidup saya (baca: pacaran), tapi banyak orang yang pernah membicarakan hal ini dengan saya.

Ya, buat saya yang memang belum pernah pacaran, ada hal-hal yang menurut saya tidak logis dapat dilakukan oleh seseorang yang saling berhubungan. Menurut saya aneh, jika dua orang yang pernah saling mencintai akhirnya berakhir saling membenci. Menurut saya aneh, jika hanya demi berkata bahwa kamu tidak ingin kehilangan teman, maka kamu memilih untuk tidak pacaran.

Hey, cinta itu adalah sesuatu yang menyenangkan, bagaimana pun itu.

Cinta itu sesuatu yang tumbuh bahkan ketika ia dibiarkan tidak tersiram dengan baik dan terawat dengan baik. Yang menjadi salah adalah ketika kita salah memaknai cinta yang tumbuh itu. Bagi saya, bukan cintanya yang salah, karena perasaan itu bukan sesuatu yang bisa dikontrol, karenanya ia tak pernah menjadi salah. Yang akhirnya salah adalah ketika kita salah memaknainya hingga melakukan hal-hal yang akhirnya menyakiti diri sendiri.

Bukankah jika kita sedang jatuh cinta, bagaimana pun kita menghindar, kita akhirnya akan kembali memikirkannya? Yes, because without thinking, it’s already there!

Begitu menyenangkan membahas cinta dan perasaan. Mereka adalah candu yang membuat manusia menjadi lebih manusiawi. Bukankah keduanya adalah hal yang tidak akan pernah dapat dibatasi oleh ruang dan waktu?

Saya tidak akan mendefinisikan cinta di sini, karena itu ada di dalam diri kita sendiri, bagaimana kamu memaknainya. Hanya dengan merasakannya, maka kita akan tahu apa itu cinta. Bukankah jika diucapkan ia menjadi kehilangan keistimewaannya? Untuk itu tak perlu kita bersusah payah menerjemahkan cinta, karena masing-masing dari kita akan mendapatkan maknanya dalam perjalanan yang kita lakukan.

wordsflow